The untitled Short Story

Posted in Uncategorized with tags on February 4, 2014 by Adri Adityo

Written By: Adri Adityo Wisnu

 

It had been a cliché. A lone wolf set out in the name of vengeance, fighting evil that corrupts the city’s circularly system. Budi Prakoso dug his claws deep into Jakarta’s jurisdiction system; nobody could put him into justice. He has money, power, everything. He lifts a finger, and there goes the chance to get a guilty verdict on him. For years I put my trust in the hands of the authorities, and for the exact years Budi Prakoso gets away with that ugly smug on his face. Their bullshit won’t convince me this time around. This time, I’ll make it right. Killing Prakoso won’t bring my parents back, but killing him and destroy everything he owns; that is my salvation. I got a couple of underground contacts, they taught me things. They taught me how to shoot a gun and how to survive. I spent fortunes on guns, smuggled out of somewhere on Asia. A dual berretta should be enough to make a scene down at the don’s mansion.

The time has finally come. It was raining hard; the water dropped harshly hitting my skin as if it was needle. It hurts a bit. The sounds of growling thunder and blowing wind conceal my movement as I entered the unguarded front gate, moving swiftly while positioning myself among the shadows, preparing for a surprise attack. If wanted to go loud, at least I’ll have to wait until I get inside. Having people shooting at me here without anywhere to run for cover would be suicide. There are two cronies by the front door. They’re whining as if they never did like their job. Charging through the front door would be a foolish act, but I wasn’t that smart, not that there’s another way in. I silently kill the guards by the front door, and kick the front door open. In front of me is a large room, a living room of some sort. I guess this would be a room to have a party in, and tonight is party time. The guards are surprised, they’re trying to reach their weapons, but I was faster. I shot a guy in the head, he was already had his gun and about to shoot me. I kill the rest of them. Some of them haven’t even reached out to their weapons. Some of them who do, they shot like an old lady. They spread bullets everywhere, making a pattern of bullet holes on the wall. None of them hit me. Upstairs, the don’s voice jarring like a storm, shouting commands to his lackeys. Bad news, Budi Prakoso, Reza Kamaro is coming to get you. You play, you pay, you bastard.

I went upstairs; there is three pair of legs coming after me. I make short works of them. I got no time for small-timers. I went directly for the final boss of the game, Budi Prakoso. He held up in his study, crying up in the corner of the room. Luckily he had neither wife nor children, not anymore, words is his wife doesn’t really appreciates the kind of life her husband lead. That makes it much easier to kill him without his family around. Slowly I approach him, he wept harder as I draw closer. I point the mouth of my gun directly into his head. He started to plead, but I pretend I hear nothing. He said he’s sorry for putting a hit on my parents because of the debt they had, he said he’ll give me money if I let him live. Hell, he even offered me a job. A stereotype mob boss you saw on action movies, which tend to stoop so low as to beg for mercy while their life is threatened. But as soon as you dropped your guard; BAM! You’re dead. I stay silence and focused, his plead slowly turns into anger. My trigger finger twitched.

Pity, He chose profanity as his last words.

 

 

Grand Theft Auto V review

Posted in Uncategorized on September 29, 2013 by Adri Adityo

By: Adri A Wisnu (@anakbabehgue)

 

            Pertama kali GTA V diumumin sekitar akhir tahun lalu, orang – orang pasti langsung pada kegirangan dan mulai ngobrolin bareng temen – temennya perihal bakal sehebat dan se-epic apa GTA V setelah rilis nanti terus fitur baru apa aja yang bakal nongol di game ini, ada yang baru atau enggak? Semuanya nunggu dengan penuh antusias buat ngejawab semua pertanyaan yang ada di benak mereka. Gue sendiri nungguin banget kehadiran game ini karna dikamus gue, game – game kembangan Rockstar Games memang gak ada yang jelek dan patut banget ditunggu. GTA ini game sejuta umat banget bagi orang orang Indonesia, dari anak kecil sampe orang tua main. Tentu saja cara main mereka beda – beda, anak – anak SD biasanya mainnya cuma bunuh – bunuhin orang lewat, nembakin cewek berbikini dipantai, ledakin mobil, nyuri mobil dan sebagainya, kalau anak SMP biasanya hobi banget belanja pakean dan bakal ngedandanin karakter mereka sampe akhirnya keliatan kayak Hipster, anak SMA biasanya seneng modif mobil dan dipake balapan sebagaimana kehidupan realita mereka yang suka balapan dijalanan malem – malem, nah yang tua – tua biasanya lebih tertarik jalanin Story Mission dan Side Mission. Lo mau ancur – ancuran atau ikutin misi, Los Santos dan Blaine County bakal jadi rumah kedua lo.

 

            Dari segi gameplay, GTA V ini oke banget. Banyak yang aspek yang diperbaiki sejak GTA IV, kayak cover system dan auto-aim nya sekarang jadi sedikit lebih enak, ga terlalu kaku, walaupun ada sedkit annoyance di cover systemnya yang bikin kadang karakter kita suka ngumpet ditempat yang bukan kita tuju dan alhasil malah jadi mati ditembakin. Gonta – ganti senjata juga jadi lebih enak, di system yang baru namanya “Weapon Wheel” kita jadi lebih gampang ganti – ganti senjata yang kita mau pas lagi baku tembak, jadi gak usah pencet tombol kiri atau kanan beberpa kali sampe nemu senjata yang kita mau, systemnya dipake juga saat kita mau ganti saluran radio. Drive controlnya lebih nyaman dari yang sebelumnya, jadi kita ga sering nabrak mobil orang lain, walaupun kadang – kadang pas kita lagi enak enak ngebut tanpa dijalur yang tanpa hambatan, NPC suka ada yang mendadak ngebelokin mobilnya ke jalur kita dan hasilnya nabrak – nabrak juga, dan itu annoying banget.

            Kalau kita lagi gak ngejalanin misi, banyak aktifitas yang bisa dilakuin. Kayak main tenis, balapan sepedah, balapan mobil/motor off dan on road, balapan kapal, nyelam lautan dan nyari harta karun atau sisa sisa nuklir, jual beli saham pakai internet di Smartphone, modifikasi mobil, berburu, dan lain – lain. Memang bukan sesuatu yang baru. Pertama kali di seri GTA ada tiga main protagonist yang kita mainin, kita bisa gonta – ganti karakter diluar misi, atau pas lagi jalanin beberapa misi dimana ketiga karakter tersebut terlibat.

            Secara grafis, menurut gue Red Dead Redemption masih sedikit lebih bagus, walaupun tetep GTA V terlihat cantik, terutama di pemandangan alam, pencahayaan dan efek air. Detail detail kecil kayak karakter kita yang bajunya basah karna keringat kalau lagi lari – larian, baju kotor, atau luka luka kecil kalau jatuh dari motor atau gak sengaja ketabrak mobil, nambah nilai plus sedikit lah. Kota Los Santos juga terlihat lebih hidup karna para NPC bertingkah sebagaimana manusia pada umunya, mereka lari olahraga di pagi hari, nongkrong dan ngobrol di suatu tempat, foto – foto, dll.

            GTA V dibintangi oleh tiga karakter utama, yang mana cerita mereka akan berhubungan satu sama lain dan bekerja sama dalam beberapa misi dan perampokan. Yang pertama adalah Michael De Santa, bernama asli Michael Townley, seorang mantan perampok yang udah pensiun dan pemimpin keluarga yang gagal, punya istri tukang selingkuh, anak laki yang gak berguna dan kerjaannya main game online sambil menghina teman mainnya dengan kata kata yang gak senonoh (macam anak warnet gitu), dan anak perempuan yang terobsesi untuk jadi seorang bintang sampe sampe rela melakukan apa aja, termasuk bikin video porno. Terus ada Franklin Clinton, seorang gang-banger yang udah capek dengan kehidupan gang-bangingnya dan punya kerja sebagai tukang ngambil balik mobil yang kreditannya gak lunas. Dia bercita – cita buat ngedapetin uang dengan kerjaan bagus. Yang terakhir favourite gue, Trevor Phillips, seorang yang haus akan kekerasan dan psikopat karena pengaruh narkoba yang hobinya bunuhin redneck, dia tinggal disebuah trailer di daerah gurun pasir.

 

            Karakterisasi yang mantap dan voice acting yang hebat bikin kita seneng kalau liat mereka lagi berinteraksi dan bikin cutscene gak membosankan, kadang – kadang dialog mereka juga lucu. Banyak referensi tentang budaya – budaya masa kini di GTA V, kayak anak muda yang lebih milih duduk dan main smartphone dibanding berinteraksi dengan manusia lain, film yang makin gak berbobot (2 hours of hollow entertainment kalau kata si Michael), maraknya smartphone, dll. Tema cerita masih sama kayak seri – seri sebelumnya, masih sekitar “In pursuit of the almighty dollar” tapi kurang kerasa geregetnya karena karakter – karakternya udah tajir dari awal, jadi agak aneh kalau mereka mau aja disuruh – suruh sama orang – orang kaya demi uang. Storyline keseluruhan terlalu pendek, walaupun multiple ending.

            Tingkat kesulitan relative gampang karena sekarang sudah ada checkpoint system, beda kalau dulu kita harus ulang misi dari awal kalau gagal. Misi – misi nya juga menarik walaupun ada beberapa yang monotone. Dari awal kita udah disuguhi “fast-pace” mission, beda dengan seri terdahulu dimana awal – awal permainan paling misinya Cuma perg ke tempat ini, curi mobil ini, pergi ke tujuan lain, hajar orang ini, dsb. Heist/sesi perampokan gak seperti dugaan gue, dari 6 heist Cuma ada tiga yang menurut gue menarik, sisanya terlalu simple, gampang dan monotone. Tapi perencanaan sebelum perampokannya tetap patut diacungi jempol. Kita bisa pilih mau guns-blazing, atau diem – diem, yang manapun tetap seru dimainkan.

 

            (+) Grafis cantik

            (+) Framerate stabil

            (+) Kota Los Santos dan daerah sekitar keliatan hidup

            (+) Voice acting bagus dan dialog yang penuh humor

            (+) struktur misi yang menarik

            (+) Shooting dan driving mechanic lebih enak

            (+) Trevor Phillips

 

            (-) Jalan cerita menarik, tapi gak se-wow yang dulu

            (-) cerita terlalu Pendek

SCORE: 9 OUT OF 10

 

          

Luigi’s Mansion: Dark Moon review (N3DS)

Posted in Uncategorized with tags , on May 17, 2013 by Adri Adityo

Written by: Adri A Wisnu

Twitter: @anakbabehgue

Halo, sahabat sahabat super. Saya balik lagi, dan kali ini mau iseng ngoceh tentang judul 3DS lainnya yaitu Luigi’s Mansion: Dark Moon. Kalau yang ngerasa kepanjangan, sebut aja Luigi’s Mansion 2, karena game ini memang sequel dari Luigi’s Mansion yang di tongolin buat GameCube pada 17 November 2001. Bagi yang ragu mau beli game ini atau nggak, coba baca dulu pendapat saya mengenai game ini, baru ambil keputusan. Ayo kita mulai bahas.

Game ini dimulai dengan cutscene yang nunjukin karakter dari game sebelumnya, Professor E.Gadd, lagi melakukan penelitian terhadap aktivitas paranormal di Evershade Valley. Si Professor dibantu sama hantu – hantu penghuni lokal yang sikapnya baik disebabkan oleh bulan warna jingga yang disebut Dark Moon. Udah gitu King Boo – Antagonist utama di game sebelumnya dan disini juga – ngancurin Dark Moon sehingga serpihannya tersebar di seluruh penjuru Evershade Valley dan bikin hantu – hantu yang tadinya baik jadi pada badung. E.Gadd akhirnya sembunyi dan manggil orang yang menurut dia udah berpengalaman, ya itu lah si karakter utama kita, Luigi.

Seperti game – game yang berhubungan sama Mario & Luigi lainnya, cerita di LMDM juga gak terlalu berat, intinya kita kumpulin serpihan Dark Moon biar hantu – hantunya pada baik lagi. Tapi petualangan Luigi disisipin lelucon lelucon yang menghibur. Dimulai dari ekspresi ketakutan dan kagetnya Luigi, sampe gaya ngomong dia kalau bilang “Hello” dan “Bad doggie!”. Kualitas leluconnya kurang lebih sama seperti game sebelumnya. Jadi Luigi’s Mansion ini semacam a funny version of Fatal Frame. Kalau Miku lagi ketakutan saya merinding, kalau Luigi ketakutan saya ketawa.

Inti dari gameplaynya adalah nyedot hantu pakai vacuum cleaner. Tapi gak cuma itu aja. Game ini dibagi menjadi lima tempat dan masing – masing punya 5 level, dan di akhiri dengan boss battle. Gameplay di LMDM mencakup exploring, puzzle, nangkep hantu, nyelamtin Toad, dan lainnya. Satu level bisa ngabisin sekitar 15 – 30 menit tergantung jago atau nggak nya pemain, tergantung pemain mau cari collectible item atau nggak. Masing – masing level di design dengan sangat apik, dengan tema yang berbeda – beda. Banyak sesuatu yang tersembunyi tapi penempatannya tanpa kesan dipaksain. Cara lawan hantunya simple, cukup tekan A untuk nge-stun dan R untuk nyedot. Lawan hantu – hantu kacungnya sama aja, mereka Cuma bentuknya aja yang beda. Yang kecil biasanya Cuma punya health 10, makin besar makin banyak bisa sampai 100. Boss battle nya ini yang asik, biasanya dibagi jadi 3 segmen, setiap segmen ada yang cara lawannya sama, ada yang beda, kadang ada sedikit unsure puzzle solving. Walaupun saya cukup kecewa dengan control di game ini tapi saya sangat menikmati permainannya, dan efek 3D nya. Serius, game ini bikin saya takut mati – not literally – karena di setiap level gak ada checkpoint ditengah – tengah, jadi kalau mati ya ulang dari awal. Ini bakal nyebelin kalau lagi di level yang durasinya lama.

Kalau soal music, bisa dibilang soundtrack nya cukup menarik, apalagi ringtone Dual Scream-nya si Luigi. Walaupun background music di setiap level mirip, tapi gak terdengar membosankan, terlebih pas kita gak gerakin si Luigi, dia suka nge-humming background music nya dengan nada yang lucu.

Setelah tamat, gamenya jangan dibuang dulu ya, karena multiplayernya asik. Multiplayernya dibagi jadi 3 modes, masing – masing bisa dipartisipasi oleh empat player yang bisa ikutan lewat Download Play. Saya pribadi cukup terhibur dengan multiplayernya.

Luigi’s Mansion Dark Moon adalah game wajib bagi pengguna 3DS. Grafik yang setara GameCube, gameplay yang asik dan menarik, music yang catchy, multiplayer yang berfaedah. Intinya, game ini layak beli.

SCORE: 9.0/10

Resident Evil Revelations (N3DS) Quick Review

Posted in Uncategorized with tags , , , on April 17, 2013 by Adri Adityo

Written By: Adri A Wisnu @anakbabehgue

Halo, gamer Indonesia. Saya mau sedikit ngoceh tentang game pertama yang saya beli setelah memiliki Nintendo 3DS.

Tadinya saya gak mau beli game ini di 3DS dan lebih memilih menunggu versi HD nya keluar di X360, namun mengingat game dengan iming – iming “HD Edition” itu kurang berfaedah, maka saya lebih memilih membeli di 3DS. Ada beberapa kerabat yang bilang “Lu ngapain beli RE Revelations kan mau ada di X360.” Tapi satu hal yang saya tau, saya sama sekali gak rugi beli game ini. Tiga game RE yang di rilis Capcom pada tahun 2012 lalu dan hanya ini yang benar – benar bagus, karena Capcom telah memasukan kembali unsur – unsur menyeramkan ala survival horror, dan eksplorasi yang sudah lama tidak terlihat sejak RE 4.

 

            Resident Evil Revelations mengambil setting cerita antara RE 4 dan RE 5 dimana lagi – lagi Bioterorisme yang jadi akar masalahnya. Jill dan Chris gak jalan – jalan berdua di game ini, melainkan mereka punya partner baru masing – masing, Parker untuk Jill, dan Jessica untuk Chris. Sayang sekali karakter – karakter baru di Revelations tidak terlalu bagus, dan gampang dilupain. Bagi saya duo Quint dan Keith adalah karakter baru yang terburuk dalam sejarah franchise Resident Evil, saya selalu berharap mereka mati aja. Memang alasan Capcom nambah – nambahin karakter baru itu masih misteri buat saya, seri RE kan udah terlalu banyak karakter. Penceritaan di game ini menggunakan system episode  yang mana biasanya beres dengan menggantung dan memulai episode baru dengan “Previously on Resident Evil Revelations…” ya semacam serial TV aja gitu. Dari segi cerita sendiri, cukup menghibur walaupun bagi saya twist nya ketebak, tapi orang punya perbedaan masing – masing dalam hal itu.

 

            Tapi gapapa lah, soal karakter baru yang cupu tadi bisa kita tutupin sama gameplay nya yang menghibur. Dalam beberapa episode biasanya kita ganti – ganti karakter antara Jill – Parker, Chris – Jessica, Quint – Keith, dan masing – masing punya perbedaan tersendiri. Saat pakai Jill – Parker, kita berasa kembali ke gameplay Resident Evil yang seharusnya, eksplorasi untuk dapetin key item, menyelesaikan puzzle, dan focus dengan suasana horror. Yang terpenting adalah hemat peluru dan recovery item, karena dua hal itu susah dicari. Gak semua item di game ini nongol di layar, ada juga yang harus di cari pakai alat yang namanya Genesis, di game ini setiap ruangan kita harus rajin pakai Genesis untuk nemuin item – item yang ga keliatan dengan kasat mata, dan untuk scan musuh. Selain peluru dan recovery item kita juga bisa nemuin part – part untuk upgrade senjata, dan ini adalah fitur yang sangat berguna untuk mempermudah lawan boss.

 

            Awalnya saya ragu dalam soal control, mengingat handheld itu tombolnya ga se-banyak controller konsol, ternyata control di game ini cukup nyaman untuk dimainkan di handheld, walaupun bagi yang kurang terbiasa bisa membeli Circle Pad Pro untuk analog dan tombol tambahan. Aiming di game ini ada 1st Person mode dan 3rd person mode. 3rd Person mode biasa ditemui pada RE 4 – 6 dimana kamera perposisi dibelakang pundak kanan si karakter, nah untuk yang 1st person mode, kamera nya kayak di game Doom. Saya lebih suka 1st person mode karena lebih menegangkan dan menambah rasa seram.

 

            Kalau ngomongin game horror yang pasti jangan lupa ngomongin musuh – musuhnya. Musuh disini adalah mahluk baru namanya Ooze, dan juga dengan jenis yang bermacam – macam. Walaupun saya lebih senang lawan zombie, tapi Ooze ini juga kadang membuat saya tersentak karena suka tiba – tiba nongol dari ventilasi, kolong tempat tidur, jamban, bahkan tempat – tempat yang ga diduga. Oh ya tidak lupa saya menyebutkan bahwa boss battle di game ini sangat fantastis. Menyeramkan, menegangkan, seru, dan yang pasti seret peluru.

 

            Sudah intinya bagi yang punya 3DS jangan pikir – pikir beli game ini karena sangat menyenangkan. Pemakaian efek 3D yang apik, grafis yang sangat bagus untuk sebuah handheld, pertarungan yang intense, boss battle yang menarik, suasana yang serem, eksplorasi yang asik, cerita yang cukup menarik…

Dengan begitu saya kasih nilai 9.0 out of 10.

The Chokepoint

Posted in Fiction, Short Story on October 19, 2012 by Adri Adityo

Written By: Adri A Wisnu

         Corporal Ramsey bends on his knees, trying to catch a breath that might be his last. He’s coughing blood, caused by a fatal wound on his chest. It was an exit wound, and he was lucky enough to be alive even for just a moment. It was raining; thick mist shrouded the area Bradley’s Squad was on. Sergeant Bradley closes his eyes as he watches one of his men getting killed in front of his eyes, by his own indecency. His command and his bad call led his company to the enemy’s chokepoint, where there were ambushed by the enemy’s recon unit. The second shot from the church tower window marks an exclamation of Corporal Ramsey’s demise, a clean shot right between his eyes.

“Shit! Ramsey!” Cry Private William.

“What do we do now, Sergeant?” Ask the squad’s medic.

“Try to get a hold of yourself, Private. We can get through this.” Sergeant Bradley tries to reassure his squad. “We have to get through this.”

The projection of his family appears before his eyes as he speaks. That’s what he always wanted, seeing his family just one more time if he – by any chance – did not make it. Bradley gave command to William to check the situation. William peek through a small gap on his covering position, he got his eyes on the church, where assumes to be the sniper’s vantage point. The mist was already dispersing; gives a better view for William and the enemy sniper.

“He was really good for making a clean shot through the mist.” The medic said

“Shh! I spot movement!” Exclaims William, as he readied his rifle. “It looks like he’s moving away from the window.”

“Are you sure?”

“Absolutely, sir,” William said. He has enhanced eyesight that enables him to spot small things in faraway places, or seeing through a thick mist, smoke, and heavy rains.

“If only we’re not separated from the rest of the Company.” The medic murmured to himself.

“Stop complaining Hudson,” Sergeant Bradley took out his GPS, “We’re still far away from the destination point. We’ve been stranded too far from the actual landing point.”

“Being cut off behind the enemy lines is sucks, man. I wonder how the others are doing. Did they make it?” said Private William.

“The only thing that matters now is our own survival, private. We have to find a way to get through those Japanese.”

“Sir,” William nodded.

          As they about to move, they heard from far away, a Japanese chatter, and a lot of footsteps. The only assumptions they made is the Japanese Sniper has reported in. Now they bring reinforcements. The only choices left is getting through them, or turned back and live another day. However, Bradley and his squad is not in a good position to go anywhere. It’s the only cover between them, the Japanese and the open area surrounding. Bradley throws up a flashbang grenade, and he and his squad make their way to the nearest building. It’s the safest place they ever been since they landed in Seattle, or what’s left of it. Japanese really did some destruction around here.

“Great, we’ve been sent here to assist the resistance force, now we’re the one who desperately needs help.”

The Japanese chased Bradley and the other to the hotel they were at. Bradley’s flashbang distraction seems not working as well as he hoped so.

“The rest of the army is on the other side of the city, right now we’re concentrating on taking our guests out.” Bradley said.

“They’re too many, sir!”

“We used this apartment as our advantage, Private William. If we get separated, we meet up at the rooftops after its clear. Move!”

Three men versus twelve others, Bradley, William, and Hudson do what they can, used everything in their possessions, even scavenge some to defeat the oncoming Japanese soldiers. Lurking in the dark corner, setting up traps, using the rooms to make distractions and move to the other via hole in the wall, they manage to kill some of them silently, and hides not all, but some of the bodies of possible. The last remaining Japanese who found the bodies of his comrades begins to panic; William slit his throat, therefore killing the last of the pursuers. They meet up at the rooftops, Bradley notice that Hudson is absent.

“Hudson, come in.” Bradley tried to contact Hudson through the comm system. “Hudson!”

“Sarge, I heard footsteps.”

From the door that leads to the rooftops, a man appears. Not Hudson, instead Japanese soldier wielding a Katana on his right hand, and Hudson’s decapitated head on his left hand.

“Shit, Hudson,” William took out his gun pointing it at the Japanese in anger.

         A sound of a siren can be heard from the street below, it’s a sign of the resistance. They came to help, with the rest of the US force with it. They were looking for Bradley and his squad. The battle has been won; they rescue the resistance force and took back Seattle. While William and Bradley are distracted by a relieve sight of friendlies. The Japanese took out a grenade, pull its pin out and run with great speed towards William, and tackles him therefore sending William and himself falling from the rooftop. The grenade explodes in mid-air killing them both. The army extracts Bradley from the hotel. After giving a full report to his superior officer, Bradley retrieve a new squad, and new orders.

Heavy Rain (2010) Review

Posted in Uncategorized on July 26, 2012 by Adri Adityo

  By: Adri Adityo Wisnu

 

    Shaun Mars telah menghilang! Ia terakhir kali terlihat sedang bermain di sebuah taman, sebelum hujan mulai mengguyur. Kalian mungkin akan awalnya akan berpikir dia hanya kabur – karena kehidupannya tidak mengenakan – dan berharap dia akan muncul di pintu depan sewaktu – waktu. Tapi pasti jauh di lubuk hati kalian, kalian tau dia tidak akan kembali. Dia telah diculik oleh Origami Killer, seorang pembunuh psikopat yang suka menenggelamkan anak lelaki kedalam air hujan dan meninggalkan sekuntum bunga anggrek dan sebuah figuran kecil didekat mayat. Tidak ada yang tahu siapa orang ini. Banyak petunjuk – Petunjuk berguna untuk diikuti, ratusan tersangka yang diintrogasi, dan tidak ada sedikitpun petunjuk bagaimana cara menghentikan satu orang gila. Kau harus menyelamatkan Shaun. Ada seorang anak lelaki yang terkurung di suatu tempat, perlahan hidupnya akan berakhir dengan masih berpegang teguh pada harapan bahwa seseorang akan mentelamatkannya.

 

Lebih baik kau berpikir cepat, hujan turun dengan deras dan volume air terus meningkat.

 

   Pencaran diawali dengan Ethan Mars, ayah dari korban terbaru. Kisah hidupnya sangat tragis, ia berubah dari seorang arsitek yang sangat sukses dan ayah yang hebat menjadi seorang yang menyedihkan. Tidak ada seorangpun yang bisa menyalahkan da. Apa yang kau rasakan kalau anak kalian yang diculik? Apa yang akan kalian lakukan? Apa yang BISA kalian lakukan? Itulah hal yang ingin diketahui oleh Origami Killer. Ia mengirim Ethan beberapa instruksi yang jika di ikuti dan dipatuhi dengan benar akan membawanya ke tempat Shaun berada. Bermula dari hal kecil yaitu mengambil sebuah kotak kecil dari sebuah loker penyimpanan barang. Akan setiap tugas yang baru ternyata lebih berbahaya dari yang sebelumnya, dia harus membunuh orang tidak berdosa, menjadi buronan, dan menghadapi berbagai bahaya yang dapat dengan mudah membunuhnya. Tergantung bagaimana kalian memainkannya. Dengan jalan cerita yang gelap, mendebarkan, yang berinti tentang sebagai mana hebat sebuah cinta untuk menjadi sebuah motivator. Ethan akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan anaknya.

 

    Tentu saja ia tidak sendiri. Heavy Rain di sajikan dalam sudut pandang tiga karakter lain. Tidak hanya kau akan mengikuti cerita dari mata seorang ayah yang kewalahan, akan tetapi daro orang – orang yang memburu pembunuhnya juga. Norman Jayden adalah seorang profiler FBI yang sedang berjuang untuk memecahkan kasus sekaligus berhadapan dengan kepolisian yang korup dan birokrat. Scott Shelby bekerja sendiri sebagai penyelidik pribadi, mewawancara korban – korban sebelumnya sambil berusaha untuk menegakkan rasa kesusilaan di perut kota yang kumuh. Madison Page, seorang jurnalis yang menghabiskan waktunya menyusun petunjuk yang ia temukan sendiri. Walaupun karakter – karakter tersebut tidak se-menderita Ethan, cerita mereka tetap berhubungan sampai akhir. Mereka berjuang menghadapi kekerasan, mengejar kebenaran, integritas moral, dan dan perlunya sebuah kasih sayang. Semua dilemma itu diarahkan dengan segala twist yang cerita yang cerdik yang kerap muncul didalam jalannya cerita yang nantinya akan menyatu. Saat mystery tersebut terpecahkan, tidak ada yang akan keluar tanpa luka.

 

    Itu di asumsikan jika para karakter bisa sampai sejauh itu. Memainkan game ini tidak memiliki fasilitas eksplorasi terbuka, akan tetapi berinteraksi dengan objek dengan menggunakan quick-time event. Yang harus dilakukan hanya mengikuti tanda panah dilayar. Pada level tutorial semua itu di demonstrasikan secara mendetil. Yang harus dilakukan hanyalah cukup mendekat ke sebuah objek dan menekan tombol yang muncul dilayar. Kau bisa menekan sebuah tombol yang sudah ditentukan yang akan menunjukan apa yang sedang dipikirkan oleh si karakter. Bahkan saat kau tidak sedang mengontrol karakter, perintah tombol – tombol itu akan bermunculan saat custcene; entah itu untuk menyerang musuh, menghindar, atau menembak. Ini membuat Heavy Rain tidak terasa seperti video game akan tetapi seperti sebuah film interaktif. Ceritanya sangat emotional membuat pemain perduli terhadap masing masing karakter.

 

    Sering kali kita akan memakan waktu cukup lama untuk terbiasa dengan kontrolnya. Menekan R2 akan membuat karakternya berjalan kemana mereka menghadap, dan analog stick untuk mengarahkan gerak mereka. Ini terkadang sangat sulit, terutama saat pemain berada di ruang sempit dan ingin memfokuskan pada sesuatu benda. Kalaupun pemain tebiasa dengan controlnya, para karakter bergerak dengan pelan seperti orang mabuk. Hal itu tidak buruk, tetapi terasa kikuk dibandingkan dengan quick – time event. Terkadang pemain bisa dengan mudahnya tidak sengaja melewati sebuah objek dimana akan dibutuhkan untuk berputar balik dan mencoba untuk berinteraksi dengan objek tersebut.

 

    Game ini biasanya dapat memaafkan jika pemain salah tekan tombol saat quick – time event, tapi jangan disepelekan. Pilihan dan perlakuan yang diperbuat akan berpengaruh secara drastic kepada jalan cerita. Sesuatu yang sepele, seperti mengangkat telfon, atau menemukan petunjuk, akan membawa segalanya kepada sesuatu yang tidak disangka – sangka. Segala yang penting tidak diperlihatkan sampai tengah – tengah permainan, akan tetapi bahkan sesuatu yang kecilpun dapat berdampak besar. Besar kemungkinan bagi beberapa karakter untuk mati jauh sebelum pertarungan terakhir, yang nantinya karakter tersebut akan dihilangkan dan merubah semua jalan ceritanya. Seluruhnya ada 20 ending dan beberapa alternative dan semuanya bergantung pad asemua keputusan yang pemain ambil didalam game. Tidak semuanya berakhir bahagia juga. Serunya adalah kita bisa coba kembali lagi, mengambil keputusan yang berbeda dan melihat jalan cerita yang berlanjut secara berbeda pula. Hal ini yang membuat pemain lebih terhubung kepada game ini dan jalan ceritanya, kalian tidak hanya sedang menonton film, tapi berperan penting dalam perkembangannya juga.

 

    Game ini keren, setiap inci sangat terlihat detail. Kau akan tau ketika melihat layar tv-mu close up ke wajah Ethan. Tekture kulit, refleksi cahaya, pelebaran pupil, dagu yang berjanggut tipis, ekspresi wajah, tidak ada game lain yang mendekati realita seperti game ini. Heavy Rain adalah game emosional, di dukung dengan music yang indah dan menegangkan bergantung dengan situasi. Efek suara juga memukau, saat sedang berjalan disebuah stasiun kereta, terdengar suara keramaian, langkah – langkah kaki yang jumlahnya banyak dan repetitive, Layar – layar informasi yang menyala terang, dan cahaya matahari yang menembus jendela. Kau gugup; tidak bisa mengatasi keramaian. Kau akan menabrak banyak orang, kau akan berusaha mengambil nafas, tanganmu akan gemetaran. Ini tidaklah mudah, kau harus mengocok controllermu untuk bergerak maju. Disaat itu juga music yang menegangkan akan terus bermain dan bertambah keras seiring waktu membuatmu semakin tegang.

 

    Tetapi bukan berarti game ini cocok untuk kebanyakan pemain. Ini bukan game yang “biasa”, dan banyak pemain yang lebih ingin bermain game yang tradisional. Tapi jika mau coba, Heavy Rain tidak akan membuatmu menyesal. Cerita yang ditulis secara cerdas mengenai seorang pembunuh sadis dan rasa cinta seorang ayah. Tema gelap yang ditawarkan membuatmu melihat karakter – karakter utama yang biasa saja menjadi luar biasa. Game ini merubah hal biasa saja seperti mengangkat telefon menjadi sesuatu yang sangat berarti. Terkadang control yang kaku dapat membunuh kesenangan saat bermain, akan tetapi jalan cerita yang keren dan grafis yang memukau menutup semua itu. Jadi cobalah game ini. Berjalanlah ditengah hujan.

 

Score: 90 out of 100

 

New Year Incident (Chapter V)

Posted in Fiction, Mystery, Short Story on January 31, 2012 by Adri Adityo

Written By: Adri Adityo Wisnu

Sekarang sudah jam 4 pagi, dan semua—kecuali Alex—masih berkumpul di aula dan mengobrol, sampai mereka mendengar ketukan dari pintu depan dan James bergegas menuju pintu untuk membukanya. Dari balik pintu James melihat pria yang memakai jaket coklat, rambut hitam yang rapih yang tersenyum pada James. Di belakangnya banyak polisi yang berseragam biru.

“Comissioner Philip” kata nya.

“Silahkan masuk kalau begitu, dan langsung ke lantai dua. Seorang detektif menunggumu disana.” Kata James sambil mempersilahkan para petugas hokum masuk. Sebelum ke atas, Commissioner Philip bersalaman dengan orang-orang yang berada di rumah itu, dan setelah itu dia dan beberapa petugas polisi segera menuju ke tempat pembunuhan terjadi.

“Siapa kau?” Tanya Commissioner Philip saat dia sampai ke ruangan kerja dan melihat Alex sedang duduk di kursi.

“Kenalkan, aku Alex Fiskus. Aku Detektif dan teman dari korban.” Alex menjawab sambil beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju Commissioner Philip dan berjabat tangan.

“Aku belum pernah mendengar namamu?” Tanya Commissioner Philip

“Aku memang tidak begitu terkenal. Setidaknya belum.” Kata Alex, wajahnya tidak menunjukan expresi.

“Baiklah, mari bekerja sama memecahkan kasus ini kalau begitu. Jadi bagaimana penyelidikanmu?”

Lalu Alex menjelaskan waktu kematian, dan semua yang dia dan James sudah selidiki. Sementara Alex menjelaskan pada Commissioner, para polisi mulai mencari barang bukti di ruangan lain di rumah itu, beberapa juga memeriksa barang bawaan yang di bawa para tamu di aula. Seorang petugas menggambar posisi mayat di lantai dengan kapur, lalu dua orang mengangkat mayatnya untuk di bawa, dan di autopsy. Sekarang Alex bisa benar-benar melihat bahwa tidak ada bekas luka tusukan di tubuh mayat! Bebepara petugas yang menyelidiki sidik jari juga hanya menemukan sidik jari di pistol yang di pegang Mr. Bartholomew hanya sidik jari almarhum. Tidak ada sidik jari orang luar maupun para tamu yang berada di sekitar Kantor dan ruangan lain di kantor tersebut.

Alex dan Commissioner Philip sedang mengintrogasi para saksi di ruangan lain saat para petugas kepolisian sedang memeriksa salah satu benda milik Dr. Rosemary di yaitu krim muka, yang berada di aula. Saat itu James sedang memperhatikan mereka.

“Sedang apa kau disini?” Tanya petugas yang sedang memeriksa.

“Aku yang membantu detektif Alex disini.”

“Apa? Kau?” Kata petugas tersebut seraya tertawa.

“Kau bisa tanya detektif Alex saat dia selesai interogasi.”

Tiba-tiba Alex masuk ke dalam ruangan dan bilang kepada petugas “Interogasi urusan Philip. Aku akan diam disini. Dan dia memang benar rekanku, jadi jangan remehkan dia.” Kata Alex sambil berjalan menuju petugas sambil memasukan tangannya ke saku jaketnya.

“Aku yang akan memeriksa barang-barang ini.” Alex melanjutkan. Lalu petugas tersebut member hormat dan pergi. Seperti ada yang member perintah, Alex langsung membuka tutup krim muka milik Dr. Rosemary lalu mengendus cairan kuning kental tersebut. Tidak lama setelah itu, Alex merasa sangat pusing.

“Aku tidak pernah tau ada krim muka yang aromanya membuat pusing.” Kata Alex

“Apa mungkin?” Tanya James, lalu Alex memberikan krim itu kepadanya. James mengendusnya cukup lama, dan tiba-tiba dia tersentak. Wajahnya langsung pucat.

“Ada apa James!” Alex terlihat panik. Lalu James membuka mulut dan berkata “Ini bukan krim. Ini racun!” James berteriak sehingga beberapa petugas menatapnya dengan mencela.

“Apa kau yakin? Bagaimana kau bisa tau?” Gertak Alex sambil memegang pundak James.

“Aku pernah mempelajarinya di kelas, racun ini bisa membuat orang berhalusinasi sebelum menyerang jantung dan membunuhnya.” Kata James sambil gemetar.

“Kalau begitu berarti wanita itu yang melakukan! Tapi apakah kau tahu bagimana cara dia melakukannya?”

Lalu James diam sebentar seraya berpikir keras, lalu dia kembali membuka mulut. “Ya, sebelum aku menemuimu di luar, aku menguping pembicaraan Dr. Rosemary dan Mr. Bartholomew. Kalau tidak salah waktu mereka berjabat tangan, Mr. Bartholomew mengatakan ‘tangan anda berkeringat ya? Padahal udara kan dingin.’ Kira-kira begitu.”

“Berarti maksudmu, Rosemary melumuri racun itu ke tangannya dan memberikannya kepada Bartholomew dengan cara berjabat tangan, lalu mungkin racun masuk ke tubuh saat dia makan sesuatu.” Kata Alex

“Ya dia memang makan sebuah kue, saat dia mau ke ruang kerja. Lalu tidak lama terdengar suara teriakan itu. Menurutku, orang yang membawa pisau itu sebetulnya tidak ada, dan itu cukup menjelaskan kenapa lubang peluru tersebut hanya terdapat di satu titik.” Kata James. Dia bangga karena kasus sudah hamper selesai.

“Bagus! Kau memang hebat! Ikut aku, kita selesaikan semua ini.” Kata Alex bersemangat

 

Alex dan James segera menuju ke ruangan kerja tempat para tamu di interogasi dengan membawa racun tersebut. Alex masuk dengan tangan di saku jaketnya di ikuti dengan James di belakangnya.

“Hentikan interogasinya, saya ingin bicara sebentar kepada semuanya. Temanku ini, James sudah menemukan pelakunya.” Kata Alex dengan tenang

“Apa! Apa benar itu?” Kata Mr. O’Connor tidak percaya.

“betul sekali.” Kata Alex, lalu dia mengeluarkan krim muka yang ternyata adalah racun tersebut. “Ini punyamu kan Dr. Rosemary. Kalau saja tidak ada James disini, aku pasti tidak akan sadar bahwa ini sebetulnya adalah racun!” Semua orang tersentak kaget saat Alex berkata seperti itu.

“Itu racun yang berasal dari getah suatu tumbuhan, aku pernah mempelajarinya. Racun itu bisa membuat orang berhalusinasi sebelum akhirnya mati.” James menjelaskan, sementara yang lain tercengang melihatnya.

“Lalu bagaimana cara Rosemary melakukannya?” Tanya Harringtom kebingungan.

“Aku melihat Dr. dan Mr. Bartholomew sedang mengobrol, dan saat mereka berjabat tangan, Mr. Bartholomew mengatakan bahwa tangan Dr. Rosemary berkeringat, dan dokter bilang dia berkeringat karena banyak orang sehingga udara menjadi panas. Tapi menurutku itu tidak betul, toj yang lain juga tidak berkeringat. Menurutku,” James berhenti sebentar dan kembali bicara dengan suara menggertak “Yang dirasakan oleh Mr. Bartholomew di tangan Dr. Rosemary itu bukan keringat! Tapi racun yang dia lumuri ke tangannya sendiri!”

Semua orang sekali lagi tersentak kaget. “Yah aku sadar, dan memang setelah itu Mr. Bartholomew hanya mengobrol saja tidak makan maupun minum, dan sampai saat itu, di saat dia mngambil sepotong kue sebelum ke ruang kerja nya,” Kata Kim

“Tepat sekali.” James memotong pembicaraan. “Saat itu lah racun bereaksi!” Kata James. Alex yang berdiri di sampingnya tampak tersenyum puas.

“Benarkah itu?” Tanya John sambil menghadap ke Dr. Rosemary yang hanya tertunduk dan matanya tertutup.

Lalu Dr. Rosemary bertepu tangan sangat keras, lalu berkata “Sudah kuduga, kau memang pintar. Peter, seharusnya kau bangga.” Kata Dr. Rosemary dengan nada mencela dan melihat ke arah Mr. O’Connor.

“Makanya kau gelisah saat aku bilang aku hafal macam-macam racun.” Kata James meneruskan.

“ya memang itu sebetulnya. Yang aku takutkan benar-benar terjadi.” Kata Dr. Rosemary dengan nada tenang.

“Kenapa kau melakukan itu Rose? Dia kan sahabat ayahmu? Dia yang suka membantu ayahmu kan?” tanya Mr. O’Connor

“SIAPA BILANG! Kau tidak tahu yang sebenarnya!” Bentak Dr. Rosemary. “Dia yang membuat ayahku meninggal, dia yang membuat perusahaan ayahku bangkrut. Ayah jadi bunuh diri setelah itu. Ibu jadi harus bekerja untuk bertahan hidup, dan aku pun berhenti kuliah.”

“Ya ampun aku tidak menyangka.” Kata Kim sambil mendekap mulutnya karena kaget. “Ya aku memang tahu kalau perusahaan ayahmu bangkrut, tapi yang aku tahu ayahmu meninggal karna sakit.”

“Tidak, dia bunuh diri. Beberapa tahun setelah itu, aku berhasil menjadi dokter dan membuka tempat praktek ku sendiri. Pada suatu hari Bartholomew datang, dan kita bertemu lagi. Tapi yang membuat ku kesal adalah, dia sama sekali tidak merasa bersalah, ataupun menyesal kerna kematian ayahku. Dia malah kelihatan bangga karena kekayaan nya bertambah!” Air mata mulai menetes dari mata Dr. Rosemary. “Ya saat dia mengundangku kesini, aku kira ini lah saat yang tepat.”

“Aku sungguh tidak percaya ini. Sungguh.” Kata Mr. O’Connor

Lalu James dan Alex saling bertatapan dan saling tersenyum, mereka puas karena telah menyelesaikan kasus ini. Lalu Commissioner Philip bersalaman dengan mereka lalu berkata pada yang lain “Mr. dan Mrs. O’Connor, Mr. Harrington, Mrs. Kim, dan Mr. Lexington bleh keluar, sedangkan kau tetap disini.” Katanya sambil menunjuk ke Dr. Rosemary.

“Ayah. Lexington siapa?” Tanya James dengan wajah polos, lalu ada suara di belakangnya yang menjawab “Nama keluargaku.” Ternyata John, yang menjawab sambil tersenyum puas.

Dan setelah itu polisi telah menagkap Dr. Rosemary, sedangkan para orang-orang yang terlibat, akan bersiap-siap untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. James berbicara dengan Alex untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Kau hebat James.” Kata Alex sambil tersenyum

“Ya, kau juga. Bagaimana kalau aku jadi partnermu. Jadi kalau ada kasus lagi, hubungi saja aku!” Kata James, matanya yang hitam memandang Alex seperti memohon.

“Tidak sebelum kamu menyelesaikan sekolahmu, James.” Kata Mr. O’Connor yang secara tiba-tiba berdiri di belakang James tanpa dia sadari dan merangkulnya.

Dan begitulah akhirnya, mereka pun kembali ke rumah. Sedangkan para petugas polisi mengamankan rumah tersebut agar warga sipil tidak ada yang mendekat. Alex Fiskus dan Commissioner Philip pergi untuk membicarakan soal pekerjaan untuk Alex sebagai detektif yang bekerja untuk kepolisian. Sementara itu Dr. Rosemary di bawa ke penjara, dan akan di siding di waktu mendatang.

Di mobil, James dan orang tuanya sedang berbincang tentang kasus yang baru saja selesai.

“Kenapa pelakunya harus dia!” Kata James menyesal.

“Memang sulit di percaya ya.” Kata Mrs. O’Connor

“benar. Perlu aku akui James. Kau hebat sekali. Aku tidak menyangka.” Kata Mr. O’Connor yang duduk di bangku pengemudi dan mengemudikan mobilnya.

“Mungkin memang aku berbakat jadi detektif.” Kata James ambil tertawa

“Aku tidak mengizinkanmu mempunyai pekerjaan yang berhubungan dengan mayat dan criminal!” Kata Mrs. O’Connor tapi tidak tampak keseriusan pada wajahnya.

“Aku tidak peduli. Lalu, bagimana nasib rumah mewah itu?” Tanya James kepada siapapun yang mau menjawab

“Tidak tahu, mungkin di serahkan untuk Negara. Toh Mr. Bartholomew tidak punya keturunan.” Jawab Mr. O’Connor. Dan mobil mereka pun terus melesat melewati kabut ke arah tempat tinggal mereka.

Siapapun yang terlibat, akan mencoba untuk melupakan kasus ini sepanjang hidup mereka. . .

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,073 other followers