Motel 805 (Chapter III)

Written By: Adri Adityo Wisnu

“Kita dimana ini?” Kata Thomas kebingungan sambil menatap ke arah rumah gelap, berwarna abu-abu itu. Dan saat petir lain yang menyambar di dekat mereka, Louise berteriak lalu jongkok sambil menutup telinga dengan tangannya. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang tertutup dengan keras di belakang mereka, dan saat mereka melihat ke belakang, pintu putih yang tadi mereka lalui sudah hilang, yang ada di belakang mereka hanya pohon tanpa daun yang berbentuk seperti manusia yang besar dengan tangan ter angkat yang seperti akan menangkap mereka.

“Kemana pintu tadi! Ya ampun kita tidak bisa keluar dari tempat ini!” Kata Nathan panic.

“Pasti ada jalan keluar. Se-ingatku tadi kita berada di kamar, dan kita tidur. Saat itu dingin sekali seperti kita telanjang di tengah salju. Mungkin ini hanya mimpi. Ah tidak, kelihatan nyata. Halusinasi mungkin.” Kata Craig berlagak seperti orang pintar. Setelah itu Nicole mencoba menenangkan Louise dan membantunya berdiri.

“Apa kalian berani untuk memasuki Rumah itu?” Kata George.

“Untuk apa kita masuk? Kita kan mencari jalan keluar?” Tanya Nathan

“Lihat sekitarmu Nathan. Apa kau kira ini adalah bagian depan rumah itu. Ini adalah bagian belakang. Taman lebih tepatnya. Taman yang sangat luas, tapi gersang. Tidak ada tumbuhan,rumput, bahkan pohon-pohon juga tidak ada daunnya.”

“Ya benar, kita harus melewati rumah itu untuk mencapai pintu depan.” Kata Thomas sambil melihat sekitar. Akhirnya mereka menyadari di beberapa pohon yang tidak punya daun itu banyak sekali burung gagak yang bertengger, mereka mengeluarkan bunyi “GAWK” nya yang menyeramkan. Matanya merah menyala, meanatap Thomas dan yang lain dengan tatapan  yang se-akan ingin memangsa mereka.

“Jangan menatap mereka, ayo jalan.” Kata Thomas, lalu mereka semua berjalan di jalan batu untuk mencapai rumah tersebut. Mereka menaiki tangga batu yang cukup panjang, lalu mereka semakin dekat dengan rumah hantu tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan, lalu tiba-tiba ada yang mengagetkan mereka, para gagak yang tadi diam di pohon sekarang terbang dengan liar mengelilingi mereka lalu terbang semakin tinggi dan sekarang terbang di sekitar rumah itu sejajar dengan lantai 3. Lalu Thomas menyuruh mereka untuk lari secepat mungkin sampai menemukan pintu masuk.

“Ok. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam. Mungkin berbahaya, atau mungkin ya tidak ada apa-apa. Tapi tetap kita harus hati-hati. Karena bagaimanapun tempat ini asing dan aneh.” Kata Thomas saat sudah sampai di depan pintu kayu yang mirip dengan pintu rumah Mitchell: rapuh. Ada kaca kecil di sebelah kanan dan kiri pintu tersebut. Craig mencoba melihat ke dalam, tapi terlalu gelap sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa. Thomas mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk memutar gagang pintu, tapi pintu tidak bisa di buka. Dia terus mencoba memutar tapi tetap tidak bisa.

“Sepertinya di kunci.” Kata Thomas kecewa

“Ada yang mengunci berarti rumah ini berpenghuni.” Kata George. “tapi tetap, mengetuk pintu dan berharap seseorang—atau dalam keadaan seperti ini kita lebih tepat menyebutnya SESUATU—membuka pintu untuk kita, itu adalah hal yang bodoh. Kita harus cari jalan lain.” Lalu setelah bicara, dia melihat ada gang jauh di sebelah pintu tersebut, dia lari dan berbelok kea rah gang tersebut. Sesaat, dia melambaikan tangan ke arah  teman-temannya yang berdiri di depan pintu dengan putus asa, lalu mereka berlari ke arah George.

“Memang benar kan, ada jalan masuk yang lain.” Kata George sambil tersenyum bangga, sambil melihat pintu kayu berlumut yang ada di tanah.

“Ini pasti menuju ke bawah tanah. Dan pasti disana seram.” Kata Nicole sambil gemetaran dan sambil tetap memegangi Louise yang ketakutan dan sama sekali tidak bicara.

“Tidak ada jalan lain,Nicole.” Kata Craig dengan ramah.

“Baiklah.” Kata George, lalu dia maju dan memegang gagang pintu dan menariknya sekuat tenaga. Saat pintu itu terbuka, mereka bisa merasakan angin dan debu yang bertiup dari bawah dengan sangat kencang. “Ayo.” Kata George sambil perlahan menuruni tangga batu, dan diikuti oleh yang lain. Ketakutan menyelimuti mereka saat mereka sudah tiba di bawah tanah. Koridor gelap dengan beberapa obor di kiri dan kanan tapi tidak cukup untuk menerangi koridor sempit tersebut. Mereka jalan perlahan, terkadang Nathan tersandung sesuatu tapi dia tidak ada waktu untuk melihat karena ingin cepat-cepat keluar dari koridor itu. Akhirnya tibalah mereka di ujung koridor dan memasuki pintu menuju ke ruangan yang sangat mengerikan, dan membuat Nicole dan Louise ingin muntah saat berada di ruangan yang sangat bau tersebut. Itu adalah ruang pemotongan hewan. Banyak hewan yang tergantung dengan kepala di bawah, perut robek dan di keluarkan isinya. Nathan melihat ke sudut, ada meja kayu panjang dan disitulah isi dari perut hewan-hewan tersebut, tergeletak di meja. Ada kepala babi di ember, di dekat kayu tempat menjagal dan ada golok besar berdarah di sebelahnya, Sedangkan badan babi itu sendiri ntah dimana. Ada beberapa kandang besi berwarna perak disitu.

“Mungkin tempat ini di gunakan si pemilik rumah untuk memotong hewan” Kata Nathan pelan

“Bau sekali. Hewan-hewan itu sudah mulai membusuk!” Kata Thomas, lalu tiba-tiba diam terdiam sejenak, dan tersentak “Ada yang datang! Cari tempat sembunyi!” Katanya dengan cepat. Suara langkah kaki sedang terdengar dari balik pintu lain yang berada di sudut ruangan. Makin lama makin dekat. Thomas dan yang lain sudah berhasil menemukan tempat sembunyi di balik meja, yang memang tidak mempunyai kolong sehingga mereka bisa sembunyi di balik meja tersebut. Ada 4 meja di ruangan itu dan mereka memilih meja yang posisinya di pojok agar mereka di sembunyikan oleh kegelapan. Suara langkah yang sangat lambat bertambah dekat, dan akhirnya berhenti. Lalu tidak lama, pintu yang berada di sudut itu terbuka lebar secara kasar, dengan suara keras menghantam dinding. George yang bersembunyi bersama Nicole dan Louise dengan cepat menutup mulut mereka saat mereka tersentak kaget. Langkah itu terdengar sangat lambat. Langkah nya menggema di ruangan pemotongan itu. Thomas mengintip dari balik meja untuk melihat siapa itu. Dia mengeluarkan kepala hanya sampai mata, dia melihat sosok kurus dan tinggi yang berjalan lambat dan pincang seperti zombie. Tapi Thomas belum bisa melihat dengan jelas wajahnya, dia juga belum bisa melihat jelas apa yang di bawanya di tangan kananya. Sosok itu berhenti, lalu menghadapkan tubuhnya ke sudut tempat George bersembunyi, lalu memutar badannya untuk melihat sudut tempat Thomas,Nathan,dan Craig sembunyi. Dengan cepat Thomas menunduk kembali. Setelah agak lama, dia kembali mengintip. Sosok itu diam di tempat, sama sekali tidak bergerak. Tiba-tiba sosok tersebut mengerang, dengan suara serak yang menyeramkan. Awalnya dia mengerang dengan pelan, tapi lama-lama mulai keras dan terdengar seperti sedang marah-marah. Thomas mengintip sekali lagi, dan dia tersentak kaget melihat sosok itu sekarang di depan mukanya, dia berdiri sambil bernafas cepat dan merapat di tembok. Yang lain juga berdiri dan tentu saja kaget melihat sosok mengerikan dengan kulit putih pucat, mata yang terbuka lebar, dan berwarna merah seperti darah. Pelipis matanya hitam seperti memakai make up tapi terlalu tebal, dari mulutnya keluar darah segar yang mengalir sampai dagu, dan terus ke leher. Mulutnya bergerak-gerak seolah mengunyah sesuatu yang membuat darah itu keluar dari mulutnya. Thomas sempat berpikiran yang di kunyahnya itu adalah hewan hidup; tapi apa? Dan di tangan kananya itu dia menggenggam dengan kuat pisau perak yang panjang dan bergerigi. Pakaiannya seperti pembantu yang melayani sebuah keluarga di rumah yang mewah, dan rumah itu MEMANG besar. Lalu sosok itu berteriak histeris dan mulai mengangkat pisaunya yang bergerigi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: