Motel 805 (Chapter II)

Written By: Adri Adityo Wisnu

Mereka menyusuri koridor sempit yang di penuhi warna putih, di sebelah kiri mereka banyak sekali jendela yang besar, tapi anehnya walaupun jendela itu tertutup tapi kordennya bergerak-gerak seperti tertiup angin. Tapi mereka tidak mau memikirkan itu karena sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal yang aneh. Mereka terus berjalan menyusuri koridor panjang yang sepertinya tidak ada ujungnya, di depan yang mereka lihat hanya kegelapan.

“Ya ampun, seberapa jauh lagi!” Nathan mengeluh

“Kurang ajar skali yang membuat bangunan ini. Membuat koridor sepanjang ini, dan gelap.” Kata Nicole sambil berteriak. Suaranya bisa terdengar bergema di koridor tersebut.

“Suara Nicole menggema, kalau begitu koridor ini masih sangat panjang.” Kata Thomas

“Kenapa tidak di pasang lampu sih. Gelap sekali disini.” Nicole mengeluh lagi.

Lalu tiba-tiba semua perhatian mengarah pada Louise yang tersentak dan membalik badannya lalu bernafas dengan cepat.

“Ada apa?” Tanya George sambil berjalan mendekatinya

“Ada yang berbisik, tepat di belakang telingaku.” Kata Louise, sambil gemetar.

Thomas yang berada paling depan memandang ke koridor yang gelap, lalu dia menoleh ke belakang. “Baiklah, ayo kita kembali lalu minta laki-laki yang tadi untuk mengantar kita ke kamar.” Kata Thomas sambil member semangat kepada yang lain. Mereka berjalan berlawanan arah menyusuri koridor, berharap bahwa mereka akan bertemu pria tadi dan di antar sampai ke kamar. Tapi harapan itu sia-sia. Mereka sudah berjalan lumayan lama tapi tidak juga sampai ke meja receptionist. Mereka sudah kehabisan tenaga untuk berjalan, Nathan sudah tidak kuat lagi berdiri. Akhirnya mereka duduk di koridor gelap dengan begitu banyak jendela besar, lalu mereka merasa pusing, dan seperti di paksa, mereka akhirnya memejamkan mata. Dan mereka tidak ingat berapa lama mereka tertidur, atau lebih tepatnya pingsan. Tapi saat mereka sadar, mereka terkejut karena ada seorang pria yang berdiri di dekat mereka. Dia adalah pria yang tadi memberikan kunci kamar.

“Sedang apa kalian disini?” Tanya dia dengan wajah bingung, tapi tetap nadanya ramah. Lalu Thomas dan yang lain cepat-cepat berdiri lalu menjelaskan apa yang terjadi. Si Pria itu hanya tertawa saja, dia benar-benar tidak percaya apa yang di ceritakan para anak remaja itu. “Baiklah kalau begitu lebih baik saya antar.” Kata Pria itu yang telah memperkenalkan dirinya yang bernama Henry Mitchell. Dia berjalan paling depan memimpin Thomas dan kawan-kawannya. Saat mereka berjalan, sungguh aneh, tidak ada koridor kosong dan gelap dengan jendela tertutup yang kordennya menari se-akan di tiup angin. Tapi yang mereka lewati sekarang adalah koridor yang cukup luas, banyak lampu dimana-mana, dan ada beberapa pintu di kiri dan kanan.

“Aneh kenapa kalian bisa nyasar, padahal kan rumahku kecil.” Kata Henry Sambil tersenyum. Tapi sebetulnya rumahnya tidak se-kecil yang dia katakan. Lumayan besar untuk ukuran rumah seorang pemilik Motel yang sepi.

“Rumahmu, Mr. Mitchell?” Tanya Thomas

“Iya, ini adalah rumah pribadiku, yang di belakang meja itu adalah kamarku, lalu pintu-pintu yang ada disini adalah kamar tamu, ya siapa tahu ada keluarga yang mengunjungi.” Kata Henry

“Kau tidak punya istri dan anak?” Tanya Nicole

“Belum.” Kata Henry sambil tersenyum lalu membuka pintu kayu ganda yang masih kelihatan bagus dan kuat. “Itu Motelnya.” Sambil menunjuk ke sebuah bangunan gelap yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Mitchell, Thomas dan kawan-kawannya kaget karena saat mereka buka pintu ini tadi tidak ada motel, hanya koridor putih yang seram. “Tapi sebelum kalian kesana.” Katanya buru-buru sebelum mereka pergi. “Jujur aku penasaran, dengan apa yang kalian alami tadi. Apa itu benar?”

“Benar. Saat kami buka pintu ini, lalu yang kami lihat hanyalah koridor putih yang panjang dan gelap. Bahkan suara kami menggema disitu.” Jawab Nathan.

“Baiklah, kalau ada sesuatu langsung beritahu aku ya.” Kata Henry Mitchell lalu dia kembali memasuki rumahnya, meninggalkan para remaja itu di jalan yang menghubungkan ke motel.

“Gelap sekali. Motel ini benar-benar sepi pengunjung ya?” Kata George sambil menerawang ke sekitar mereka. Saat itu masih hujan deras dan sangat gelap, tapi ada beberapa lampu di jalan kecil ber-atap yang menghubungkan Rumah Mitchell dan Motel. Mereka pun akhirnya jalan menyusuri jalan tersebut perlahan.

“Pintar sekali dia memasang atap di jalan ini.” Kata Craig sambil melihat ke atas. Dan sekali lagi, mereka mendengar Louise tersentak dengan keras.

“Siapa di situ?” Katanya sambil memandang ke arah kegelapan di sebelah kanannya.

“Ada apa?” Tanya Nicole dengan penasaran

“Aku tidak tahu. Wanita tua, ah tidak mungkin, tubuhnya kecil seperti anak 6 tahun. Pakaiannya juga. Tapi rambutnya putih dan di ikat, dia juga bungkuk. Dan…..Astaga!” Louise mendekap mulutnya lalu melanjutkan “Dia memegang pisau, ada darahnya!”

“Ayolah Louise. Tidak mungkin ada wanita tua pendek memakai pakaian anak-anak yang berjalan di tengah hujan deras sambil membawa pisau berdarah. Kau hanya lelah.” Kata George sambil menggandeng tangan Louise, lalu dia melirik Nicole “Disini yang MUNGKIN bisa melakukan itu hanya Nicole, tapi dia masih muda, dan tidak membawa pisau. Iya kan Nicole? Katanya dengan nada bercanda

“Ah kau ini, daritadi mengejek terus.” Kata Nicole sambil cemberut, tapi tidak dengan nada kemarahan melainkan bercanda juga.

“Untung kau manis. Kalau tidak, mana ada laki-laki yang mau jadi pacarmu?” Kata Thomas sambil tertawa kecil. Lalu mereka kembali menyusuri jalan.

 

Akhirnya mereka sampai di sebuah Motel 2 lantai yang kelihatan masih bagus. Dindingnya sama sekali belum ada yang mengelupas, pintu-pintu dalam keadaan lumayan bagus di bandingkan pintu depan rumah Mitchell. Mereka berpikir sepertinya mereka akan nyaman menginap disini, tapi Louise berpikiran lain. Wajar, dia sudah dua kali mengalami hal-hal aneh yang tidak di alami temannya yang lain.

“Mari kita lihat.” Craig mengeluarkan kunci yang ada di sakunya. “25 dan 26 ya?” Kata Craig lalu dia menatap ke depan, tepat ke arah pintu sebuah kamar yang gelap dan tidak berpenghuni. “Itu kamar 6, berarti kamar kita di lantai 2.”

“Aneh, untuk apa dia memberikan kita kamar di lantai 2 sementara kamar-kamar di lantai 1 kan kosong.” Kata Nathan

“Yasudahlah Nathan tak usah dipikirkan.” Kata George

“Ayo kalau begitu.” Kata Thomas lalu mereka berjalan menyusuri kamar-kamar yang ada di lantai pertama. Mereka sudah melewati kamar 16 lalu mereka menemukan tangga di ujung koridor Motel, saat mereka naik mereka harus berjalan lagi untuk menemukan kamar mereka dan akhirnya ketemu, kamar 25 dan 26 yang berada di tengah-tengah, Sedangkan di depan mereka masih banyak kamar yang kosong.

“Wah aku lupa menanyakan kepada Mr. Mitchell tadi, seberapa jauh lagi untuk sampai ke bukit.” Kata Thomas sambil melihat ke bawah dan melihat ke arah rumah Mitchell yang masih terang.

“Besok kan bisa.” Kata Craig sambil membuka pintu kamar 25.

“Lalu mana kunci kamar kami?” Kata Nicole. “Oh iya benar.” Kata Craig lalu memberikan kunci kamar 26 kepada Nicole.

“Apakah kalian langsung tidur? Mau main kartu dulu tidak?” Ajak Nathan

“Sepertinya aku langsung tidur, aku lelah sekali.” Kata Louise sambil mengusap wajahnya dengan tangan lalu mask ke kamar.

“Ya aku juga langsung tidur.” Kata Nicole lalu menyusul Louise masuk, menutup pintu lalu menguncinya.

“Payah.” Kata Nathan mengeluh.

“Ah sudahlah kita main kartu ber-empat saja.” Kata Craig lalu dia membuka pintu dan masuk bersama yang lain.

“Demi tuhan! Dingin sekali!” Teriak Nathan saat mereka sudah masuk dan Craig sudah mengunci pintu.

“Memang berlebihan. Tapi aku setuju denganmu Nathan.” Kata George sambil meniup menahan dingin yang seperti musim dingin itu.

“Tidak ada pendingin kan disini. Mungkin karena di luar hujan ya?” Kata Craig yang menaruh tasnya di lantai yang dilapisi karpet tebal lalu langsung berbaring di kasur.

“Berarti kita sudah di dataran tinggi, dan bentar lagi kita sampai .” Kata Thomas dengan tenang sambil melihat-lihat kamar mereka yang nyaman. Dengan lampu redup yang berada di langit-langit, dinding berwarna coklat dengan gambar—mungkin—akar menjalar, lalu ada TV yang kecil dan tua yang berdiri di atas meja kayu. Di kamar tersebut hanya ada 2 tempat tidur, jadi mereka harus melakukan undian. Thomas dan Craig sangat beruntung mendapat tempat tidur itu, sedangkan George dan Nathan tidur di karpet yang karena tebalnya membuat mereka nyaman walaupun tidur di karpet. Karena dingin yang sangat, nafas mereka sampai mengeluarkan asap, dan mereka meringkup di balik selimut. Kepala mereka sangat pusing se-akan akan terbelah, dan mereka gemetar dengan kencang.

“Apa-apa an ini!” Kata Thomas dengan suara gemetar, lalu seperti sebelunya, mereka langsung tertidur. Mereka tidak tahu berapa lama mereka tertidur, tapi dingin yang tadi menusuk badan mereka sudah hilang. Thomas yang sudah mulai sadar, perlahan membuka mata, lalu dia sadar kalau harusnya dia pakai selimut. Lalu dia segera bangun dan melihat selimutnya tidak ada, dan dia sadar bahwa dia tidak di kamar, melainkan koridor putih dan gelap itu. Dia melihat teman-temannya masih tertidur di sekitarnya, termasuk Louise dan Nicole.

“Mungkin ini hanya mimpi!” Katanya sambil menampar diri sendiri. Lalu dia berdiri dan bergegas membangunkan semuanya, Setelah mereka sudah mendapat kesadaran mereka sepenuhnya barulah expresi panik terbentuk di wajah mereka, keringat mengucur dari dahi. Mereka telah kembali ke koridor aneh yang mereka kira hanya imajinasi.

“Ya ampun!” Louise berteriak sambil berusaha berdiri, diikuti yang lain yang juga langsung berdiri setelah melihat kalau mereka bukan di kamar.

“Apa yang terjadi disini? Kenapa,” Craig tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena otaknya dipenuhi kebingungan.

“Ah lihat!” Kata Nicole sambil menunjuk ke arah sebuah pintu yang berwarna putih terang. “pintu itu tadinya tidak ada di situ kan? Ayo kita kesana!” Katanya dan semua segera berlari menuju pintu, suara sepatu mereka bergema di koridor. Lalu setelah mereka sampai di pintu, Thomas dengan perlahan dan hati-hati membuka pintu tersebut. Setelah sepenuhnya terbuka, mereka membuka mulut dan expresi mereka menunjukan rasa kaget. Mereka tiba di suatu rumah tua yang besar dan menyeramkan, dan langit pun terlihat aneh, berwarna merah, di hiasi awan yang hitam pekat dan beberapa sambaran petir yang sepertinya begitu dekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: