The Screaming Oak

Written by: Adri A Wisnu

find me on twitter: @Messere_Adrio

 

The Screaming Oak adalah pusat bermain yang paling besar dan hebat di bagian Ohio Amerika Serikat. Pengunjung dari luar maupun dalam neger sering berkunjung ke tempat ini untuk mencicipi permainan – permainan berbahaya yang memacu adrenalin. Yang paling terkenal di tempat ini adalah rumah hantunya. Benteng Berdarah sebetulnya adalah nama yang cocok untuk wahana terbesar yang baru di selesai di bangun bulan lalu. Di bangun benar – benar seperti benteng pertahanan abad pertengahan, lengkap dengan penjara, tempat hukuman mati dan semacamnya. Di dalamnya di gunakan teknologi yang amat canggih agar semua yang terjadi di dalam sana terlihat nyata dan menakutkan. Pasangan Benny Forlen dan Agatha Fert adalah pasangan pecinta horror atau semuanya yang seram – seram dan bisa menakuti orang. Mereka datang ke Screaming Oak dengan satu tujuan, Benteng Berdarah yang banyak di bicarakan orang. Wahana itu terletak di bagian belakang Screaming Oak karena memakan lahan paling besar. Dalam jalan kecil menuju Benteng, Ben dan Agatha bertemu teman mereka Shaun Sim, yang baru saja keluar dari Benteng dengan wajah tegang dan berkeringat.

“Hey, Sim!” Sapa Ben

“Aku bisa tebak kalau kalian akan masuk kesitu.” Kata Sim sambil menunjuk Benteng dengan tangannya yang masih gemetar.

“Kau sudah tau.” Kata Agatha.

“Jadi bagaimana?” Tanya Ben.

Sim berkata, “Sangat hebat, kalian akan merasa seperti memasuki benteng yang sudah di tunggal ratusan tahun dan memiliki masa lalu yang kelam. Seperti pembantaian atau sejenisnya. Teknologi yang mereka pakai memang luar biasa, seperti nyata.”

“Aku jadi tidak sabar.”

“Baiklah, selamat bersenang – senang, aku akan pulang.”

Setelah berpisahm pasangan pecinta horror tersebut melanjutkan menelusuri jalan yang di apit pepohonan menuju Benteng Berdarah. Setelah sampai di depan gerbang mereka melihat antrian yang sangat panjang, beberapa orang yang masuk dengan wajah ceria dan beberapa keluar dengan wajah ketakutan dan ada yang menangis. Pasangan tersebut memasuki antrean yang sangat panjang. Selama antre, Ben melihat ada kucing hitam dan burung gagak yang sedang menatap tajam ke arahnya. Dengan permen karet dari mulutnya ia melempar kucing tersebut hingga melarikan diri, tetapi dia tidak tahu cara mengusir burung gagak yang bertengger tinggi di dahan pohon, jadi dia pura – pura tidak tahu saja. Satu jam kemudian akhirnya giliran mereka yang masuk. Gerbang Benteng di jaga oleh karyawan yang memakai baju abad pertengahan dengan posisi siap memegang tombak di tangan kanannya. Ben dan Agatha menaiki tangga batu yang agak licin dan sampai ke sebuah pintu besar yang di buat dengan kayu ek yang kuat. Obor pada kedua sisi pintu membuat suasana mulai mencekam. Ben membuka pintu dengan engeluarkan banyak tenaga karena pintunya lumayan berat, lalu mereka berdua mulai mengambil langkah pertama memasuki tempat tersebut. Area pertama yang mereka masuki adalah sebuah ruangan besar dengan dua tangga, beberapa pintu yang tidak jelas tujuannya dan lampu besar yang menggantung di langit – langit dengan bentuknya yang mencekam dan delapan lilin yang menyala di atasnya. Agatha tersentak say melihat sebuah tangan samar – samar berwarna kuning. Ben bertanya “Ada apa? Kita baru saja masuk dank au sudah ketakutan. Tenang saja kita pasti bisa melewati permainan ini.” Ben sudah berpengalaman kalau soal rumah hantu. Rumah Hantu yang ia masuki pertama kali adalah saat ia berumur sepuluh tahun, saat itu dia keluar dengan badan gemetar, ngos – ngosan dan mata yang waspada seakan – akan suatu saat ada hantu yang menyerangnya. Mereka mulai mendengar suara – suara berbisik yang halus, dan suara sesuatu yang terbanting. Dari lantai dua yang memiliki cahaya samar – samar mereka melihat bayangan dengan mata kuning menyala melihat tajam kearah mereka. Tidak hanya satu pasang mata kuning, tapi ada 10, mengelilingi mereka dari berbagai sudut yang gelap. “Luar biasa!” seru Ben, sedangkan Agatha dengan erat memegang tangan kekasinya. Untung menenangkan Agatha, ia berjalan menuju pintu yang berada di tengah antara dua tangga, dan tiba di sebuah koridor panjang dengan jendela besar bertirai putih dari berbagai sisinya. Jendela itu menampilkan suatu pemandangan dengan rumput yang putih pucat dan langit yang biru dan bulan yang berbentuk seperti kepala manusia. Mereka berjalan perlahan menelusuri koridor itu dan Ben mengatakan bahwa mereka akan keluar setelah sampai di ujung koridor ini. Agatha cukup tenang karena perkataan Ben sampai ia melihat ada cahaya kuning dan bulat melayang mendatangi mereka. Semakin dekat cahaya itu semakin kecil dan sulit di lihat. Gumpalan cahaya yang kecil itu berhenti di depan Ben dan Agatha. Agatha hanya melamun kebingungan dan Ben sedang asik berkomentar tentang efek 4D yang di pakai untuk membuat bola cahaya seperti itu. Beberapa detik kemudian gumpalan cahaya tersebut meledak dengan dasyat. Agatha dan Ben menutup mata mereka, sambil beberapa langkah berjalan mundur. Agatha membuka matanya, dia melihat ke sekelilingnya yang hanya warna putih tanpa batas, tak ada suara dan Ben pun tidak ada. Agatha beberapa kali berteriak memanggil – manggil nama Ben tetapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya terdengar suara Ben dengan lembut menyebut nama dirinya. “Agatha. . . . .Agatha, To. . .” suara yang terdengar amat jauh dan terputus – putus. Agatha menjawab Ben dengan beteriak “dimana kau!?”. Lalu terdengar lagi suara Ben berteriak – teriak kesakitan dan penuh derita. “AAARGH! Agatha, To . . .AAAAAKH! Tolong!”. Agatha berteriak – teriak dengan panic sampai ia melihat di belakangnya tubuh Ben terkulai, penuh darah. Tangan kanannya putus dan menggeliat seperti ulat ke arah Agatha. Agatha menendang tangan itu, dan mencoba mendekati tubuh Ben, entah bagaimana dan sejak kapan ia sudah kembali ke koridor panjang dengan jendela. Langkahnya berhenti saat dari belakang tubuh Ben yang mana hanya ada kegelapan muncul ratusan mata kuning seperti mata seekor hewan pemangsa menatap tajam kearahnya, semakin lama mata itu semakin banyak. Perlahan – lahan Agatha mundur beberapa langkah. Dan dari kegelapan muncul sosok anak perempuan berpakaian bangsawan berjalan perlahan mendekati Agatha. Melewati tubuh Ben, berjalan dengan gaya yang anggun sosok anak perempuan itu. Wajahnya cantik dan pucat. Agatha berteriak sekencang – kencangnya tanpa perduli bahwa tidak ada yang bisa mendengarnya. Agatha menemukan sebuah pintu coklat yang kecil. Ia mempunyai harapan bahwa itu adalah jalan keluar, akan tetapi pintu itu tidak bisa di buka, malah berubah menjadi wajah Ben tetapi agak menyeramkan. Agatha berbalik dan melihat anak perempuan itu tepat berada di depannya. Anak perempuan itu tersenyum menyeramkan, giginya berbentuk seperti gergaji, tajam dan bergerigi. Anak perempuan itu membuka mulutnya lebar – lebar dan melesat untuk menerkam Agatha. Itulah hal terakhir yang dilihatnya, Wujud mengerikan dari iblis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: