New Year Incident (Indonesian Version)

Written By : Adri A Wisnu

CHAPTER 1

Malam ini mungkin merupakan malam yang paling berkesan bagi James O’Connor, remaja berusia 17 tahun yang keluarganya di undang oleh teman dari ayahnya yang seorang bangsawan untuk menghadiri pesta tahun baru yang sangat meriah di rumahnya yang sangat mewah. Kembang api yang sangat indah—dan kelihatannya mahal—meletus di udara, membuat para tamu yang menghadiri pesa tersebut terkesima. Selain pemandangan indah dari kembang api yang meledak di langit, dan  rumah Mr. Bartholomew yang di hias dengan sangat cantik; di sisi lain James juga sedikit mual dengan begitu banyak orang – orang di sekelilingnya memakai baju yang sangat bagus, perhiasan dimana – mana, dan bahkan gaya bicara mereka yang sangat sopan. James lebih suka yang biasa saja. Tapi di antara para bangsawan yang membuat James mual, dia melihat ada satu orang yang duduk sendirian di dekat perapian, meminum minuman yang sudah di sediakan, dan yang membuat James bingung adalah: Orang itu tidak terlihat seperti seorang bangsawan. Dia memakai kemeja putih dan jubah kulit berwarna hitam, yang memang kelihatan bagus. Saat James sedang sibuk memandang orang itu, tiba – tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang, dia menoleh dan ternyata yang menepuknya tadi adalah ayahnya; lelaki umur sekitar 40-an yang gaya berpakaiannya tidak beda jauh dengan yang lain.

“Pasti kau bosan yah karna tamunya tidak ada yang se-umuran denganmu?” Tanya Mr. O’Connor kepada anaknya.

“Siapa bilang? Tadi aku melihat ada anak perempuan cantik yang mengenakan gaun. Aku mencoba mendekatinya, Cuma……” Kata James, tapi dia berhenti karena dia malu mengatakan “aku sangat tegang”

“Percuma.” Mr. O’Connor senyum sedikit meledek. “Anak itu kan pasti putri dari seorang bangsawan,yah biasanya perempuan seperti itu lebih suka laki-laki yang berpakaian dan bertingkah laku seperti halnya mereka itu. Tidak seperti kau.” Mr. O’Connor berkata sambil sedikit tertawa. Yah memang sih James gaya berpakaiannya seperti seorang rocker.

“Jangan membohongi anakmu begitu Peter!” Dari balik suara para tamu yang sedang mengobrol, Mr.O’Connor bisa mendengar ada suara yang berbicara padanya.

“Apa?” Tanya Mr. O’Connor pura-pura tidak tahu.

“memangnya aku tidak dengar!” Kata wanita yang menggunakan gaun hijau dan terlihat anggun yang tidak lain adalah istri dari Mr. O’Connor. “Jangan percaya perkataan ayahmu yah James, dia hanya bercanda.” Katanya sambil melihat anaknya.

“Mungkin ada benarnya juga sih,mom.” Kata James nyengir. “Ngomong – Ngomong, siapa orang itu? Dia tidak seperti yang lain.” Tanya James seraya menunjuk kearah orang yang duduk dekat perapian.

“Oh itu. Dia juga teman dari Bartholomew, seorang detektif. Memang tidak terlalu terkenal di sekitar sini, tapi katanya dia pernah membantu Bartholomew menyelesaikan masalahnya.” Jawab Mr. O’Connor

“Wah. Siapa namanya?” Tanya James dengan penuh kagum. Tidak di ragukan lagi, James adalah penggemar berat novel mystery. Dia juga suka berlagak menjadi seorang detektif terkadang.

“Kalau tidak salah….” Mr. O’Connor berpikir sejenak.

“Alex Fiskus!” Kata Mrs. O’Connor dengan cepat.

“Oh aku akan berkenalan dengannya!” Kata James bersemangat, tapi sebelum dia bisa bangkit dari tempat duduknya, dia mendengar ada suara wanita—yang jelas bukan suara ibunya—memanggil nama ayahnya dari jauh.

James dan kedua orang tuanya menengok kea rah suara itu dating, dan mereka melihat seorang wanita umur kira-kira 42 tahun,yang berjalan menuju mereka sambil tersenyum. Walaupun umurnya sudah terbilang agak tua, dia masih terlihat cantik.

“Siapa itu?” Mrs. O’Connor bertanya dengan nada cemburu.

“Ah,iya,” Kata Mr. O’Connor sambil memperkenalkan wanita itu kepada keluarganya. “Ini istriku. Rosalie,ini temanku waktu kuliah dulu, sekarang dia seorang dokter, benar kan?”

“Iya, aku seorang dokter bedah lebih tepatnya.” Kata wanita itu.

“Kenalkan namanya Rosemary. Dr. Rosemary.” Kata Mr. O’Connor, lalu dia mengubah perhatian Rosemary kepada anaknya “Dan ini anaku. James.”

“Wah tampan sekali yah anakmu.” Kata Rosemary

James bingung mau berkata apa, dia takut salah bicara, jadi dia hanya tersenyum, lalu berjabat tangan saat Dr. Rosemary mengulurkan tangannya, dan tangan kirinya menggaruk kepala karena dia gugup.

Lalu James lupa akan niatnya berkenalan dengan si Detektif, dan mengobrol dengan Rosemary. Sampai akhirnya, si tuan rumah, Mr. Bartholomew naik ke atas mimbar lalu berbicara dengan suara keras dan menggelegar, membuat para tamunya—yang tadinya sedang minum-minum dan mengobrol—semua diam.

“Sudah tinggal beberapa detik lagi menuju tahun baru saudara-saudara…” Kata nya, lalu melihat arlojinya. “Sudah tinggal 5 detik lagi, ayo kita hitung mundur bersama-sama.” Katanya sambil menganggkat tangannya yang besar. Lalu para tamu menghitung mundur, sampai mereka mencapai angka 1, tiba-tiba terdengar suara keras seperti benda berat yang jatuh ke lantai kayu dari rumah mewah tersebut. Semua tamu, termasuk keluarga O’Connor tentunya tidak melanjutkan hitungan sampai Nol, melainkan hanya terdiam dan berusaha memikirkan darimana sumber suara tersebut. Dari kerumunan orang yang kebingungan, James melihat Alex, si detektif tersebut berlari keluar ruangan. Tanpa ada yang sadar, James mengikuti nya  sampai pintu depan, dan tepat di bawah tangga yang berada tepat berhadapan dengan pintu masuk utama, dia meliat seorang lelaki yang berpakaian sama seperti yang lain, tergeletak dengan tubuh bagian atasnya menghadap ke bawah.

“Ya tuhan!” James berteriak, membuat Alex—yang tidak sadar diikuti—menoleh ke belakang, dan para tamu bergegas menuju ke tempat Alex dan James berdiri.

CHAPTER 2

“Semua tetap di tempat!” Perintah Alex. James akhirnya mendengarnya berbicara. “terutama kau.” Katanya menunjuk ke arah James, yang terus mengucurkan keringat.

“Ada apa ini?” Mr. Bartholomew muncul dari arah kerumunan yang berusaha melihat apa yang terjadi. Sementara itu Mr. O’Connor menarik tangan anaknya untuk menjauh.

Mr. Bartholomew mendekati tubuh yang tergeletak tersebut bersama dengan Alex. Alex membungkuk untuk memeriksa tubuh tersebut.

Tiba-tiba dengan suara yang cukup tenang Mr. Bartholomew berkata sambil sedikit tertawa “Ya ampun. Karena badannya terlalu gemuk.”

Tidak lama kemudian pria gendut yang tergeletak itu sadar, dia perlahan membuka mata dan bangkit, dia bingung melihat orang-orang pada memandangnya dengan pandangan khawatir.

Mr. Bartholomew membantunya bangun. “Pasti jatuh lagi ya?” Katanya.

“Yah begitulah. Aku benci tangga.” Kata pria gemuk itu. “Mari lanjutkan pestanya!” Kata pria itu bersemangat.

Dan para tamu kembali ke ruangan besar yang dipakai untuk pesta, sementara Mr. Bartholomew, Pria gendut itu, dan Alex Fiskus berpisah. “Siapa dia?” Tanya Mr. O’Connor kepada Mr. Bartholomew saat dia lewat.

“Itu, temanku sejak kecil.” Mr. Bartholomew menjawab dengan senyum.

“Wah, mengingat umurmu yang sudah 70 tahun, ternyata persahabatan kalian bertahan ya.”

“Memang benar. Orang itu,” Mr. Bartholomew menghela napas “Saking gemuknya selalu terjatuh di tangga dan menggelinding kebawah!” Katanya sambil tertawa, Mr. O’Connor pun ikut tertawa. Sementara James yang berdiri di sebelah ayahnya tidak menemukan itu adalah sesuatu yang lucu.

Sekarang mereka berada di ruangan tempat pesta di adakan. James seperti tadi, duduk sendirian sambil menatap bangsawan di mana-mana. Dia tidak menemukan Alex sejak kejadian tadi. Dia berjalan-jalan di antara para tamu untuk menemukan Detektif tersebut, sampai dia melihat Dr. Rosemary dan Mr. Bartholomew sedang mengobrol dengan sangat keras.

“Wah ternaya kau bisa datang Rosemary, kita sudah lama tidak berjumpa yah.” Kata Mr. Bartholomew bersemangat sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.

“Yah, walaupun aku sedikit sibuk tapi aku menyempatkan datang. Anda adalah teman lama almarhum ayah saya, jadi tidak enak kalau saya tidak datang.” Jawab Dr. Rosemary sambil berjabat tangan.

“Tanganmu sepertinya berkeringat ya. Padahal musim dingin.” Kata Bartholomew sambil melepas jabat tangannya.

“walaupun ini musim dingin, tapi di sini sangat banyak orang, jadi wajar kan kalau udaranya panas?” Kata Dr. Rosemary sambil tersenyum.

Setelah itu James berhenti mendengar pembicaraan mereka, keluar dari ruangan, lalu menuju ke pintu depan. Dia berharap bisa menemukan Alex di luar. Dia menuju pintu depan, mengambil jaketnya lalu membuka pintu. Dan ternyata benar, Alex sedang duduk di situ sendirian. Perlahan James mendekati nya lalu berkata dengan nada malu-malu. “Aku tadi tidak bermaksud mengikuti, hanya penasaran.”

Alex menoleh ke belakang dengan wajahnya yang tanpa expressi. “kau anak yang tadi kan? Tidak apa-apa. Anak seumurmu memang memiliki rasa penasaran yang besar ya.” Kata Alex. James bisa melihat dia sedikit tersenyum, walaupun butuh ketelitian untuk menyadarinya. Ternyata Alex orang yang baik.

Jadi tanpa malu-malu James berbicara lagi “Sedang apa kau disini? Kan dingin.”

“Aku terkadang memang butuh waktu menyendiri.” Jawab Alex dengan pendek.

“Baiklah kalau begitu aku akan ke dalam.” Kata James sambil memutar badannya untuk kembali ke dalam. Lalu sebelum james membuka pintu, Alex berkata “Senang berkenalan denganmu.”

“iya, sama- sama.” James menjawab, lalu menutup pintu kembali.

Sekarang sudah jam 1.30 pagi. Sudah banyak tamu yang pulang ke rumah masing-masing dengan wajah yang menunjukan kepuasan. Walaupun begitu, masih ada beberapa orang yang tinggal di ruangan yang besar itu untuk melanjutkan pesta walaupun tidak se-meriah sebelumnya karena sudah pada lelah. James sendiri sudah hampir terlelap di sofa, tapi masih ada beberapa suara berisik yang tidak bisa membuatnya tidur. Dia bangun lalu melihat ruangan itu benar-benar sepi. Hanya tinggal orang tuanya,Dr. Rosemary, Mr. Bartholomew, dan beberapa orang yang dia belum kenal sedang saling mengobrol, jadi yang tersisa hanya 7 orang.

“Wah makanan masih banyak yang tersisa. Mereka hanya minum sepanjang pesta sih.” Mr. Bartholomew menggerutu lalu mengambil sepotong kue dengan tangannya, menggigitnya lalu berkata pada yg lain “Aku akan ke kamar sebentar, mau mengambil sesuatu.” Katanya sambil menelan kue yang ada di mulutnya. James melihat Mr. Bartholomew pergi keluar lewat pintu ganda, dan James melihatnya berjalan ke atas karena Mr. Bartholomew lupa menutup pintu. Dan juga di sebelah pintu masuk ada sofa merah yang kelihatannya nyaman, dan di situ pula ada Alex. Rupanya dia belum pulang, melainkan tertidur.

“James!” Mr. O’Connor memanggil James dari jauh. James menghampiri ayah dan ibunya dan beberapa dari teman mereka. “Aku belum perkenalkan 3 orang ini kan? Ini teman ayah sejak kita masih kuliah.” Lalu Mr. O’Connor menunjuk seorang pria yang gagah, dan rambutnya di sisir ke belakang “Ini John.” James dan John lalu tersenyum satu sama lain. “Lalu ini Harrington.” Mr. O’Connor melihat ke arah pria yang gaya nya seperti orang tahun 1930-an. “dan ini Kim.” Mr. O’Connor menunjuk pada wanita Asia, dia memang cantik tapi bagi James tidak se-cantik Dr. Rosemary.

Lalu di saat mereka sedang mengobrol, Peter O’Connor sadar bahwa Mr. Bartholomew tidak kembali ke bawah, lalu saat dia akan ke atas untuk memeriksa tiba-tiba ada suara orang berteriak di lantai atas, yang tidak salah lagi adalah Mr. Bartholomew.

“SIAPA DI SITU?! MAU APA KAU? UNTUK APA PISAU ITU?! BERHENTI, JANGAN MAJU LAGI!” Mr. Bartholomew berteriak. Lalu setelah itu terdengar suara tembakan beberapa kali. James dan yang lainnya yang berada di ruangan pesta beranjak kaget dari tempat duduknya.

“Kalian tunggu disini!” Perintah Mr.O’Connor

“Aku ikut!” Kata James. Dia melihat dari jauh kalau Alex pun terbangun karena suara tembakan itu dan bergegas ke atas.

“Tidak. Kau tetap di sini James!” Bentak Mr. O’Connor dan dia langsung menuju ke atas menyusul Alex.

Mr. O’Connor sudah sampai di atas, dan dia melihat Alex berdiri di depan sebuah pintu ganda yang berwarna putih bersih dengan gagang berwarna emas. Mr. O’Connor berdiri di sebelah Alex, lalu mereka saling pandang dan mengangguk. Mereka secara berbarengan membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, dan melihat tubuh Mr. Bartholomew tergeletak menghadap ke bawah. Dia memegang pistol di tangan kanan, dan sepertinya keluar darah dari mulut.

“Ini serius.” Kata Alex dengan suara pelan

CHAPTER 3

Mr. O’Connor dan Alex mendengar ada suara langkah kaki yang sangat cepat di belakang mereka, dan tidak lama John, Harrington dan, James sudah sampai di lantai 2. Mr. O’Connor langsung maju kea rah mereka dan membentak “Kenapa kalian ada disini?! Kan aku suruh tetap di bawah!” lalu matanya menatap James “Dan kau,”

“Kami penasaran, kami tidak bisa menaan diri untuk diam di bawah. Tapi tenang saja, para wanita aman di bawah. Kim kan jago karate.” Kata Harrington dengan wajah tenang.

“Betul. Tadinya hanya akau dan Harrington yang mau ke sini, tapi anakmu tiba-tiba ikut.” John menambahkan.

Mata Mr. O’Connor langsung mendelik kea rah anaknya, lalu James langsung membuka mulut untuk bicara “Aku juga kan penasaran. Yang ini bercanda atau sungguhan?”

“Jangan mempermasalahkan soal itu sekarang. Pembunuhan telah terjadi disini!” Kata Detektif Alex secara tiba-tiba. Semua langsung menoleh ke arahnya. Alex langsung memasuki ruangan kerja Mr. Bartholomew yang sangat rapih. Alex mendekati mayat Mr. Bartholomew lalu berkata “Pasti ada lubang peluru nya di sekitar sini.” Katanya sambil berjalan jalan sekitar ruangan, dan yang lain ikut masuk ke dalam ruang kerja tersebut.

“Tadi aku menghitung suara tembakannya. Ada Sembilan tembakan.” Kata James.

“James! Jangan bermain detektif disini. Ini bukan main-main!” Kata Mr. O’Connor sambil memegang lengan James.

“Informasi dari anak tersebut sangat berguna. Aku minta tolong pada kalian untuk menemukan dimana lubang peluru tersebut.” Kata Alex dengan bijaksana.

Mereka semua, termasuk James mulai mencari lubang peluru yang di perintahkan Alex. James melihat di ruangan tersebut banyak sekali foto-foto Mr. Bartholomew yang sedang berburu, maupun foto dia saat sudah dapat hasil buruan nya. Wajahnya sangat senang saat itu, beda dengan yang sekarang; Pucat,matanya terbuka tapi pangangannya kosong.

“Kenapa tidak ada foto keluarga Mr. Bartholomew disini? Dan aku juga tidak melihat anggota keluarganya.” James bertanya pada ayahnya.

“Dia memang tidak punya keluarga. Hidup nya di dedikasikan hanya untuk mencari uang, dan berburu.” Jawab Mr. O’Connor

“Ya ampun.”

“Maaf, Perlukah aku menghubungi polisi?” Tanya Harrington dari sudut ruangan

“Jangan sekarang. Jika kita sudah mendapat bukti-bukti yang kita butuhkan.” Jawab Alex yang sedang memeriksa dinging antara rak buku. Dan dia menemukannya! Lubang peluru yang dia cari.

“Sungguh aneh.” Katanya.

“Apa yang aneh?” Kata James dengan suara keras, mengundang perhatian membuat yang lain mendekat ke arah Alex dan James berdiri.

“James kan namamu? Apa betul kau mendengar ada 9 tembakan?” Tanya Alex menuntut jawaban secepatnya.

“Aku sangat yakin.”

“Di sini hanya ada 7 lubang, dan memang ada lubang yang sangat besar, menunjukan bagian situ terkena tembakan lebih dari sekali sehingga lubang membesar. Tapi yang aneh adalah,” Penjelasan Alex terhenti saat James melanjutkan “Kenapa lubangnya hanya terpusat di situ? Menurut logika, Mr. Bartholomew kan menembak 9 kali, mungkin saja tidak kena sasaran karena orang yang dia lihat itu menghindar kesana kemari, dan harusnya lubang peluru terdapat di berbagai tempat!” Mr. O’Connor kaget saat James selesai menjelaskan, dia sungguh tidak tahu anaknya menyadari itu.

“Pendapat mu hebat.” Kata Alex sambil tersenyum puas. “Apalagi pendapatmu?” Tanya Alex.

“Darimana kira-kira orang itu masuk dan keluar ya?” Tanya James sambil berjalan ke arah jendela.

“Mungkin dari jendela” Kata Harrington.

Lalu Alex berjalan dan berdiri dekat jendela, dan di sebelah James. “Jendela di tutup rapat, semuanya. Ada 2 jendela kan disini? Dan lagi pakai apa dia untuk sampai kesini? Tidak ada pohon di dekat jendela, tidak ada beranda juga.” Kata James.

“Lalu JIKA orang tersebut datang melalui jendela, tembakan pertama dari Mr. Bartholomew pastinya kena jendela kan?” Lanjut Alex, masih tersenyum puas ke arah James. Dia juga tidak menyangka anak itu bisa sehebat itu.

Semua orang mengangguk tanda mengerti, bahkan Mr. O’Connor juga sudah tidak lagi melarang James mondar-mandir di ruangan itu. Tapi Mr.O’Connor kembali memarahi James saat dia bilang “Berarti pembunuhnya adalah orang dalam.”

“Jangan bercanda James. Kita semua ada di aula kan? Para pelayan juga di pulangkan, dan akan kembali 2 hari lagi.” Kata Mr.O’Connor ketus.

“Iya betul itu. Lagipula, untuk apa kami membunuh Mr. Bartholomew?” Kata John

“Itu yang akan saya cari. Motif pembunuhannya.” Kata Alex

“Pintu dan jendela terkunci, lalu darimana pembunuhnya masuk?” Tanya Mr. O’Connor

“Itu yang sedang saya pikirkan. Untuk sementara kalian kembali ke aula dan saya akan mengadakan pemeriksaan barang-barang bawaan kalian.” Kata Alex, sambil berjalan keluar ruangan.

CHAPTER 4

Mr. O’Connor, James, Harrington, John, dan tentu saja Alex sudah kembali ke aula tempat mereka mengadakan pesta. Mereka bisa melihat kecemasan dari wajah para wanita. “Apa yang terjadi?” Tanya si wanita Asia, Kim dengan wajah yang menuntut jawaban. Matanya memandang bergantian dari satu pria ke yang lain. Lalu dia melihat John menggelengkan kepalanya dengan sedih, dan duduk kembali karena sudah mengerti apa maksudnya.

“Aku meminta izin untuk memeriksa semua barang bawaan kalian.” Kata Alex.

“Apa! Kau mencurigai kami?” Kata Dr. Rosemary memberontak

“Kami kan disini pada saat ada suara tembakan.” Kata Mrs. O’Connor

“Dalam hal ini semua harus di curigai, walaupun kalian memang berkumpul disini saat pembunuhan terjadi. Tapi kemungkinan-kemungkinan itu ada, saya hanya ingin menemukan detil yang saya butuhkan.” Kata Alex dengan nada penuh hormat dan akhirnya mereka pun mematuhi Alex tanpa protes.

Mereka mengelilingi meja dan mengeluarkan semua barang-barang yang mereka bawa, termasuk James, akan tetapi dia hanya membawa telepon genggam, jadi Alex membiarkannya duduk.

Yang pertama Mr. O’Connor mengeluarkan semua yang dia bawa. Dia hanya membawa telepon genggam, dompet, sapu tangan, kotak rokok, dan korek. Mrs. O’Connor membawa telepon genggam, dompet, bedak, dan lipstick di tasnya. Harrington hanya bawa dompet dan telepon genggam. John hanya membawa dompet dan kartu nama, dia bekerja sebagai pengacara. Kim membawa Sapu tangan, telepon genggam, dan sebuah kaca berbentuk lingkaran. Dr. Rosemary membawa telepon genggam, kartu nama , rokok, korek, lipstick, krim pelembab muka. Setelah melihat semua barang-barang tersebut tidak mungkin di pakai membunuh, wajah Alex mengkerut, dia berpikir keras.

“Baiklah, tetap simpan semua barang kalian di situ kecuali telepon genggam, kalian boleh mengambilnya lagi.” Perintah Alex. “Hubungi polisi.” Dia menambahkan.

Lalu Alex berjalan ke arah James yang sedang duduk di dekat perapian, lalu menyuruh mengikutinya kembali ke atas dimana Mr. Bartholomew terbunuh. Sesampainya mereka di ruangan kerja, Alex langsung menutup pintu rapat-rapat, berjalan ke arah mayat Mr. Bartholomew lalu berjongkok, di ikuti James di sebelahnya.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya James

“Aneh. Aku sungguh mendengarnya berteriak ‘untuk apa pisau itu’ tapi kalau dilihat, tidak ada bekas tusukan.” Alex menjelaskan

“Darimana kau tahu? Posisinya kan seperti ini?” Tanya James penasaran

“Kalau benar dia mati karena di tusuk pisau, darah yang keluar—selain lewat mulut juga pasti ada di sekitar tubuhnya, tapi ini darah yang keluar hanya dari mulut. Dan expressi wajanya, sepertinya dia merasa siksaan sebelum mati.” Alex memperjelas

“Mengerikan. Siapa yang tega melakukan ini?!”

“Itu yang akan kita cari tahu, kawan.” Kata Alex sambil berdiri.

Dia berjalan menuju meja kerja yang berada di ruangan tersebut, memakai sarung tangan dan mulai memeriksa. Membuka laci-laci, memeriksa dokumen-dokumen yang tergeletak di atas meja, dan setelah itu dia berjalan kea rah jendela dan membukanya. Kepalanya keluar dan memperhatikan sekitar untuk berbagai kemungkinan. Dia melihat ke bawah lalu bergumam “Sepertinya tidak mungkin.”

Setelah memeriksa kedua jendela, Alex membuat kesimpulan bahwa pembunuhnya tidak masuk dan keluar lewat jendela karena antar lantai sangat tinggi.

“Yang aku bingung, kenapa lubang peluru hanya terpusat di suatu titik?” Tanya James saat dia sedang memperhatikan lubang peluru yang berada di dinding.

“Memang aneh. Itu memberikan asumsi bahwa si pembunuh tidak menghindar saat Mr. Bartholomew menembakan senjatanya. DAN mengapa tembakannya tidak ada yang kena sasaran padahal pembunuhnya diam di tempat?” Alex mengerutkan wajahnya lagi, dia berpikir keras.

“Padahal dia kan pembuu yang hebat.” Kata James. “Kau tidak memeriksa ruangan yang lain?” Tanya James

“Itu urusan polisi. Aku akan menemukan sekecil apapun detil yang ada disini sebelum polisi datang, kau kembali ke aula dan pastikan tidak ada yang menyentuh barang-barang mereka yang berada di meja. Polisi mungkin butuh untuk penyelidikan.” Kata Alex. Lalu James mengangguk dan kembali ke aula.

James yang sedang minum sambil duduk sendirian dan berpikir tentang kasus ini, tiba-tiba terganggu oleh seorang wanita yang duduk di sebelahnya, yang tidak lain adalah Dr. Rosemary. Wajah James langsung menjadi merah, dan dia terkadang berharap Dr. Rosemary se-umuran dengannya.

“Bagaimana penyelidikanmu detektif remaja?” Dr. Rosemary bertanya dengan nada bercanda.

“Yah, Begitu saja.” Jawab James dengan malu-malu.

“Katakan James. Apa kau tertarik pada ilmu kedokteran?” Tanya Dr. Rosemary

“Yah, lumayan. Aku belajar banyak tentang ilmu alam dan juga ilmu kedokteran di sekolah.” Jawab James.

“Apa saja yang kau ketahui?”

“Aku tahu beberapa jenis racun misalnya. Aku hafal jenis racun yang dimiliki oleh tumbuhan dan hewan, bahkan aku hafal baunya, karena aku pernah praktek tentang racun. Aku juga pernah diberi contoh racun yang membuat orang ber halusinasi sebelum racun itu menyerang jantung dan membunuhnya.” Jawab James dengan bangga. Mendengar itu Dr. Rosemary langsung kelihatan sangat cemas, wajanya tiba-tiba menjadi pucat. Melihat expresi Dr. Rosemary James langsung bertanya “Kau tiba-tiba kelihatan tegang. Ada apa?”

“Tidak,” Dr. Rosemary menarik nafas panjang dan membuangnya. “Aku anya takut kau menyaingi kecerdasanku saat kau dewasa nanti. Kau hebat.” Kata Dr. Rosemary lalu dia tertawa. Tapi James masih melihat kecemasan di wajahnya.

“Baiklah kalau begitu, aku akan ke toilet sebentar.” Kata Dr. Rosemary sambil beranjak dari

tempat duduknya.

CHAPTER 5

Sekarang sudah jam 4 pagi, dan semua—kecuali Alex—masih berkumpul di aula dan mengobrol, sampai mereka mendengar ketukan dari pintu depan dan James bergegas menuju pintu untuk membukanya. Dari balik pintu James melihat pria yang memakai jaket coklat, rambut hitam yang rapih yang tersenyum pada James. Di belakangnya banyak polisi yang berseragam biru.

“Comissioner Philip” kata nya.

“Silahkan masuk kalau begitu, dan langsung ke lantai dua. Seorang detektif menunggumu disana.” Kata James sambil mempersilahkan para petugas hokum masuk. Sebelum ke atas, Commissioner Philip bersalaman dengan orang-orang yang berada di rumah itu, dan setelah itu dia dan beberapa petugas polisi segera menuju ke tempat pembunuhan terjadi.

“Siapa kau?” Tanya Commissioner Philip saat dia sampai ke ruangan kerja dan melihat Alex sedang duduk di kursi.

“Kenalkan, aku Alex Fiskus. Aku Detektif dan teman dari korban.” Alex menjawab sambil beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju Commissioner Philip dan berjabat tangan.

“Aku belum pernah mendengar namamu?” Tanya Commissioner Philip

“Aku memang tidak begitu terkenal. Setidaknya belum.” Kata Alex, wajahnya tidak menunjukan expresi.

“Baiklah, mari bekerja sama memecahkan kasus ini kalau begitu. Jadi bagaimana penyelidikanmu?”

Lalu Alex menjelaskan waktu kematian, dan semua yang dia dan James sudah selidiki. Sementara Alex menjelaskan pada Commissioner, para polisi mulai mencari barang bukti di ruangan lain di rumah itu, beberapa juga memeriksa barang bawaan yang di bawa para tamu di aula. Seorang petugas menggambar posisi mayat di lantai dengan kapur, lalu dua orang mengangkat mayatnya untuk di bawa, dan di autopsy. Sekarang Alex bisa benar-benar melihat bahwa tidak ada bekas luka tusukan di tubuh mayat! Bebepara petugas yang menyelidiki sidik jari juga hanya menemukan sidik jari di pistol yang di pegang Mr. Bartholomew hanya sidik jari almarhum. Tidak ada sidik jari orang luar maupun para tamu yang berada di sekitar Kantor dan ruangan lain di kantor tersebut.

Alex dan Commissioner Philip sedang mengintrogasi para saksi di ruangan lain saat para petugas kepolisian sedang memeriksa salah satu benda milik Dr. Rosemary di yaitu krim muka, yang berada di aula. Saat itu James sedang memperhatikan mereka.

“Sedang apa kau disini?” Tanya petugas yang sedang memeriksa.

“Aku yang membantu detektif Alex disini.”

“Apa? Kau?” Kata petugas tersebut seraya tertawa.

“Kau bisa tanya detektif Alex saat dia selesai interogasi.”

Tiba-tiba Alex masuk ke dalam ruangan dan bilang kepada petugas “Interogasi urusan Philip. Aku akan diam disini. Dan dia memang benar rekanku, jadi jangan remehkan dia.” Kata Alex sambil berjalan menuju petugas sambil memasukan tangannya ke saku jaketnya.

“Aku yang akan memeriksa barang-barang ini.” Alex melanjutkan. Lalu petugas tersebut member hormat dan pergi. Seperti ada yang member perintah, Alex langsung membuka tutup krim muka milik Dr. Rosemary lalu mengendus cairan kuning kental tersebut. Tidak lama setelah itu, Alex merasa sangat pusing.

“Aku tidak pernah tau ada krim muka yang aromanya membuat pusing.” Kata Alex

“Apa mungkin?” Tanya James, lalu Alex memberikan krim itu kepadanya. James mengendusnya cukup lama, dan tiba-tiba dia tersentak. Wajahnya langsung pucat.

“Ada apa James!” Alex terlihat panik. Lalu James membuka mulut dan berkata “Ini bukan krim. Ini racun!” James berteriak sehingga beberapa petugas menatapnya dengan mencela.

“Apa kau yakin? Bagaimana kau bisa tau?” Gertak Alex sambil memegang pundak James.

“Aku pernah mempelajarinya di kelas, racun ini bisa membuat orang berhalusinasi sebelum menyerang jantung dan membunuhnya.” Kata James sambil gemetar.

“Kalau begitu berarti wanita itu yang melakukan! Tapi apakah kau tahu bagimana cara dia melakukannya?”

Lalu James diam sebentar seraya berpikir keras, lalu dia kembali membuka mulut. “Ya, sebelum aku menemuimu di luar, aku menguping pembicaraan Dr. Rosemary dan Mr. Bartholomew. Kalau tidak salah waktu mereka berjabat tangan, Mr. Bartholomew mengatakan ‘tangan anda berkeringat ya? Padahal udara kan dingin.’ Kira-kira begitu.”

“Berarti maksudmu, Rosemary melumuri racun itu ke tangannya dan memberikannya kepada Bartholomew dengan cara berjabat tangan, lalu mungkin racun masuk ke tubuh saat dia makan sesuatu.” Kata Alex

“Ya dia memang makan sebuah kue, saat dia mau ke ruang kerja. Lalu tidak lama terdengar suara teriakan itu. Menurutku, orang yang membawa pisau itu sebetulnya tidak ada, dan itu cukup menjelaskan kenapa lubang peluru tersebut hanya terdapat di satu titik.” Kata James. Dia bangga karena kasus sudah hamper selesai.

“Bagus! Kau memang hebat! Ikut aku, kita selesaikan semua ini.” Kata Alex bersemangat

Alex dan James segera menuju ke ruangan kerja tempat para tamu di interogasi dengan membawa racun tersebut. Alex masuk dengan tangan di saku jaketnya di ikuti dengan James di belakangnya.

“Hentikan interogasinya, saya ingin bicara sebentar kepada semuanya. Temanku ini, James sudah menemukan pelakunya.” Kata Alex dengan tenang

“Apa! Apa benar itu?” Kata Mr. O’Connor tidak percaya.

“betul sekali.” Kata Alex, lalu dia mengeluarkan krim muka yang ternyata adalah racun tersebut. “Ini punyamu kan Dr. Rosemary. Kalau saja tidak ada James disini, aku pasti tidak akan sadar bahwa ini sebetulnya adalah racun!” Semua orang tersentak kaget saat Alex berkata seperti itu.

“Itu racun yang berasal dari getah suatu tumbuhan, aku pernah mempelajarinya. Racun itu bisa membuat orang berhalusinasi sebelum akhirnya mati.” James menjelaskan, sementara yang lain tercengang melihatnya.

“Lalu bagaimana cara Rosemary melakukannya?” Tanya Harringtom kebingungan.

“Aku melihat Dr. dan Mr. Bartholomew sedang mengobrol, dan saat mereka berjabat tangan, Mr. Bartholomew mengatakan bahwa tangan Dr. Rosemary berkeringat, dan dokter bilang dia berkeringat karena banyak orang sehingga udara menjadi panas. Tapi menurutku itu tidak betul, toj yang lain juga tidak berkeringat. Menurutku,” James berhenti sebentar dan kembali bicara dengan suara menggertak “Yang dirasakan oleh Mr. Bartholomew di tangan Dr. Rosemary itu bukan keringat! Tapi racun yang dia lumuri ke tangannya sendiri!”

Semua orang sekali lagi tersentak kaget. “Yah aku sadar, dan memang setelah itu Mr. Bartholomew hanya mengobrol saja tidak makan maupun minum, dan sampai saat itu, di saat dia mngambil sepotong kue sebelum ke ruang kerja nya,” Kata Kim

“Tepat sekali.” James memotong pembicaraan. “Saat itu lah racun bereaksi!” Kata James. Alex yang berdiri di sampingnya tampak tersenyum puas.

“Benarkah itu?” Tanya John sambil menghadap ke Dr. Rosemary yang hanya tertunduk dan matanya tertutup.

Lalu Dr. Rosemary bertepu tangan sangat keras, lalu berkata “Sudah kuduga, kau memang pintar. Peter, seharusnya kau bangga.” Kata Dr. Rosemary dengan nada mencela dan melihat ke arah Mr. O’Connor.

“Makanya kau gelisah saat aku bilang aku hafal macam-macam racun.” Kata James meneruskan.

“ya memang itu sebetulnya. Yang aku takutkan benar-benar terjadi.” Kata Dr. Rosemary dengan nada tenang.

“Kenapa kau melakukan itu Rose? Dia kan sahabat ayahmu? Dia yang suka membantu ayahmu kan?” tanya Mr. O’Connor

“SIAPA BILANG! Kau tidak tahu yang sebenarnya!” Bentak Dr. Rosemary. “Dia yang membuat ayahku meninggal, dia yang membuat perusahaan ayahku bangkrut. Ayah jadi bunuh diri setelah itu. Ibu jadi harus bekerja untuk bertahan hidup, dan aku pun berhenti kuliah.”

“Ya ampun aku tidak menyangka.” Kata Kim sambil mendekap mulutnya karena kaget. “Ya aku memang tahu kalau perusahaan ayahmu bangkrut, tapi yang aku tahu ayahmu meninggal karna sakit.”

“Tidak, dia bunuh diri. Beberapa tahun setelah itu, aku berhasil menjadi dokter dan membuka tempat praktek ku sendiri. Pada suatu hari Bartholomew datang, dan kita bertemu lagi. Tapi yang membuat ku kesal adalah, dia sama sekali tidak merasa bersalah, ataupun menyesal kerna kematian ayahku. Dia malah kelihatan bangga karena kekayaan nya bertambah!” Air mata mulai menetes dari mata Dr. Rosemary. “Ya saat dia mengundangku kesini, aku kira ini lah saat yang tepat.”

“Aku sungguh tidak percaya ini. Sungguh.” Kata Mr. O’Connor

Lalu James dan Alex saling bertatapan dan saling tersenyum, mereka puas karena telah menyelesaikan kasus ini. Lalu Commissioner Philip bersalaman dengan mereka lalu berkata pada yang lain “Mr. dan Mrs. O’Connor, Mr. Harrington, Mrs. Kim, dan Mr. Lexington bleh keluar, sedangkan kau tetap disini.” Katanya sambil menunjuk ke Dr. Rosemary.

“Ayah. Lexington siapa?” Tanya James dengan wajah polos, lalu ada suara di belakangnya yang menjawab “Nama keluargaku.” Ternyata John, yang menjawab sambil tersenyum puas.

Dan setelah itu polisi telah menagkap Dr. Rosemary, sedangkan para orang-orang yang terlibat, akan bersiap-siap untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. James berbicara dengan Alex untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Kau hebat James.” Kata Alex sambil tersenyum

“Ya, kau juga. Bagaimana kalau aku jadi partnermu. Jadi kalau ada kasus lagi, hubungi saja aku!” Kata James, matanya yang hitam memandang Alex seperti memohon.

“Tidak sebelum kamu menyelesaikan sekolahmu, James.” Kata Mr. O’Connor yang secara tiba-tiba berdiri di belakang James tanpa dia sadari dan merangkulnya.

Dan begitulah akhirnya, mereka pun kembali ke rumah. Sedangkan para petugas polisi mengamankan rumah tersebut agar warga sipil tidak ada yang mendekat. Alex Fiskus dan Commissioner Philip pergi untuk membicarakan soal pekerjaan untuk Alex sebagai detektif yang bekerja untuk kepolisian. Sementara itu Dr. Rosemary di bawa ke penjara, dan akan di siding di waktu mendatang.

Di mobil, James dan orang tuanya sedang berbincang tentang kasus yang baru saja selesai.

“Kenapa pelakunya harus dia!” Kata James menyesal.

“Memang sulit di percaya ya.” Kata Mrs. O’Connor

“benar. Perlu aku akui James. Kau hebat sekali. Aku tidak menyangka.” Kata Mr. O’Connor yang duduk di bangku pengemudi dan mengemudikan mobilnya.

“Mungkin memang aku berbakat jadi detektif.” Kata James ambil tertawa

“Aku tidak mengizinkanmu mempunyai pekerjaan yang berhubungan dengan mayat dan criminal!” Kata Mrs. O’Connor tapi tidak tampak keseriusan pada wajahnya.

“Aku tidak peduli. Lalu, bagimana nasib rumah mewah itu?” Tanya James kepada siapapun yang mau menjawab

“Tidak tahu, mungkin di serahkan untuk Negara. Toh Mr. Bartholomew tidak punya keturunan.” Jawab Mr. O’Connor. Dan mobil mereka pun terus melesat melewati kabut kea rah tempat tinggal mereka.

Siapapun yang terlibat, akan mencoba untuk melupakan kasus ini sepanjang hidup mereka. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: