Motel 805 (Chapter I)

Written By: Adri Adityo Wisnu

Awan tebal yang menutupi cahaya bulan sungguh membuat mengemudi menjadi sulit, karena cahaya yang di hasilkan oleh mobil pun tidak cukup untuk menerangi jalanan yang gelap, sepi dan berkabut. Sebuah mobil yang panjang melesat di jalan tersebut dengan sangat pelan karena si pengendara tidak dapat melihat secara jelas, di sebabkan oleh kabut yang sangat tebal.

“Apa-apa an ini. Tidak biasanya begini.” Kata si pengendara, Thomas Chrodecild, anak remaja yang berusia 17 tahun yang sedang berlibur dengan 5 temannya  ke sebuah bukit yang katanya tempat yang cocok untuk liburan. Mereka adalah: Nathan Kindman pemuda yang suka membesar-besarkan sesuatu, Nicole “Shorty” Smith perempuan yang manis tapi tinggi badannya tidak seperti tinggi badan anak se-usianya, Craig Litchfield seorang Pretty Boy yang di sekolah banyak perempuan yang berusaha mendekatinya, lalu ada Louise Summerton anak perempuan yang juga cantik dan mempunyai tubuh bagus, dan yang terakhir George Forrester laki-laki yang terkadang bisa menjadi orang yang pendiam tapi tekadang banyak bicara dan sering membuat yang lain tertawa. Mereka sudah berteman sejak mereka masih kelas 6, dan sekarang mereka sudah di tahun terakir mereka bersekolah sebelum akhirnya melanjutkan kuliah, tapi Craig ingin langsung bekerja.

“Hey Thomas” Kata George yang duduk di kursi belakang sambil mendengarkan lagu. “Kau bilang tidak biasanya begini, memang kau pernah kesini?”

“Belum, tapi kata pamanku yang memang pernah kesini, katanya harusnya jalan ini terang dan tidak pernah langit mendung dan berkabut seperti ini.” Jawab Thomas dengan mata menyipit dan berusaha melihat ke jalan, se akan-akan pandangannya bisa menembus kabut.

“Santai saja. Jika kita jalan pelan-pelan pasti tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula kalau kabut doing kan nanti juga hilang.” Kata Craig Litchfield dengan tenang dan sok tahu.

“Ya, itu benar. Aku setuju.” Kata Louise sambil tersenyum.

“Ya kau kan memang selalu setuju semua yang Craig katakan.” Kata Nathan, lalu mereka tertawa.

“Iya benar. Walaupun Craig bilang kau mempunyai 20 saudara tiri karena ayahmu sering bermain dengan perempuan, kau pasti setuju kan?” Kata George, lalu mereka tertawa lagi dengan keras.

“Hey jangan berisik. Nicole sedang berada di dunia mimpinya. Dia pasti marah kalau tebangun karena suara kita. Dia marah karena kita mengembalikannya ke dunia asli, sehingga tubuhnya menjadi pendek lagi. Aku yakin, dia pasti sedang mempimpikan tubuhnya menjadi tinggi!” Kata Nathan sambil melihat keluar jendela, lalu mereka tertawa lagi dan lebih keras. Sisa perjalanan mereka yang terhalang oleh kabut di hiasi dengan bercanda, sehingga tidak terasa betapa lambat nya mobil mereka melaju.

“Kira-kira berapa lama lagi ya kita di dalam mobil ini, berjalan lambat seperti kura-kura?” Tanya Louise.

“Mungkin 2 hari lagi kita baru sampai.” Kata Thomas dengan nada bercanda

“Benar-benar menyeramkan ya? Tidak ada rumah, tidak ada lampu-lampu jalan, tidak ada kedaraan lain.” Kata Nathan yang masih melihat keluar jendela, menuju kegelapan yang tiada habisnya. Sekarang tidak hanya kabut yang menghadang mereka, tapi hujan lebat juga.

Tiba-tiba Nicole membuka mata, dia sudah bangun dari tidurnya lalu bertanya sambil menatap ke semua orang “Kita sudah sampai belum?”

“Kelihatannya?” Kata Craig. “kembali tidur saja kau. Pasti asik kan mempunyai badan tinggi.” Lalu Nicole cemberut ke arah Craig dan tidur lagi. Sepertinya wajar kalau Craig bersikap ketus, karena dia sudah mulai kesal dengan perjalanan yang sangat lambat ini. Mungkin nanti yang lain juga akan bersikap seperti Craig jika sandainya George tidak berteriak tiiba-tiba sambil menunjuk ke arah sesuatu.

“Hey kalian lihat itu? Sepertinya kita selamat!” Kata George sambil menunjuk.

“Ada apa? Aku tidak bisa melihat dengan jelas.” Kata Thomas sambil berusaha melihat apa yang di maksud George.

“Ah iya benar! Ada tempat penginapan!” Kata Louise dengan semangat. Lalu seraya mobil melaju, hampir semua sudah melihatnya, bahkan Thomas pun sekarang sudah melihat. Sebuah plang yang bertulisan “MOTEL 805”.

“Ah bagus! Ayo kita menginap semalam dan besok kita lanjutkan perjalanan.” Kata Thomas bersemangat. Lalu mereka berhenti di depan Motel tersebut. Craig membangunkan Nicole yang tertidur pulas, lalu semuanya turun dari mobil dan berlari menuju ke pintu masuk Motel yang di buat dari kayu dan kelihatannya sudah agak rapuh. Jad setelah semua berkumpul, Thomas membuka pintu nya dengan pelan dan hati-hati, siapa tahu tiba-tiba pintunya lepas. Setelah pintu terbuka, mereka masuk ke dalam motel tersebut. Mereka menggantung jaket mereka di sebelah pintu masuk. Motel tersebut di penuhi warna yang putih terang dan mereka tidak menyangka, ternyata di dalam sangat luas.

“Akhirnya, suasana yang terang seperti ini membuatku merasa nyaman.” Kata Louise

“Ya memang, tapi sungguh aneh. Semua putih. Pintu, dinding, korden, semuanya.” Kata Nathan sambil melihat ke arah jendela yang sangat besar.

“Yasudahlah, yang penting kita bisa istirahat kan.” Kata George sambil melihat arlojinya, lalu menambahkan “Untung arlojiku tidak rusak karena kena hujan.”

“Jam berapa sekarang?” Kata Nicole yang masih sedikit mengantuk.

“Jam 7. Yah kita bisa main kartu dulu sampai tengah malam sebelum istirahat.” Jawab George.

Lalu Craig berjalan ke meja receptionist lalu menekan bel yang ada di situ. Sudah 3 kali dia menekan tapi tidak ada jawaban, sampai akhirnya dia kesal dan menekan bel itu berkali-kali dengan kasar.

“Kemana dia? Tidak becus.” Kata Craig

“Aroma Motel ini aneh sekali ya.” Kata Nathan

“Nathan, berhentilah membesar-besarkan sesuatu.” Kata Thomas. Lalu tidak lama dari ruangan di belakang meja receptionist munculah seorang pria yang kira-kira berumur 30-an dan berwajah ramah. “Maaf, tadi saya sedang di toilet.” Kata pria itu sambil tersenyum.

“Um… iya tidak apa-apa. Kami minta 2 kamar untuk menginap semalam.” Kata Craig dengan ramah pula, lalu pria itu berjalan menuju tempat kunci-kunci bergantungan lalu mengambil 2 kunci. “Ini, kamar yang bersebelahan, letaknya tidak jauh, setelah kau membuka pintu yang disana itu, kau akan menemukannya. Selamat malam.” Kata Pria tadi saat memberikan kunci lalu kembali ke ruangan yang ada di belakang meja. Setelah itu Thomas dan teman-temannya mulai berjalan mencari kamar mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: