The Investigation of Arthur Fredegund: Death At Fleetwith Pike

Originally Written by: Adri A Wisnu

CHAPTER 1

Fleewith Pike, pegunungan yang terkenal di Inggris. Pemandangannya yang indah, membuat orang tertarik untuk menikmati liburan mereka di tempat itu. Udara bersih, pemandangan gunung yang sangat fantastis, danau yang luas dan jernih, biasanya banyak orang yang mempunyai hobi memancing menghabiskan waktu mereka memancing di danau itu, tapi tentu saja setelah itu ikannya di kembalikan, itulah peraturannya karena ikan-ikan itu milik alam. Terdapat dua titik awal untuk pendakian Fleetwith Pike, yaitu Gatesgrath di lembah Buttermere dan bagian atas jalan setapak Honnister. Keduanya memiliki tempat parkir. Tidak jauh dari kaki gunung Fleetwith ada sebuah kota kecil yang dinamakan Fleetwith Yard. Disitulah rombongan wisatawan akan tinggal. Di kota itu ada sebuah penginapan yang bertahun-tahun dipakai para wisatawan untuk menginap. Sparkling Lake Inn, itulah para orang local menyebutnya. Penginapan yang bangunanya dibangun dengan model kuno, tapi penginapan itu sangat besar, seperti hotel saja. Yah memang namanya juga penginapan yang di khususkan untuk wisatawan, dan setiap tahun, Fleetwith Pike tidak pernah sepi pengunjung, bahkan semakin banyak. Pada malam hari, 2 bus wisata yang membawa para wisatawan pun akhirnya sampai di tempat parker dari penginapan Sparkliing Lake, tidak lama setelah itu pintu dibuka, dan para wisatawan mulai keluar dari bus dengan tertib sambil membawa barang-barang mereka. Mereka memakai pakaian tebal, karena tidak diragukan lagi, udara sangat dingin pada malam hari. Wisatawan terakhir yang turun dari bus yang berada paling depan adalah dua orang pria. Pria berumur kira-kira 30, memakai sweater warna hijau gelap, rambutnya yang coklat, berantakan sepertinya memang di sengaja, warna kulitnya adalah sebagaimana kulit orang inggris asli. Dia hanya membawa satu tas wisata yang di selempangkan di pundaknya. Sementara itu pria yang berada di sebelahnya adalah pria yang umurnya sedikit lebih tua, rambutnya disisir kebelakang dan sudah tumbuh uban, dia memakai jaket tebal dan sarung tangan, dan membawa koper. Kedua pria itu segera berjalan menuju ke pintu penginapan, mereka sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
“Kau benar-benar tidak tahan dingin ya? Padahal udaranya tidak begitu dingin.” Kata Pria yang rambutnya berantakan, dengan nada sedikit mengejek.
Sambil menggigil, Pria yang rambutnya sudah ada uban menjawab. “Bagiku, dinginnya seperti saat natal saja!” Pria yang berambut coklat berantakan tertawa kecil setelah mendengar itu.
Mereka telah memasuki penginapan Sparkling Lake, lalu berjalan menuju meja receptionist untuk mendaftarkan namanya di buku tamu. Pria yang rambutnya berantakan membungkuk, mengambil pulpen yang di letakan di sebelah buku, lalu menulis “Arthur Fredegund” di buku tamu. Setelah itu ganti pria yang beruban menulis namanya di buku. “James Agincourt” itu yang di tulisnya. Setelah dia menulis, mata coklatnya menatap ke wanita yang menyambut mereka dari balik meja receptionist, lalu tidak lama dia mengatakan “Kimberly Watson, nama yang cocok untuk wanita cantik sepertimu.” Tetapi wanita yang bernama Kimberly itu tidak mengatakan apa-apa melainkan hanya tersenyum sambil melihat James Agincourt merapihkan rambut dan kumisnya.
“Permisi, bisa tolong segera berikan kuncinya.” Kata Arthur menyela. Lalu James melirik kearah temannya seolah-olah ingin mengatakan “Jangan ganggu kesenanganku!” Segera setelah itu, Kimberly Watson memberikan 2 kunci kamar, dan Arthur mengatakan bahwa dia dan temannya akan tidur satu kamar. Setelah di berikan kunci kamar, Arthur mengucapkan terima kasih lalu segera berjalan menuju kamar yang di tuju, di ikuti oleh James yang berjalan mundur sambil menghadap ke Kimberly.
Setelah mereka berdua sampai di depan pintu kamar, Arthur mengeluarkan kunci dari saku celananya lalu memasukannya kedalam lubang kunci, dan setelah terdengar bunyi “Click”, Arthur menarik kembali kuncinya dan memutar gagang pintu sehingga pintu terbuka.
“Ah!” Arthur terlihat terkejut. “Kamar yang indah bukan?” Lanjutnya. James Agincourt mengangguk setuju, lalu menaruh kopernya di sebelah pintu masuk dan membuka jacket lalu menggantungnya di gantungan jacket dekat situ. Arthur berjalan menuju korden yang menutupi jendela, dia membuka setengahnya lalu berseru “Dari sinilah kita menikmati pemandangan!” Dia menempelkan wajahnya ke kaca lalu melanjutkan “Ada balkonnya, ada 2 kursi dan satu meja. Cocok untuk kita menikmati pemandangan sambil minum teh, bukan begitu James?” Lalu Arthur melihat ke belakang. Saat itu James yang sedang mencoba menyalakan api di perapian menjawab. “Betul.” Lalu dia meniup api kecil dari ujung besi yang dipakai untuk menyalakan perapian. “Aku tidak sabar ingin cepat-cepat besok.” Lanjutnya.
“Disaat yang lain sedang melakukan perjalanan mendaki gunung, kita akan dengan leluasa menikmati pemandangan dan berkeliling penginapan ini. Aku penasaran ada layanan apa saja yang mereka berikan disini.”
Dengan nada pasrah James berkata. “Ah iya benar. Kita kan kesini hanya untuk melihat pemandangan dan merasakan udara segar, jadi kita tidak perlu ikut mendaki. Lagipula tubuhku sudah terlalu lemah untuk melakukan yang seperti itu.”
“Ya tuhan, kau ini masih muda. Kalau aku memang tidak suka mendaki. Duduk sambil mengamati sekitar,” Arthur diam sebentar. “Itu yang aku suka!”
“Memang itu kan pekerjaanmu? Mengamati, lalu mengambil kesimpulan!” Kata James sambil tertawa kecil.
“Semoga tidak ada kejadian yang mengganggu liburan kita. Aku butuh waktu bersantai!” Keluh Arthur, sambil menjatuhkan dirinya di kasur yang bersih dan empuk.

CHAPTER 2

Arthur berada di suatu tempat yang sepertinya tidak berujung, semuanya serba hitam, dan menyeramkan. Yang dia lihat disitu hanyalah ada beberapa kursi di sekitarnya, dan di masing-masing kursi ada orang yang menduduki. Di belakangnya ada satu kursi yang di duduki oleh temannya sendiri, James Agincourt. Sementara orang lain yang ada disitu dia tidak tahu siapa. Tidak lama kemudian ada sekilat cahaya terang yang seolah-olah menyelamatkannya dari kegelapan itu dan membuatnya menutup mata.

“Semoga ini membuatnya bangun.” Terdengar suara olehnya. Lalu setelah beberapa lama barulah dia sadar, bahwa cahaya itu berasal dari James yang sedang membuka korden dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar, memberikan kehangatan.

“Pelan-pelan James!” Kata Arthur sambil menutup matanya untuk menghalangi sinar agar tidak menusuk matanya yang masih mengantuk itu. Lalu Arthur bangkit sambil menggerutu. “Kau bangun pagi sekali, Agi?” Tanya Arthur sambil tersenyum meledek.

“kau panggil aku apa?” Tanya James sambil menatap serius kearah Arthur yang masih duduk di tempat tidur.

“Agi.” Jawabnya singkat dengan wajah tanpa dosa.

“Aku sudah bilang, aku tidak suka di panggil seperti itu. Seperti nama perempuan.” Tukas James.

“Tidak bagiku. Agincourt terlalu panjang.”

“Kau bisa panggil aku James, seperti biasa!”

“Aku bosan, Agi.”

“Demi tuhan, Arthur!”

“Kau boleh panggil aku ‘Fred’ jika nama belakangku terlalu panjang.”

“Itu masih nama laki-laki!” Kata James yang sekarang kelihatannya sudah mulai menyerah. Dia mengangkat bahu lalu mengatakan. “Baiklah, lain kali aku membangunkanmu dengan cara yang lebih sopan. Aku janji.”

“Ah itu baru temanku, James!” Kata Arthur besemangat sambil berdiri dari tempat tidurnya, dia sudah mendapatkan energinya kembali. Sementara itu James hanya menghela napas panjang lalu menggeleng perlahan.

Sekitar pukul 9.00—2 jam setelah James membangunkan Arthur—Dua orang pria itu turun ke bawah untuk sarapan. Setelah melewati koridor dan sekali tersasar, akhirnya mereka sampai di restoran. Tidak seperti penginapan pada umumnya, restoran itu luas, dengan banyak sekali meja bundar yang masing-masing memiliki 4 kursi mengitari meja tersebut. Semua tersusun dengan rapi. Sesaat setelah mereka akan berjalan lebih jauh memasuki restoran, seorang pelayan menghampiri mereka, membungkuk, lalu berkata dengan sopan.

“Maaf, Sir. Tapi seperti yang anda lihat, saat ini sudah tidak ada meja yang kosong lagi. Sekali lagi kami mohon maaf.” Kata pelayan tersebut dengan nada ramah.

“Ah, tidak apa-apa. Toh tidak akan lama sampai akhirnya ada yang selesai makan.” Kata James.

Si pelayan tersenyum lega, lalu berkata “Sementara itu, Sir. Kalian bisa menunggu di teras sebelah sana. Jangan lupa menuliskan nama kalian disini.” Lalu dia menunjukan sebuah buku untuk mendaftar kepada Arthur dan James. Setelah menuliskan nama mereka, segera mereka menuju teras tempat mereka menunggu, dan setelah mereka sampai, mereka melihat ada 3 orang yang sedang mengobrol, 2 orang wanita, yang satu masih muda sekali dan sangat cantik, dan wanita yang satu lagi sudah agak tua, berumur akhir 40-an, dan bermata biru. Setelah itu ada seorang pria yang juga masih sangat muda. Arthur bisa menebak bahwa wanita dan pria yang muda itu adalah pasangan. Mereka duduk berdekatan. Tapi dia tidak tahu siapa wanita yang sudah agak tua itu. Mereka duduk di kursi yang mengitari meja bundar, tapi mejanya lebih kecil, dan ditutupi payung.

“Lihat. Sepertinya giliran kita akan lumayan lama.” Bisik James mengeluh.

“Sepertinya tidak. Mereka tidak mungkin makan terlalu lama, karena harus bersiap-siap untuk perjalanan mendaki.”

“Ah, benar juga.” Kata James senang.

“Oh, lihat. Ada yang tidak kebagian tempat juga!” Kata si pria yang menunggu disitu saat melihat Arthur dan James. “Marilah bergabung dengan kami. Ayo jangan malu-malu.” Lanjutnya penuh semangat.

James dan Arthur merasa tidak enak untuk menolak ajakan pria itu, karena kelihatannya pria itu menyenangkan. Mereka menarik kursi dari meja lain, lalu memposisikannya di dekat 3 orang yang sedang mengobrol itu.

“Nama saya Robert Carroway.” Katanya dengan ramah, lalu sambil memperkenalkan dua orang yang bersamanya dia melanjutkan “Ini tunangan saya, Keira, dan ini Mrs. Robinson. Kita baru saja bertemu tadi.”

“Iya. saya tadi tidak kebagian meja, dan saat saya kesini, tiba-tiba saja Mr. Carroway mengajakku untuk bersama dan mengobrol. Dia orang yang supel!” Kata Mrs. Robinson.

“Kalian sudah menikah?” Tanya Arthur kepada Robert Carroway.

“Belum. Kami baru bertunangan. Tapi secepatnya kami akan menikah.” Kata Mr. Carroway. “Kalau aku boleh tahu, siapa nama kalian?” Lanjutnya.

“Ah tentu,” Jawab Arthur. “Arthur Fredegund.” Jawabnya, lalu menunjuk dengan sopan kearah James. “Ini partner saya, James Agincourt.” Lalu setelah itu James dan Mr. Carroway tersenyum satu sama lain.

“Nah, Mrs. Robinson. Kalau Mr. dan Mrs. Carroway liburan disini bersama, anda pasti bersama suami anda bukan? Aku tidak melihatnya.” Tanya James Agincourt dengan sopan.

“Oh, tidak. Suami saya sudah meninggal dua tahun lalu. Saya disini bersama anak saya, tapi dia sudah pergi ke kota tadi pagi. Namanya Julian Robinson, dia baru 17 tahun.”

“anda melepas anak anda pergi sendiri di daerah asing ini?” Tanya Arthur.

“Aku merasa dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendri, Mr. Fredegund.” Jawab Mrs. Robinson dengan agak ketus.

“Baiklah, nyonya. Anda orang Amerika?” Tanya Arthur

“Ya, kami dari Dallas.”

“Dan anda, Mr. Carroway?” Sekarang matanya menghadap Mr. dan Mrs. Carroway.”

“Kami orang inggris. Kami berasal dari Nortampton.” Jawab Mr. Carroway.

“Ah, aku suka tempat itu. Kampung halamanku!” Kata James.

“Sedangkan anda sendiri?” Tanya Mr. Carroway

“London.” Jawab Arthur. “Kami bekerja untuk Scotland Yard, dan kebetulan memang saat ini kami mendapat hak untuk berlibur.”

“Scotland Yard!” Tiba-tiba Mrs. Carroway berseru. “Orang-orang yang bekerja disana hebat-hebat! Aku sebetulnya berharap Robert bekerja menjadi detektif di tempat itu juga.”

“Jangan bercanda, sayang. Aku melihat mayat saja tidak tahan. Bagaimana nanti kalau aku dimasukan ke bagian pembunuhan?” Kata Mr. Carroway sambil tertawa kecil. “Ah, Mr. Fredegund dan Mr. Agincourt. Kalian pernah menyelesaikan kasus pembunuhan? Apakah kalian bekerja di bagian pembunuhan?” Lanjutnya.

“Iya, dan sudah lumayan banyak kasus yang kami selesaikan. Yang paling sulit itu pembunuhan di Night Heaven Bar.”

“Ah, itu kasus yang terjadi tahun 1948!” Seru Mr. Carroway.

Arthur mengangguk lalu melanjutkan. “Ya tepat. Dua tahun yang lalu. Saat itu ada orang yang duduk di sebelah saya, kita mengobrol banyak, dan lima menit kemudian tiba-tiba dia menaruh kepalanya di atas lengannya di meja, dan saat itu saya kira dia tidur karena mabuk, padahal dia baru minum segelas. Tapi ternyata saat saya mencoba membangunkannya dengan mengguncang tubuhnya, tiba-tiba dia jatuh dari kursi dan tergeletak di lantai. Saat itu saya pikir dia mati karena suatu penyakit, tapi setelah dipikir, orang itu sangat sehat. Ternyata dia mati di bunuh, ada zat racun yang terdapat pada gelas. Yang membuat saya bingung saat itu adalah, tidak ada orang yang mendekatinya, dan jika seandainya pelayan bar memasukan racun ke minuman, aku pasti melihatnya.”

“Lalu bagaimana cara si pelaku membunuhnya? Siapa dan APA Motifnya?”

“Ternyata benar dugaan saya, si Pelayan bar yang memberinya minumanlah pelakunya. Racunnya di lumuri ke serbet dan dia memakai serbet itu untuk mengelap gelas yang akan dipakai si korban sebelum menuangkan minuman, dengan begitu racun akan menempel, lalu dia menuangkan minuman dan memberikannya ke si korban. Racun itu bekerja cukup lama. Motifnya, karena masalah pribadi saja.”

“Oh begitu. Bagimana anda bisa tahu tentang serbet itu?” Tanya Mr. Carroway, dan sementara itu yang lain juga menyimak dengan penuh rasa penasaran.

“Ah, pelayan itu sangat bodoh. Dia tidak segera memusnahkan barang bukti karena saat itu saya, dan rekan-rekan kepolisian langsung mengumpulkan semua orang yang ada di situ di suatu ruangan dan tidak ada yang boleh pergi sebelum pemeriksaan dan interviu selesai. Tapi pelayan itu malah mencoba untuk memusnahkan bukti di saat seperti itu. Jika seandainya dia diam saja, maka tidak akan ketahuan bahwa serbet itu ada racunnya. Tidak terpikirkan olehku.”

“Bagaimana bisa ketahuan?”

Arthur mengambil napas, lalu melanjutkan “Dia pergi ke toilet dan kepergok oleh saya. Saya bertanya apa yang dia lakukan, dan dia menjawab ingin buang air. Tapi disitulah saya memperhatikan. Dia sedang menggenggam serbet itu dan serbet itu basah. Saat saya menanyakan mengapa serbet itu basah, dia bilang karena ketumpahan minuman. Karena serbet itu kan biasa dipakai untuk mengelap gelas yang mash bersih. Saya langsung mengambil serbet itu dan menciumnya, kalau-kalau kecurigaan saya benar. Dan ternyata dugaan saya benar, saya mencium bau racun sama seperti yang ada di gelas!”

“Anda memang hebat! Betul-betul detektif hebat!” Seru Mr. Carroway.

Tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang kepada mereka dan memberitahukan bahwa 2 meja sudah kosong, lalu Robert Carroway, Keira Carroway dan Mrs. Robinson masuk dengan sedikit berbasa-basi dengan Arthur dan James.

“Bercerita membuatku tambah lapar!” Keluh Arthur.

CHAPTER 3

“Jadi kau benar-benar tidak ingin ikut perjalanan mendaki, Keira?” Tanya Robert Carroway kepada istrinya. Mereka sedang dikamar pada saat itu, sedangkan orang-orang kebanyakan sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan.

“Ah tidak. Aku sedang kurang enak badan.” Jawab Keira Carroway sambil memegang kepalanya.

Sambil berjalan kearah jendela Robert berkata. “Baiklah kalau begitu.”

“Lagipula kita bisa melihat pemandangan dari sini. Indah sekali.” Lanjutnya sambil menghadap ke jendela, dan menikmati pemandangan yang bisa dilihat dari jendela besar yang sealigus pintu menuju balkon itu.

“Ya,” Kata Keira sambil bangkit dari tempat tidur dan jalan menghampiri tunangannya lalu memeluknya dari belakang. “Lebih baik kita menghabiskan waktu berdua di balkon sambil minum teh. Bagaimana?”

“Tidak ada yang lebih baik dari itu.” Kata Robert tersenyum lalu mencium tunangannya.

Setelah itu, Robert Carroway menggeser jendela yang mengarah ke balkon dan duduk di kursi, sementara istrinya menyiapkan secangkir teh untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian istrinya datang membawa dua cangkir teh lalu meletakkannya di meja.

“Oh,” Seru Keira saat melihat di bawah, para wisatawan sedang berbaris, dan paling depan ada si pemandu sedang memberikan pengarahan. “Mereka akan segera berangkat.”

“Benar.” Jawab calon suaminya, lalu Robert menghadap kearah Keira lagi. “Apa mungkin hanya kita saja yang tidak ikut?”

“Aku tidak tahu. Tapi kurasa bukan hanya kita. Mungkin ada beberapa orang yang fisiknya sudah tidak kuat.” Kata Keira sambil meminum tehnya sedikit.

Robert mengangkat gelasnya juga, lalu berkata. “Mungkin.”

“Robert. Kita akan menikah setelah kita pulang nanti, kan?” Tanya Keira dengan ekspresi wajah penasaran.

“Ya, betul. Kita akan mengadakan pesta yang meriah. Setelah itu kita akan pergi lagi ke Paris.” Jawab Robert dengan nada tegas. “Oh, dan kau akan terkejut setelah melihat perhiasan yang ku pesan untukmu!”

“Apakah kau tidak terlalu boros, Robert?” Kata Keira khawatir. “Lebih baik kita menabung untuk masa depan. Untuk anak dan cucu kita nanti.”

Robert mengangkat alisnya lalu dengan ekspresi menyebalkan dia berkata. “Tenang saja. Kau kan tahu aku ini—“ Sebelum Robert sempat menyelesaikan kalimatnya Keira memotongnya “ya aku tahu kau orang kaya. Tapi kan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimanapun juga kita butuh persiapan.”

Robert memegang tangan tunangannya lalu berkata dengan suara lembut. “Iya, aku tahu kau khawatir. Terima kasih karena telah mengingatkanku. Memang tidak ada salahnya khawatir, tapi sebaiknya jangan terlalu khawatir.”

Lalu Robert mengeluarkan cerutu dari celananya lalu menyulutnya. Sementara itu mereka melanjutkan mengobrol dengan mesra, sampai akhirnya the mereka habis dan Robert memninta diri untuk berjalan-jalan menghirup udara segar. Sedangkan Keira ingin berbaring sebentar.

Robert berjalan-jalan sambil merokok di sekitar penginapan yang besar dan mewah tersebut. Terkadang dia melihat beberapa orang yang terburu-buru karena terlambat untuk berkumpul bersama para wisatawan lain yang ingin mendaki. Saat berbelok di persimpangan, Robert bertubrukan dengan seseorang yang memakai baju pendaki. Si pendaki itu minta maaf dan segera berlari sampai akhirnya hilang dari pandangan Robert. “Terburu-buru sekali dia.” Katanya dalam hati, lalu melanjutkan perjalanan. “orang yang tadi itu,” Robert melanjutkan pemikirannya selagi berjalan-jalan. “caranya berpakaian mencolok sekali! Wajahnya hampir tertutup begitu. Kalau saja ada sesuatu yang terjadi—entah itu apa—dia pasti yang pertama dicurigai. Tapi orang itu memang benar-benar aneh.” Katanya, lalu berpikir sejenak. “Ah, sudahlah.”

Beberapa menit kemudian Robert sedang duduk di tempat duduk yang dibuat dari marmer di halaman belakang penginapan tersebut, sambil memandangi air mancur indah dia berkata dalam hati. “Penginapan ini sungguh mewah, tidak salah aku memilihnya.” Setelah itu Robert mendengar suara kasar dan serak seorang pria di belakangnya. “Pemandangan yang indah ya? Lebih cocok untuk dinikmati bersama seseorang.” Kata suara itu, lalu Robert menghadap kebelakang dan melihat sesosok pria berumur kurang lebih 50 sedang berdiri di belakangnya dan memandang ke gunung. “Boleh aku duduk disini?” Kata Pria itu. Lalu Robert mengangguk dan menggeser tubuhnya ke kiri, memberi tempat pada pria itu.

“Ah, lancing sekali aku tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu.” Gumam pria asing itu. “Namaku Charles de Haviland.”

“Robert Carroway.” Kata Robert sambil bersalaman dengan orang yang bernama de Haviland itu. “Kau orang Inggris?”

“Tentu. Saya yakin anda juga. Saya melihat ciri khas orang Inggris pada diri anda, Tuan Carroway.”

“Begitu juga saya. Sikap anda sangat formal.” Kata Robert Carroway sambil tersenyum, sepertinya dia menyukai teman barunya ini.

“Ah,” de Haviland berdeham lalu berkata. “Seperti yang saya katakana barusan, pemandangan seperti ini lebih enak dinikmati bersama seseorang—“ Charles de Haviland sengaja tidak melanjutkannya, lalu Robert mengangguk tanda mengerti dan berkata.

“Ya, saya mengerti maksud anda. Memang saya datang kesini bersama tunangan saya, tapi katanya dia sedang tidak enak badan.”

“Tunangan anda ya?” Kata de Haviland dengan semangat. “Gairah muda! Sudah lama saya tidak merasakannya!” Lalu dia tertawa sebentar dan melanjutkan. “kapan kalian akan menikah?”

“Sepulangnya kami dari sini.” Jawab Robert singkat.

“Aha. Tuhan memberkati kalian!”

“Anda sendiri sudah menikah, tuan de Haviland?”

“Pernah!” Kata de Haviland lalu dia mendesah. “Tapi saya sudah bercerai. Jadi saya sedang menikmati sisa hidup saya sebagai orang bebas!” Lanjutnya dengan bangga.

“Maaf,” Kata Robert dengan segan. “Tapi bukankah mempunyai keluarga, dan memiliki anak adalah suatu kebanggaan, jadi anda mempunyai seorang penerus.”

De Haviland memandang ke arah lawan bicaranya, lalu menangguk dengan lembut. Dia mendesah, menutup matanya lalu menunduk. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, sehingga dia tidak mengatakan apa-apa. Lalu karena merasa tidak enak akhirnya Robert buru-buru menambahkan. “Oh, maaf. Saya tidak bermaksud—“

“Ah, lupakan saja masalah itu!” Kata de Haviland yang air wajanya telah kembali bersemangat. Lalu mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. Mereka banyak mengobrol tentang pengalaman, pekerjaan, dan kehidupan mereka di masa lalu. Robert Carroway bercerita tentang ayahnya yang meninggal saat perang, lalu semua kekayaan ayahnya di wariskan.

“Ayahku adalah seorang pengusaha sebetulnya, tapi saat peperangan berlangsung, dia di paksa untuk mengikuti militer.” Kata Robert sambil menatap ke langit.

“Perang memang neraka!” Seru de Haviland.

Setelah beberapa lama mereka melewatkan waktu mengobrol, akhirnya de Haviland meminta diri untuk kembali kekamarnya, dan Robert juga ingin kembali untuk menemui istrinya.

“Baiklah, sampai berjumpa lagi!” Kata de Haviland sambil menepuk kedua tangannya, tapi tetap menjaga wibawanya.

“Senang berkenalan dengan anda.” Kata Robert. De Haviland membungkuk sedikit, tanda member hormat, lalu berpaling dan berjalan menjauh.

CHAPTER 4

Di lorong penginapan itu yang diterangi oleh beberapa lampu, seorang pemuda berjalan menyusurinya. Dengan langkah yang tegap mencerminkan sifatnya yang tegas dan berani. Umurnya sekitar 17 tahun, matanya yang biru terang menatap ke depan selagi dia berjalan. Badan anak itu besar dan bagus, sepertinya dia orang yang rajin berolah raga. Wajahnya tidak terlalu tampan tapi cara berpakaiannya sangat menarik. Remaja gagah itu menghentikan langkahnya di depan pintu kamar lalu mengetuk pintu yang berada di depannya. Tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam, dan seorang wanita membuka pintu itu satu atau dua inci.

“Oh,” Kata wanita yang membuka pintu. “Julian! Kau sudah kembali.” Lanjutnya sambil membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Julian masuk. Julian Robinson, dia adalah anak laki satu-satunya dari Mrs. Robinson. Ibunya mempersilahkannya masuk, lalu mengunci pintu kembali. Mrs. Robinson melipat tangan di depan dadanya, lalu dengan menyipitkan mata dia berkata kepada anaknya. “Darimana saja kau, Julian?”

Julian, mengambil segelas air dari dapur, lalu kembali ke ruang tengah, meneguk airnya sampai habis lalu menjawab pertanyaan ibunya barusan. “Kau tahu kan, bu? Aku habis dari kota. Aku bosan kalau harus diam disini terus.”

“Kau sudah sarapan?”

“Tentu. Aku kan selalu bawa uang sendri.”

“Kau tidak ingin ikut mendaki?”

“Tidak. Aku lelah. Tadi aku ke kota sekalian berolah raga. Lagipula kalau aku ikut mendaki, nanti kan tidak ada yang menjaga. Ibu disini. Ibu akan sendiri.”

Mrs. Robinson tersenyum lembut kepada anaknya, lalu berjalan menghampiri Julian dan memeluknya. “Kau memang anakku, Julian! Aku bangga padamu.”

“Itu janjiku. Setelah ayah meninggal, maka aku lah yang akan melindungi ibu. Akan aku lakukan apapun, bu.” Julian menatap ibunya dengan tajam namun penuh kasih sayang. “Apapun.” Lanjutnya.

“Ayahmu pasti bangga padamu, Julian. Begitu juga aku.”

“Sebentar lagi aku akan keluar untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan. Apa ibu mau ikut?”

“Ah,” Kata Mrs. Robinson sambil berjalan menuju sebuah sofa yang nyaman lalu menjatuhkan dirinya di sofa tersebut. “Aku akan tinggal disini dan membaca buku. Berjalan-jalan saja kau sendiri.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan mandi dulu sebentar.” Kata Julian, lalu ibunya mengangguk dengan senyum ke ibuan.

“Ah, lihatlah. Bahkan penginapan ini memiliki kedai minuman yang bagus. Tapi ini mengingatkanku pada kasus dua tahun lalu.” Seru Arthur Fredegund saat mereka memasuki kedai minuman di dalam penginapan tersebut. Saat itu pukul 13.00 siang. Kebanyakan wisatawan yang menginap disitu sedang pergi mendaki, jadi kedai minuman itu sepi. Arthur dan James melihat seorang pria tua sedang minum sendiri di depan meja pelayan bar, tapi mereka berdua tidak memperdulikannya. Mereka memesan minuman kepada pelayan bar, setelah itu duduk di tempat duduk yang berhadapan.

“Memang sebaiknya menikmati liburan ini sebelum kita kembali bekerja.” Kata Fredegund sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Itu memang hobinya, jadi tidak aneh jika rambutnya agak berantakan. Pada masa kecilnya dulu, jika dia sedang merasa bosan, atau sedang berpikir keras maka itu yang dia lakukan. Sementara itu, James yang duduk di depannya memberikan senyum kecil lalu matanya melihat-lihat ke sekitarnya.

“Ternyata bukan hanya kita kan yang tidak ikut mendaki.” Kata James Agincourt saat matanya tertuju pada pria tua yang duduk sendirian sambil meneguk minumannya. Beberapa kali Fredegund dan James mendengar pria tua itu memesan minuman lagi setelah minumannya habis.

“Orang itu peminum berat. Apa tidak bahaya bagi kesehatannya?”

Arthur yang mendengar itu mengangkat bahu, lalu berkata dengan nada dingin dan tidak peduli. “Sudah ingin mengakhiri hidupnya, mungkin,”

“Hey!” James memberi isyarat pada Arthur untuk tidak bicara terlalu keras. “Jaga omonganmu.”

Arthur mendesah keras lalu menyenderkan dirinya pada kursi, lalu dia bersiul dengan keras. Terkadang tingkah lakunya memang menyebalkan, bahkan sahabatnya sendiri saja kadang-kadang ingin sekali memukul wajahnya. Hal ini membuat orang bertanya-tanya ‘Apakah dia benar-benar seorang detektif?’. Hening. Arthur bersandar di kursinya sambil merokok, sedangkan James memainkan kumisnya—yang menurutnya membanggakan—sambil menikmati minuman pesanannya. Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan lalu membuka mata hijaunya lebar-lebar.

“Itu si Carroway dan istrinya.” Gumam Arthur.

“Calon istrinya.” Sambung James.

“Apa bedanya? Toh nanti mereka akan menikah juga!” Katanya ketus. James tahu kalau saat itu mood temannya sedang buruk, jadi dia tdak berkata apa-apa lagi. Mengapa? Mungkin dia bosan.

Arthur dan James melihat Carroway dan calon istrinya melangkah menuju kepada si pria tua yang duduk sendirian. James berpikir bahwa mungkin Carroway tidak melihat mereka duduk disitu. Lalu tidak lama Carroway sudah sampai tepat di sebelah pria yang duduk itu, lalu dengan sopan menepuk pundak pria tua sambil mengatakan “Tuan, de Haviland?”

Pria tua itu membuat bunyi ‘hm?’ pelan lalu menengok kebelakang. Robert Carroway bisa melihat mukanya yang merah. “Sepertinya dia minum terlalu banyak.” Pikirnya. De Haviland melongo sebentar—mengumpulkan kesadaran—lalu dia berseru “Oh, tuan Carroway, Dan—“ Dia berhenti sejenak.

“Keira Kingsley.” Jawab Keira. “Sebentar lagi nama saya menjadi Keira Carroway.” Lanjutnya sambil melihat ke calon suaminya.

“Ah,” de Haviland menepuk tangannya. “Ya. Calon suamimu itu sudah bercerita tentangmu. Dia laki-laki yang baik. Saya yakin anda tidak akan menyesal memilihnya!”

“Saya yakin soal itu.” Kata Keira tersenyum manis.

“Dan, anda Carroway. Anda hebat memilih wanita. Dia wanita yang menarik. Lihatlah matanya!”

“Ha, ha, ha. Bisa saja anda ini.” Carroway merasa terhibur, lalu dia menghadap ke Keira. “Ini tuan, Charles de Haviland. Sudah ku ceritakan bukan? Aku bertemu dia saat sedang duduk sendiri di halaman belakang. Beliau orang yang menyenangkan.”

“Terlalu berlebihan.” De Haviland tertawa pelan, kadang-kadang dia cegukan karena terlalu banyak minum. Tapi dia menahan itu, kalau tidak, mau di kemanakan harga dirinya.

Dengan menepuk kedua dengkulnya dengan tangan, de Haviland berdiri, lalu meminta diri kepada lawan bicaranya untuk kembali ke kamar. Dia mengatakan dia sudah terlalu tua untuk berjalan-jalan terlalu lama, jadi setiap satu atau dua jam dia harus istirahat dulu di kamar. “Sampai bertemu di makan malam kalau begitu!” Katanya sambil berjalan membelakangi Carroway dan Keira. Setelah itu Carroway memesan minuman lalu bergumam kepada tunangannya “Carilah tempat duduk.”

Keira mencari-cari dan saat itulah dia melihat James dan Arthur sedang duduk sambil melihat ke arah mereka. Keira menghampiri Arthur dan James, bersalaman dan berbasa-basi. Tidak lama kemudian Robert menyusul sambil membawa dua minuman. James tahu diri, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pindah di sebelah Arthur, Sementara itu Robert dan Keira duduk bersebrangan dengan James dan Arthur.

“Wah, kita bertemu lagi, tuan Detektif?” Kata Carroway dengan bersahabat.

“Ya benar. Anda tidak ikut mendaki?” Balas Arthur.

“Tidak. saya lebih senang tinggal disini bersama calon istriku. Anda sendiri?”

James mengerutkan dahinya lalu berkata. “Soal itu, saya dan Arthur memang tidak suka mendaki. Jadi tujuan kami disini hanya untuk menikmati pemandangan sambil minum the, ata melakukan kegiatan lain.”

“Benar. Mungkin besok juga kami akan jalan-jalan ke kota.” Sambung Arthur. “Bagaimana kalau kalian ikut serta?”

“Dengan senang hati.” Robert melihat ke Keira lalu bertanya. “Kau tidak keberatan kan?”

Keira menggeleng dengan lembut lalu menjawab dengan suaranya yang enak didengar. “Tentu saja tidak.”

Setelah mengobrol beberapa lama, Robert meminta Arthur untuk menceritakan pengalamannya yang lain dalam menangani kasus pembunuhan. Tentu saja Arthur tidak akan menolak; dia bercerita tentang kasus pembunuhan yang terjadi pada awal tahun 1950. “Lima bulan yang lalu ya.” Gumam Robert. Saat itu adalah kasus kematian seorang wanita di Bandara, wanita yang malang itu ditemukan tewas di toilet wanita. Dia tewas di cekik. Robert dan Keira mendengar cerita Arthur dengan cermat, dan penuh ketertarikan. Terkadang mereka memberikan komentar yang bagus, James hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, karena dia juga berperan saat kasus itu. Terkadang juga James yang bercerita kalau-kalau Arthur lupa. Mereka mendapatkan waktu yang menyenangkan berbicara dengan Arthur dan James.

Setelah Arthur selesai, gantai Robert yang bercerita tentang kehidupannya. Dia sangat takut dengan mayat; baginya mayat adalah mimpi buruknya. Dia bercerita bagaimana dia pernah bermimpi dia di kelilingi mayat yang berlumuran darah, lalu tiba-tiba mayat itu bangkit dari kematian dan berjalan terhuyung menghampirinya. Semua orang tertawa mendengar cerita Robert.

Setelah mereka selesai mengobrol dengan penuh semangat; Keira dan Robert meminta diri untuk kembali ke kamar mereka. Arthur melihat jam dinding yang ada di bar, saat itu masih pukul 14.30. Tidak terasa waktu bergerak begitu cepat. Mereka terbawa oleh suatu obrolan!

“Baiklah masih ada waktu sampai makan malam.” Kata Arthur sambil beranjak dari tempat duduknya.

Mereka menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang mereka bisa lakukan disitu. Arthur ingin mencoba fasilitas-fasilitas yang di sediakan di penginapan tersebut. Dia menemukan tempat pemandian air hangat, karena udaranya dingin, kenapa tidak di coba. Sementara itu James hanya duduk di luar, berharap ingin melihat matahari terbenam. Pada pukul 18.00 para wisatawan yang melakukan perjalanan mendaki sudah kembali dari perjalanan mereka. Arthur dan James cepat-cepat ke tempat makan untuk memesan meja sebelum akhirnya mereka tidak kebagian lagi. Dalam perjalanan mereka menuju ke tempat makan, seorang pelayan penginapan lari dengan wajah panik ke arah Arthur dan James. Pelayan wanita itu berhent tepat di depan Arthur, nafasnya tersengal. Dia mencoba mengatakan sesuatu tetapi sepertinya sulit sekali baginya untuk mengeluarkan kata-kata.

“Maaf,” Arthur memulai. “Ada apa,nona? Tenang, dan katakana apa yag ingin anda katakan.”

Pelayan muda yang menarik tersebut mula mengatur nafasnya, dia berdiri tegak lalu mulai berbicara dengan nada yang wajar namun masih terdengar panik dan bingung.

“Saya butuh dokter. Segera!” Katanya.

Arthur menyipitkan matanya; pandangannya menuntut keingin tahuan yang mendalam. “Oh, apakah ada yang mengalami cidera saat mendaki?”

“Bukan—“ Pelayan itu mengambil nafas dalam lalu melanjutkan. “Seorang tamu telah meninggal!”

James membuka matanya lebar-lebar. Ekspresi wajahnya mencerminkan keterkejutan. “Apa-apa an ini?!” Katanya. “Tenang dulu.” Tegur Arthur. “Ceritakan”

“Begini,” Kata si pelayan. “Barusan, saya berniat ingin mengantarkan makanan yang dipesan oleh tamu tersebut—“ dia berhenti sejenak.

Arthur mengangguk pelan. “Lanjutkan, nona.” Gumamnya.

“Ya, saat saya mengetuk pintu kamar beberapa kali, tidak ada jawaban. Saya kira penghuni kamar itu sedang pergi sedang berada diluar. Akhirnya saya melanjutkan tugas yang lain, dan setelah dua jam saya kembali lagi. Takutnya penghuni kamar itu telah lama menunggu pesananya.”

“Maaf,” Kali ini Arthur yang menyela. “Jam berapa kira-kira?”

“saya pertama datang pukul 16.00” Katanya. “Lalu saya kembali beberapa menit yang lalu, saya mengetuk dan pintu itu terbuka perlahan. Ternyata pintu itu tidak di tutup rapat. Saat saya membuka pintu lebar-lebar dan memasuki kamar, ruangan tengah kosong. saya tidak mendengar suara apa-apa, maka saya berasumsi bahwa tidak ada orang di situ. Maka saya langsung menuju ke ruang kamar tidur. Dan disitulah saya menemukannya. Mayat pria itu. Ah, saya tidak tahan melihatnya.”

“Cukup,” Kata Arthur sambil member isyarat menggunakan tangannya. “Antar kami kesana.”

CHAPTER 5

“Oh,” Kata seorang pria besar yang datang 15 menit setelah pelayan menemukan mayat seorang tamu. “Jadi anda ini detektif Scotland Yard?” Kata pria itu kepada Arthur dan James.

“Ya,” Jawab Arthur datar. “Saya Arthur Fredegund dan ini Captain Agincourt.” Lalu mereka saling bersalaman.

“Saya Inspektur Fletcher.” Pria besar dari kepolisian itu bicara dengan nada yang seperti orang sok penting. “Albert Fletcher.”

Inspektur Fletcher di berikan isyarat oleh Arthur untuk memasuki kamar yang terdapat mayat seorang tamu. Saat memasuki ruang tengah di kamar, Inspektur Fletcher memandang ke seluruh ruangan. Seorang opsir polisi mengikuti di belakangnya sambil menyiapkan buku catatan dan pensil. Setelah itu dia memasuki kamar dimana mayat tergeletak, posisi tibih mayat itu menghadap jendela, lalu ruangan kamar itu berantakan bukan main.

“Baru kali ini sebuah pembunuhan terjadi di sini.” Gumam Inspektur Fletcher. “Siapa nama korban?” Tanya dia.

“Kami belum memeriksa apapun. Kami menunggu polisi datang.” Cetus James Aginourt.

“Oh?” Kata Inspektur Fletcher tanpa makna apa-apa, lalu dia berdeham dan membusungkan dadanya. “Baiklah kalau begitu, mari kita mulai penyelidikan.”

Inspektur Fletcher memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa ruangan lain di kamar penginapan itu, sedangkan dia sendiri, bersama Arthur dan James akan memeriksa ruangan dimana terdapat tubuh si korban. James Agincourt membungkuk di dekat tubuh korban yang terbaring terlentang, memakai sarung tangan lalu memeriksa saku celana si korban. Sedangkan Arthur hanya berdiri di satu tempat dan memandang menyapu ruangan yang berantakan tersebut. Tidak lama kemudian James menemukan dompet si korban dalam saku celana. Dia membuka dompet tersebut lalu memeriksanya. “Charles de Haviland.” Lalu dia melihat kepada sahabatnya. “Itu nama pria yang tewas ini.”

Arthur mengerutkan muka, diam sejenak lalu berkata dengan suara pelan. “Kalau tidak salah dia adalah pria tua yang minum sendiri di kedai minuman, kan?”

“Oh, betul. Kau berkata sesuatu yang tidak sopan tentangnya.” Kata James sambil berdiri lalu menyerahkan dompet yang ditemukan pada Inspektur Fletcher. Si Inspektur keluar sebentar untuk memberikan barang bukti tersebut pada anak buahnya, dan tidak lama dia kembali. Sambil menatap pada Arthur dan James secara bergantian, dia bertanya. “Kalian kenal pria yang meninggal ini?”

“Tidak kenal. Kami hanya tahu dia. Tadi siang kami melihatnya sedang mabuk.” Jawab James singkat. Lalu Inspektur Fletcher memberikan ‘Oh’ singkat.

“Tapi kami tahu orang yang kenal dengan Tuan de Haviland ini. Dia salah satu dari tamu di penginapan ini juga.” Kata Arthur.

Inspektur Fletcher memberikan isyarat dengan maksud ‘tidak usah’ dengan tangannya lalu berkata. “Itu nanti saja. Sekarang—“ Dia mendesah panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang putus asa. “Apa menurut anda tentang kematiannya? Mungkin dia mati karena di cekik?”

“Sepertinya begitu. Keadaan jenazahnya memberikan petunjuk bahwa dia tersiksa sebelum mati. Mata tidak tertutup. Mulutnya melanga sedikit. Mungkinkah di cekik?” Kata Arthur sambil mengelus-elus dagunya dan membuat bunyi ‘hmm’ panjang. “Ruangan ini berantakan. Apa mungkin ada pertengkaran yang terjadi antara Almarhum dan si pembunuh? Lihatlah, tempat tidur ini berantakan, perabotan banyak yang jatuh.”

Saat itu, tidak ada seorang pun yang mengganggu renungan Arthur. Dia bergerak kesana kemari, lalu dia menggeser jendela, dan menuju balkon. James dan Inspektur Fletcher hanya termangu, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu. Sementara itu, Arthur yang sedang melihat-lihat keadaan balkon juga tidak menemukan sesuatu yang berarti. Dia melihat kebawah, ternyata jarak dari lantai 2—dimana kamar de Haviland berada—dan lantai dasar tidak begitu jauh, jadi kalaupun ada orang yang jatuh pun tidak akan mati, kecuali kalau kepalanya mendarat lebih dulu. Arthur tersenyum samar. Lalu dilihatnya balkon kamar sebelah, jaraknya memang tidak terlalu jauh, tapi cukup nekat untuk melompatinya. Kayu pembatas di balkon itu juga pendek, bahkan orang yang duduk di pembatas tersebut, kakinya masih bisa menginjak ubin. “Bisa saja pelakunya kabur dari sini. Ya,” dia mengangguk samar. “Tapi dia harus punya kemampuan, dan nyali yang besar. Itu yang harus aku cari tahu. Tetapi bisa saja dia keluar lewat pintu, karena pintu terbuka, kan?” Dia terus berpikir, dan berbicara sendiri sampai akhirnya James mengganggu pemikirannya.

“Ada seorang dokter yang mau memeriksa jenazah Tuan de Haviland.”

Setelah itu James dan Arthur masuk kembali kedalam kamar. Didapatinya dokter itu sedang mengobrol dengan Inspektur Fletcher, saat Inspektur sadar akan kehadiran Arthur, dia langsung mengenalkan dokter tersebut padanya. Dokter itu tampan, berambut hitam dan memakai kacamata. Kulitnya agak gelap, dan masih kelihatan muda. Dia memakai pakaian rapi, yakni kemeja putih, dasi merah tua, lalu memakai rompi sebagai pakaian yang paling luarnya. Dia memakai celana bahan yang berwarna coklat gelap dan sepatu hitam yang bersih dan bagus.  Mereka bersalaman, dan dengan nada resmi dan tenang dokter itu memperkenalkan diri dan menjelaskan bagaimana dia bisa sampai tahu tentang kejadian pembunuhan ini.

“Nama saya Ronald Princeton. Saya seorang dokter, saya mempunyai tempat praktek sendiri di Northampton.” Arthur dan James mengangguk secara bersamaan. Lalu Dokter Princeton melanjutkan “Ah, betul. Saya akan menjelaskan kenapa saya bisa kemari.” Dia memperbaiki letak kacamatanya lalu meneruskan. “Tadi saat saya sedang duduk di tempat makan sendirian. Saya berada di situ lebih awal karena takut kehabisan tempat. Padahal tempat itu kan baru akan buka jam 19.00, sebelum itu mereka tidak akan menerima pesanan.” Lalu Arthur berdeham. “Ah, maaf. Ya, tepat jam 18.00 aku sudah ada disana, dan pada 18.10 tempat itu sudah di penuhi pengunjung, karena toh mereka sudah kembali dari perjalanan mendaki. Tidak lama setelah itu seorang pelayan berteriak menanyakan apakah salah satu dari kami ada yang seorang dokter, dan saya pun berdiri.”

Arthur berkata “saya yang menyuruhnya untuk mencari dokter di dalam penginapan daripada di luar, karena aku sangat yakin bahwa pasti ada seorang dokter di antara para wisatawan.”

“Toh, anda memang benar.” Lanjut Dokter Princeton. “Setelah itu dia memanggil saya untuk keluar dari tempat makan dan bicara berdua, dia mengatakan kepada saya bahwa di kamar yang berada di pojik koridor di lantai dua, ada tamu yang meninggal. Denan histeris dia mengatakan bahwa tamu itu kemungkinan di bunuh!”

“Itu yang sedang kami selidiki, dan maka dari itu kami butuh seorang dokter.” Kata Inspektor tiba-tiba.

“Dokter Princeton.” Kata Arthur.

“Ya?”

“Anda berlibur kesini menggunakan jasa wisata?”

“Eh? Tidak.”

“Apa anda kesini bersama seseorang?”

“Tidak saya sendiri, saya belum punya istri. Orang tua saya sudah meninggal dan sanak saudara juga jauh sekali.”

“Baiklah.” Arthur mengangguk penuh pengertian. “Tadi anda ikut perjalanan mendaki?”

“Tidak. saya kesini untuk beristirahat.”

“Anda pergi ke kota?”

“Tidak, saya selalu disini. Terkadang hanya jalan-jalan di sekitar penginapan ini.”

“Kapan anda tiba disini?”

“Dua hari yang lalu.”

“Terima kasih. Anda boleh memeriksa jenazah tuan de Haviland sekarang.”

Arthur tersenyum puas karena mendapatkan jawaban-jawaban yang cepat dan memuaskan dari Dokter tersebut. Dia beranggapan bahwa Dokter Princeton adalah orang yang bisa diandalkan dalam memberikan keterangan. Dokter itu membungkuk di dekat jenazah de Haviland, mengernyit, lalu berpikir sejenak. Arthur, James, dan Inspektur Fletcher tidak ingin menganggu pemeriksaan, jadi mereka menunggu diluar dan menyuruh dua opsir polisi untuk menemani dokter. Mereka berdiri di koridor depan kamar itu, dan mengobrol sementara opsir polisi berlalu lalang. Seorang opsir mengatakan tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan kejadian itu, mereka menemukan koper pakaian almarhum, tapi ya isinya hanya pakaian yang tersusun sangat rapi. Inspektur mengucapkan terima kasih lalu mengisyaratkan anak buahnya untuk melanjutkan.

“Kasus pembunuhan ya,” Kata Inspektur Fletcher dengan lesu dan tanpa semangat. “Ya tuhan, saya benar-benar berada di dalamnya. Saya suka membaca buku cerita detektif, dan saya tidak percaya bahwa saya akan berdiri disini—sekarang, dan menangani kasus pembunuhan yang sebenarnya. Kalian tahu, bahwa ini kota kecil. Kriminalitas disini paling berat ya peramokan. Oh, aku juga pernah menangani kasus narkoba. Tapi pembunuhan—Tidak!” Katanya sambil mengerutkan wajah.

“Tapi di kota-kota besar, kami sudah terbiasa akan hal itu Inspektur.” Kata James.

“Ya, Captain Agincourt. Kota besar itu memang—Yah, sangat rawan.” Kata Inspektur Fletcher, lalu dia membuka mata hitamnya lebar dan melihat ke arah Arthur seolah-olah memohon penjelasan. “Anda tadi sudah melihat-lihat kan Tuan, Fredegund? Bagaimana kesimpulan anda?”

Arthur baru akan membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi dia berhent sebentar. Dia menoleh ke arah James dan menyuruhnya mengeluarkan buku catatan kecil yang selalu di bawa dan mencatat hasil pengamatannya. “Akan dibutuhkan nanti. Percayalah.” Gumamnya. James mematuhinya, lalu bersiap-siap untuk menulis. Tangannya sudah menggenggam pulpen hitam. Setelah itu Arthur bercerita panjang lebar tentang pengamatannya. Inspektur mengangguk-angguk dan member komentar kadang-kadang. Sedangkan James sibuk menulis. Tidak lama setelah itu Dokter Princeton datang menghampiri mereka, dia sudah selesai memeriksa.

“Jadi bagaimana dokter?” Tanya Inspektur.

“Tuan, de Haviland ini meninggal sekitar 2 ham yang lalu, pada pukul 15.30,” Katanya lalu mendesah. “Untuk penyebab kematiannya saya masih belum pasti. Menurut saya almarhum meninggal karena di cekik. Itu bukan bidang saya tentu.”

“Begitukah? Baiklah, terima kasih banyak, dokter. Anda akan saya panggil nanti untuk dimintai keterangan.” Kata Inspektur. Setelah dokter itu pergi meninggalkan mereka bertiga, mereka memulai diskusi kembali. “Jadi bagaimana?” Tanya Inspektur yang tampang ekspresi wajah kebingungan.

“Menunggu autopsy terlalu lama. Aku ingin menyelesaikan kasus ini, malam ini juga, atau paling lambat besok pagi. Kita harus meminta keterangan dari para tamu.” Kata Arthur dengan tegas dan penuh ambisi.

Tiba-tiba James tersenyum penuh kemenangan dan berkata dengan tenang “Betul. Lagipula kalau Tuan, de Haviland meninggal pukul 15.30 maka akan lebih muda bagi kita. Karena pukul segitu para wisatawan masih di luar sana!”

“Ah benar juga!” Kata Arthur membuka matanya lebar-lebar. “Baiklah, Inspektur tolong perintahkan anak buahmu untuk mengumpulkan seluruh tamu yang tidak ikut perjalanan mendaki. Aku dan James akan mencari ruangan yang pantas untuk melakukan wawancara dengan semua yang terlibat.”

CHAPTER 6

Pintu kamar James dan Arthur terbuka dengan perlahan, pintu itu terbuka perlahan dan dari ambang pintu muncul seorang pelayan wanita yang wajahnya biasa saja, dan kulitnya lusuh. Dia berjalan dengan sangat lambat, seperti berjalan telanjang kaki di pecahan kaca. James dan Arthur telah memakai kamar penginapan mereka sebagai tempat untuk meminta keterangan dari para tersangka dan saksi. Melihat sikap si pelayan, Arthur segera mencondongkan tubuhnya kedepan lalu berkata sambil memberikan isyarat dengan tangannya. “Silahkan duduk, nona. Tidak apa-apa. Kasus ini akan kami selesaikan jika anda mau jujur.”

Pelayan tersebut akhirnya sampai pada sebuah kursi yang diposisikan menghadap James dan Arthur yang duduk di sebuah sofa yang nyaman, di antara kursi kayu dan sofa ada meja panjang yang dilapisi kaca, dan ada dua cangkir kopi di meja itu.

Sambil terisak wanita itu bekata dengan suara ketakutan. “Belum pernah hal seperti ini terjadi! Selama saya bekerja disini—belum pernah. Tolong selesaikan kasus ini, dengan cara apapun. Temukan pelakunya!”

James dan Arthur mencoba keluar dari luapan emosi si pelayan, dan setelah pelayan itu mulai tenang, James berkata dengan suaranya yang khas dan menarik bagi wanita. “Baik, nona. Seperti yang teman saya katakana tadi, jika anda jujur maka kasus ini tidak ada apa-apa bagi kami.” Si pelayan itu mengangguk dengan pelan sambil mengusap air mata di wajahnya. James mencondongkan badannya kedepan sambil mempersiapkan buku catatan dan pensil, dan Arthur duduk bersandar di kursi dengan santai, menyatukan ujung-ujung jarinya dan dia menanyakan pertanyaan pertama.

“Siapa nama anda, nona?”

“Carol Black.”

“Baiklah, Nona Black. Sekarang saya ingin anda menceritakan segala sesuatu secara detil. Ceritakan semuanya dari saat anda menerima panggilan dari tuan de Haviland untuk mengganti seprainya, sampai anda menemukan jenazahnya. Apa saja kegiatan anda pada waktu itu?” Kata Arthur.

Si pelayan itu mengangguk tanda mengerti, mengambil napas panjang lalu memulai penjelasannya. “Baiklah. Tadi siang, sekitar pukul 15.00 saya di panggil oleh kepala pelayan Tuan Barney. Saya segera berjalan ke ruangannya dalam waktu 5 menit. Setelah itu beliau mengatakan salah satu tamu dari kamar 90 telah memesan makanan cemilan untuk di antar ke kamarnya segera. Dia memesan sandwich kalau tidak salah. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saat saya sampai di kamar tamuu tersebut dan mengetuk pintu, saya tidak mendapat jawaban. Lalu saya pun kembali untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Saya dan dua pelayan yang lain pergi ke kota untuk berbelanja bahan-bahan masakan untuk makan malam sampai pukul 17.35.”

“Anda bilang anda pertama datang pukul 16.00, dan anda mengatakan bahwa tidak ada orang didalam? Anda salah. Anda tidak mendapat jawaban saat mengetuk karena tamu yang memesan makanan sudah meninggal setengah sebelum anda mengantar makanannya.” Kata Arthur.

“Oh, ya tuhan! Saya tidak menyangka.” Nona Black mendekap mulutnya.

Arthur melanjutkan. “Ya, kemungkinan pelakunya ada di dalam saat itu, dan saat dia ingin kabur, anda muncul dan mengetuk pintu. Dia diam di kamar, berusaha untuk tidak membuat suara apa-apa dan memberikan kesan kamar itu kosong. Mudah untuk melakukan itu. Saat anda sudah pergi, barulah si pelaku kabur. Tapi sungguh aneh, dia tidak menutup pintu. Padahal jika dia menutupnya, maka anda tidak dapat menemukan jenazah Tuan de Haviland.”

“Benar juga. Seolah-olah si pembunuh sengaja melakukan itu.”

“Panik. Saat itu dia panik.” Arthur menggumam sendirian.

“Maaf,” Kata sipelayan tiba-tiba. “Apa ada lagi yang ingin ditanyakan?”

“Oh?” Kata Arthur sambil mengadahkan kepala. “Tidak. Anda boleh keluar, terima kasih atas informasinya, Nona Black.”

Pelayan itu tersenyum lalu keluar kamar dan menutup pintu. Arthur menyesap kopinya lalu dia terdiam sejenak. James memecah keheningan dengan bertanya. “Apa yang kau pikirkan?”

“Aku berpikir, jika si pelaku dapat masuk ke kamar de Haviland pastilah pembunuh itu seseorang yang beliau kenal,” Kata Arthur.

“Atau menyamar?” Kata James menambahkan.

“Mungkin juga. Ada dua jalan masuk ke kamar itu. Lewat pintu, atau lewat balkon.”

“Balkon? Jangan bercanda—“

Sebelum James menyelesaikan kalimatnya, Arthur melanjutkan gagasannya. “Aku melihat ada pipa pembuangan di sekitar situ, si pelaku bisa memanjatnya, mencapai sebuah balkon lalu melompat ke balkon kamar de Haviland. Itu tentu butuh keahlian khusus.”

Arthur terdiam lagi. “Tapi balkon tertutup saat itu. Lagipula, jika dia masuk lewat balkon, kenapa dia keluar lewat pintu depan, dan membiarkannya terbuka?” Tanya James.

“Yah, kita memang belum mendapat bukti yang cukup. Setelah wawancara dengan semua tersangka selesai, aku akan kembali ke tempat kejadian dan memeriksa ruangan itu lagi.”

“Sebaiknya kita panggil orang selanjutnya untuk diminta keterangan. Si pelayan itu tidak memberikan banyak petunjuk.” Kata James.

“Memang tidak, tapi yang lain—pasti mereka akan berguna.”

Setelah itu, James beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar. Dia berbicara dengan salah seorang petugas untuk memanggilkan seorang tamu lain yang saat itu tidak mengikuti perjalanan mendaki. Lima menit kemudian, dari ambang pintu muncul seorang wanita berpawakan tinggi. Rambutnya yang pirang di kuncir dengan rapi. Dia mengenakan gaun yang membuatnya anggun, walaupun wajanya biasa saja. Wanita itu memasuki kamar dengan tersenyum dan memandang James dan Arthur bergantian.

“Silahkan duduk, nona—err…” Kata James ramah lalu menatap wanita yang ada di hadapannya.

“Timms,” Kata wanita itu. “Kayla Timms.” Lanjutnya sambil bersalaman, Arthur dan James juga memperkenalkan diri mereka.

“Jadi tuan-tuan. Apa benar telah terjadi pembunuhan di penginapan ini, dan anda meminta keterangan dari seluruh tamu yang tidak ikut mendaki saat pembunuhan terjadi?” Kata Kayla Watson tanpa menunjukan rasa simpati atau apapun. Nada bicaranya kosong.

“Itu betul, nona.” Kata James. “Kami mohon anda berkata jujur, karena itu sangat membantu kami.”

“Saya senang membantu anda tuan-tuan.”

“Korban bernama Charles de Haviland. Apakah anda kenal dengan almarhum?” Tanya Arthur, sementara itu James bersiap untuk mencatat keterangan yang akan diberikan oleh Kayla Timms.

“Tidak, saya sama sekali kenal dengan dia.” Jawabnya singkat.

“Dimana anda berada dan apa saja kegiatan anda sekitar pukul 15.00 sampai 17.00?”

“Saya hanya diam di kamar sambil membaca buku. Itu sekitar pukul 15.30. Lalu saya merasa bosan dan pergi untuk berjalan-jalan. Tapi saat itu sepi sekali karena para wisatawan sedang melakukan pendakian, dan saya kira saat itu hanya saya yang tidak ikut, karena saya tidak bertemu tamu-tamu yang lain. Saya hanya melihat para pelayan, koki, dan petugas penginapan. Mereka tidak melakukan banyak pekerjaan saat itu, hanya duduk-duduk, mengobrol, dan minum. Lalu sekitar pukul 16.30 saya pergi ke kota. Saya membawa mobil kesini. Di kota kecil itu tidak ada yang menarik, jadi tidak lama setelah itu saya kembali kesini—sekitar pukul 17.40. Setelah itu saya kembali ke kamar dan berendam.” Kayla Timms menjelaskan.

“Begitukah? Apa ada bukti atau saksi atas kegiatan-kegiatan anda?” Tanya Arthur.

“Kalau tidak ada, anda akan mencurigai saya—begitu?” Kata wanita itu dengan agak kasar.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, nona. Tapi dalam keadaan seperti ini, semua orang patut dicurigai.” Kata Arthur dengan sopan. James mengernyitkan dahi karena suara wanita itu agak menganggunya.

“Sejak kapan anda menginap disini?” Tanya Arthur lagi.

“Sejak tiga hari yang lalu. Saya terlalu lelah bekerja, jadi saya membutuhkan istirahat. Saya ingin berlibur ke tempat yang nyaman dan jauh dari polusi, jadi saya kesini. Saat pertama saya datang, belum terlalu banyak wisatawan yang menginap disini, tapi 2 hari setelah itu rombongan wisata datang kemari, dan tempat ini menjadi begitu ramai. Tadinya saya ingin segera pulang, tapi—ya saya belum mau kembali bekerja lagi.”

“Oh,” Kata Arthur. “Sebelum rombongan wisata datang, ada berapa tamu di penginapan ini?”

“Ada sekitar 10 orang. Tapi mereka sudah pulang sekarang. Mereka tahu kalau tempat ini akan menjadi ramai, maka dari itu mereka meninggalkan tempat ini.”

“Anda tidak suka keramaian, nona?”

“Tergantung mood saya saja. Saat ini saya benar-benar butuh ketenangan.” Kata wanita itu dengan cepat

“Memang apa pekerjaan anda?”

“Saya seorang aktris. Saya biasa main di panggung-panggung drama. Anda tahu, kan drama yang diantaranya berjudul One Word, dan The Best For Us?”

“Ah, ya saya pernah mendengarnya. Tapi saya tidak begitu tertarik menonton drama.”

“Oh begitukah? Apa anda sudah mempunyai istri atau bertuangan?”

“Belum.” Jawab Arthur.

“Wah, Kalu nanti anda sudah bertunangan, ajaklah tunangan anda menonton drama panggung. Sangat romantis!” Kata Kayla bersemangat. Lalu James Agincourt cekikikan sendiri. Dia sangat tahu sifat buruk sahabatnya sebagai orang yang kaku dan susah untuk menunjukan suatu romantisme.

Arthur sadar kelakuan temannya itu lalu mengatakan. “Apa yang lucu, eh? Apakah kau mencatat semuanya?”

James berusaha untuk berhenti cekikan lalu setelah itu menjawab. “Tenang saja, kawan. Semua ada disini.”

“Bagus.” Lalu Arthur kembali menatap Kayla dan bertanya. “Apaka ada informasi lain yang ingin anda beritahu, nona Timms?”

“Oh!” Tiba-tiba Kayla Timms berseru. “Apa seharian ini anda berjalan-jalan di sekitar penginapan?”

“Ya, memang kenapa?”

“Apakah anda melihat seseorang yang memakai pakaian layaknya orang yang akan mendaki , tubuhnya kurus dan kelihatan lemas? Dia memakai syal yang diikatkan di lehernya—syal merah—lalu memakai baju mendaki gradasi hijau, sarung tangan coklat yang kusam dan topi musim dingin. pria tua itu  berjanggut dan berambut  abu-abu dan sangat mencurigakan. Aku melihatnya di taman belakang saat aku sedang melihat pemandangan. Dia sedang berjalan-jalan seperti tanpa tujuan disini. Orang itu sunguh mencurigakan. Dia berjalan ke arah dimana aku berdiri dan setelah itu Aku berpapasan dengannya, wajahnya menyeramkan! Tapi tidak begitu jelas karena ditutupi janggut dan topinya, tapi tatapan matanya sangat—kejam.”

James dan Arthur salng berpandangan satu sama lain, lalu Arthur mencondongkan tubuhnya kedepan, dan menatap Kayla dengan rasa ingin tahu. “Pukul berapa anda melihatnya?”

Kayla memandang langit-langit untuk berpikir sejenak lalu menjawab dengan nada ragu. “Kira-kira di waktu saya sedang berjalan-jalan. Mungkin pukul 15.45, Saya tidak tahu pasti.”

CHAPTER 7

Sesaat setelah Kayla Timms keluar dari kamar Arthur dan James, seorang polisi masuk dan bertanya apakah ingin dipanggilkan tersangka yang lain. Arthur menolak nya dengan berkata “Nanti saja,” dengan singkat dan setelah itu petugas polisi pun beranjak keluar dan menutup pintu secara perlahan.

“Menarik sekali.” Pikir Arthur Fredegund. Dari deskripsi yang di berikan Kayla Timms padanya, jelas bahwa orang misterius itu umurnya sudah tua, mungkin setara dengan almarhum Charles de Haviland—tapi siapa dia?

Lalu James Agincourt menutup buku catatan dan berkata. “Aku tahu yang sedang kau pikirkan. Pasti orang aneh yang tadi nona Timms ceritakan? Mungkin dia hanya seorang pengemis di daerah sini?”

“Aku tidak tahu,” Jawab Arthur. “Yang pasti kita harus mencari keterangan tentang orang itu—dan apakah orang lain melihatnya.”

“Ya,” James Agincourt mengangguk menyetujui. “Tapi untuk sementara waktu ini kita selesaikan dulu interviu dengan para tersangka. Itu yang lebih penting dari semuanya.”

“Tidak juga.” Kata Arthur mencemooh, tapi setelah itu dia tertawa kecil.

Lalu setelah itu ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka. James dan Arthur saling berpandangan. “Aku belum menyuruh orang selanjutnya untuk di wawancarai.” Kata Arthur. James mengangkat alisnya lalu beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu. Dia mengintip lewat lubang pintu, membalik badan dan berkata pelan pada Arthur. “Fletcher,”

Arthur berdiri, lalu menyuruh sahabatnya membuka pintu lalu sambil bergumam. “Pasti ada sesuatu yang sangat penting untuk di laporkan.”

James Agincourt membukakan pintu, lalu benar saja dari ambang pintu sosok Inspektur Albert Fletcher. Wajahnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus segera di laporkan, dia tersenyum pada James dan dipersilahkan masuk. Fletcher berjalan dan setelah dia berdiri di depan Arthur, dia menunggu James menutup pintu dan kembali ke tempatnya sebelum dia memulai pembicaraan.

“Ada apa Inspektur?” Tanya Arthur. “Ada sesuatu yang harus di laporkan?”

“Ya!” katanya bersemangat. “Dan ini sangat penting.”

Inspektur Fletcher berdeham, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada resmi. “Baiklah, ini semua di mulai saat saya dan beberapa petugas polisi lain sedang berada di tempat makan, dan memberitahu para tamu untuk tetap tinggal di tempat makan karena sebuah pembunuhan telah terjadi, jadi mereka diminta tetap di situ sampai pemberitahuan lebih lanjut. Ya, memang awalnya mereka agak memberontak tapi toh akhirnya mereka mau menurut,”

Lalu Arthur memotong pembicaraan. “Kelihatannya cerita anda akan panjang, jadi lebih baik kita duduk.” Katanya, lalu mereka pun duduk. Arthur dan James duduk di sofa yang sebelumnya mereka duduki, dan inspektur Fletcher di sebrangnya.

“Akan saya lanjutkan.” Kata Fletcher. “Jadi, setelah suasana menjadi tenang, saya pergi ke taman belakang untuk menenangkan pikiran dan menikmati udara malam. Saat itulah saya melihat ada seseorang yang berpakaian tertutup berjalan melewati saya. Saya tidak melihatnya begitu jelas karena jaraknya lumayan jauh. Saya berteriak ke arahnya, dia mendengar teriakan saya dan menoleh ke arah saya. Tidak lama kemudian dia lari, dan saya berusaha mengejarnya. Tapi dia terlalu cepat sehingga saya kehilangan jejaknya. Wajar—tubuhnya itu kurus.”

“Oh begitu?” Kata Arthur Fredegund penasaran. “Kapan kira-kira anda melihatnya?”

“3 menit yang lalu. Setelah saya kehilangan jejaknya, saya langsung memerintahkan beberapa anak buah saya untuk melacak orang itu dan saya segera menuju kesini.” Jawab Inspektur Fletcher.

“Nona Timms yang baru saja Arthur mintai keterangan pun mengatakan dia melihat si sosok misterius itu, dan dia melihatnya di tempat yang sama. Mungkin dia masih ada di penginapan ini? Mungkin dia adalah seorang pembunuh gila yang bersembunyi di suatu tempat di penginapan ini.” Kata James Agincourt.

“Saya tidak tahu. Setahu saya, tidak ada seorang pembunuh gila yang berkeliaran di sekitar sini. Saya lahir disini, dan pastinya saya tahu semua yang terjadi di sekitar sini.”  Kata Albert Fletcher.

“Kalau begitu ada baiknya anda menanyakan hal ini kepada para pelayan, koki, dan pengurus penginapan ini. Tanya kepada mereka, apa mereka pernah setidaknya melihat orang mencurigakan tersebut sebelum atau sesudah terjadinya pembunuhan.” Kata Arthur.

“Baiklah kalau begitu.” Inspektur Fletcher menangguk. “Apakah anda mengira kalau—mungkin saja—orang misterius itu adalah orang yang membunuh almarhum de Haviland?”

“Saya tidak tahu. Tapi tingkah laku dan Cara berpakaian orang itu jelas membuat semua kecurigaan menitik berat kepadanya.” Kata Arthur tenang.

“Setuju.” Kata James Agincourt. “Tapi jika dia adalah pembunuhnya, lalu dia masih berkeliaran disini, berarti bisa saja—walaupun belum tentu—akan ada korban pembunuhan selanjutnya.” Dia mengetukkan pensilnya ke meja beberapa kali lalu melanjutkan. “Pasti ada yang melihatnya. Kamar de Haviland berada di lantai dua dan berada di ujung. Tidak mungkin dia bisa sampai disitu tanpa dilihat orang. Pasti ada pelayan yang melihat, karena hanya mereka yang berkeliaran di sekitar penginapan.”

Arthur Fredegund mengerutkan wajahnya seraya berpikir tentang sosok misterius yang telah dilihat oleh dua orang—mungkin setelah Inspektur Fletcher menanyakan hal ini kepada orang-orang, akan bertambah sudah jumlah orang yang melihat sosok misterius itu berkeliaran. Tentu saja, hal ini tidak boleh di ketahui oleh para pengunjung, karena akan menimbulkan kekhawatiran dan kepanikan jika mereka tahu bahwa ada pembunuh berdarah dingin yang bersembunyi di dalam penginapan ini. Arthur merenung. Dia menyusun fakta-fakta bahwa almarhum di bunuh dengan cara di cekik dengan sangat kejam. Lalu Kayla Timms mengatakan bahwa sosok misterius itu adalah seorang lelaki tua yang kurus. Apakah seorang lelaki tua kurus yang lemas itu bisa mencekik seseorang sampai mati. Menurutnya, de Haviland tidak akan kalah jika beradu dengan lelaki tua itu. Sekarang Arthur mendapatkan bahwa Inspektur Fletcher pun telah melihat pria misterius itu dengan deskripsi yang sama—kurus dan memakai pakaian tertutup.

“Arthur, sebaiknya kita secepatnya menyelesaikan wawancara dengan semua orang yang berada disini saat pembunuhan terjadi. Kita menyerahkan orang misterius itu kepada Inspektur Fletcher. Jangan buang-buang waktu.” Kata James.

“Kalau begitu, Inspektur. Saya meminta tolong anda untuk mencari tahu anda tentang orang misterius itu. Tidak usah terburu-buru. Dapatkan segala detil yang ada.” Kata Arthur dengan nada tegas.

“Saya mengerti.” Kata Fletcher, Lalu dia berdiri dari kursinya. Tidak lama, seorang opsir polisi masuk ke ruangan itu untuk melaporkan sesuatu.

Dia mengatakan bahwa dia tidak dapat menemukan jejak orang tersebut, dia seperti menghilang dalam kegelapan malam. Arthur, James, dan Fletcher menerima laporan itu dengan wajah tegang. Fletcher mendesah. Dia mengambil sapu tangan dari saku jasnya lalu mengelap keringat di dahinya. Wajanya kelihatan sangat putus asa saat dia menatap Arthur lagi.

“Apakah anda yakin kita dapat menyelesaikan kasus ini?” Kata Fletcher. “Saya belum berpengalaman terhadap sesuatu yang seperti ini.”

Arthur menghela napas lalu dia tertawa kecil dengan mencemooh. Dia mengenyakan dirinya ke sofa, menyulut cerutu. Dia menghisap cerutu itu dan meniupkan asap ke udara, lalu berkata dengan angkuh.

“Saya tidak pernah gagal.”

TO BE CONTINUED. . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: