SHADOW

Originally Written by: Adri A Wisnu

 

“Apa? Jangan membuat aku tertawa kawan. Kau percaya hal seperti itu? Ayolah!” Kata seorang mahasiswa berambut coklat dan memakai jacket kulit coklat kesayangannya. Dia sedang berbicara pada Eric, temannya yang culun, memakai kacamata, dan gaya bicaranya selalu gugup. “Aku tidak tahu, Allen. Tapi sepertinya cerita itu tidak bohong.” Kata Eric, terlihat gugup seperti biasa. Saat itu Eric sedang bercerita tentang seseorang yang bisa membuat kembarannya sendiri hanya dengan sehelai rambut dan setetes darahnya. Konon kembaran tersebut bisa mirip dengan yang asli, atau wajahnya agak menyeramkan. Kembaran itu tidak akan bisa di lihat orang lain kecuali yang membuatnya. Setelah mendengar hal itu Allen langsung tertawa dan meledek Eric. “Jangan percaya. Mungkin pemilik blog itu hanya ingin mencari perhatian!” Kata Allen meyakinkan. Tapi Eric tetap pada keyakinannya bahwa itu nyata, karena ia melihat komentar dari orang lain mengenai sebuah kegiatan mistis tersebut. “Baiklah.” Kata Allen. “Aku akan melakukan ritual itu. Akan aku buktikan bahwa itu bohong! Berapa hari tadi kau bilang? 2 hari. Baiklah, akan aku buktikan dalam dua hari.”

Pada malam harinya di kamar mandi pada kamar flatnya, Allen berdiri di depan cermin, dengan pisau di tangan kanannya. Dia bergumam sendiri di depan cermin “Akan aku buktikan.”. Dia mengangkat tangan kirinya, lalu mengenggam sehelai rambut, setelah itu memotongnya dengan pisau. Setelah itu sehelai rambut yang tadi baru saja dia potong, dia simpan di sudut kamar mandi yang lembab, dan setelah itu dia sedikit menggores jadri telunjuknya hingga mengeluarkan sedikit darah. Allen mengatur posisi jadrinya agar darah menetes tepat di sehelai rambut. Allen berdiri, keluar dari kamar mandi menuju kotak obat lalu mengambil plester untuk menutupi lukanya. “Sangat bodoh.” Gumamnya sambil menyimpan kembali pisau di dapur. Sekitar jam 10 malam, Allen sedang bersantai di tempat tidur sambil menonton TV, tetapi entah kenapa dia sangat tidak tenang. Di dalam pikirannya dia terus bertanya – Tanya “bagaimana kalau ternyata itu berhasil? Apa yang harus ku lakukan?”. Allen langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju meja dimana laptopnya di simpan. Setelah menarik kursi dengan kakinya, ia duduk, dan tidak lama setelah itu dia sudah mengakses internet lewat laptopnya. Satu setengah jam dia mencari – cari tahu tentang ritual itu, dia menemukan beberapa orang yang percaya dengan hal – hal seperti itu, dan banyak juga yang mencaci maki karena mereka anggap hal mistis seperti itu hanyalah bualan semata. Allen tersenyum kecut, lalu dia mematikan leptopnya dan berankaj ke tepat tidur. Tanpa di sadari beberapa menit kemudian dia tertidur pulas. Keesokan harinya, saat Allen sedang jalan dengan santainya dan menggoda beberapa gadis yang berpapasan dengannya, tiba-tiba dia mendengar suara panggilan di belakangnya. Suara itu terputus – putus, seperti orang yang susah nafas. Benar saja, ternyata itu Eric yang berlari – lari sambil memanggilnya. “Bagaimana?” Tanya Eric dengan nada ingin tahu.

Allen membalas dengan cuek sambil berjalan dan Eric mengikutinya seperti budak yang mendampingi seorang raja. “Sudah kubilang kan itu semua bohong,” Kata Allen. “Lihat ini, aku sudah mencobanya.” Lanjutnya sambil memperlihatkan jarinya yang di pakai untuk melakukan ritual. “Oh ya, memang mungkin reaksinya akan terlihat beberapa hari kemudian.” Kata Eric.

Dengan nada malas Allen menjawab “kan MUNGKIN. Terima saja lah, kawan. Itu semua bohong.” Lalu dia tertawa dan meninggalkan Eric sendiri. Hari itu berjalan seperti biasa bagi Allen, dan saat dia kembali ke kamar apartemennya, yang dia pertama lakukan adalah ke kamar mandi. Dia diam sebentar dan menarik nafas panjang. Perlahan dia membuka pintu, mengintip sedikit dan ternyata tidak ada apa – apa. Allen menghembuskan nafas lega dan dia sepenuhnya masuk ke kamar mandi dan menuju sudut dimana dia menyimpan potongan rambut itu. Ada yang aneh memang. Darah itu sudah berada di tempat itu selama sehari, dan harusnya mongering. Tetapi darah itu tetap terlihat segar seperti baru saja keluar dari tubuh. Allen tersenyum dan mencoba untuk melupakan hal itu dan menganggap soal darah itu hanya masalah sepele. Keesokan harinya Allen menjalani kuliah seperti biasa, hanya saja dia ada suatu urusan sehingga baru kembali ke apartemennya sekitar jam 9 malam. Dengan wajah kelelahan, Allen membuka pintu apartemennya, masuk ke dalam, lalu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya. Dia melempar tas ke sofa, dan beberapa detik kemudian terdengarlah suara itu. Allen menyipitkan matanya mencoba berkonsentrasi mendengarkan suara apa itu dan darimana asalnya. Satu hal yang pasti, suara itu datang dari kamar mandi, dan seperti suara orang yang sedang buang air kecil, lalu beberapa detik kemudian terdengar suara flush. Allen mengira itu adalah maling, tapi bagaimana caranya dia masuk? Tanpa terasa keringat dingin mengucur dari dahi Allen. Dengan tangannya yang bergertar, dia mengambil pentungan baseball yang berada di sebelah pintu masuk, dan berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi sambil mengambil ancang – ancang untuk memukul. Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, Allen mengulurkan tangannya untuk memutar gagang pintu. Tapi bahkan sebelum tangannya sampai di gagang, gagang tersebut berputar sendiri, dan pintu pun terbuka. Allen sungguh tidak bisa percaya apa yang dia lihat yang muncul dari balik pintu itu. Seolah – olah seperti sedang bercermin, dia melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya. Sangat mirip, semuanya sama persis, sampai luka kecil yang ada di pundak. Allen sedang melihat ke arah dirinya sendiri yang sedang tanpa busana, dan tersenyum ke arahnya. Mata Allen terbelalak, tubuhnya bergetar hebat. “Ini nyata!” pikirnya. Dia bahkan tidak bisa untuk berteriak, tubuhnya diam seperti patung. Dengan suara yang sama persis dengan Allen yang asli, Allen bayangan pun berkata dengan santai. “Kenapa takut? Kan kau yang menciptakanku, bukan begitu kawan? Eh, maksudku,” Dia tersenyum lalu melanjutkan. “Saudara kembar.”

 

TO BE CONTINUED. . . . . .

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: