Motel 805 (Chapter IV)

Written By: Adri Adityo Wisnu

Thomas berteriak panic dan merapatkan dirinya ke dinding untuk menghindari pisau bergerigi yang di ayun-ayun kan secara liar dan terus menerus. Sementara Nathan dan Craig tetap berjongkok di balik meja, dan Nathan terus berteriak-teriak ketakutan. Saat sosok mengerikan itu berteriak lagi, Thomas dapat melihat dengan jelas gigi-giginya yang tajam dan seperti gigi buaya. Lalu George, Nicole , dan Louise keluar dari tempat persembunyian mereka yang berada di sisi yang lain pada ruangan, lalu George berteriak “Hey mahluk jelek!” sambil berlari ke pintu yang tadi di lewati mahluk tersebut bersama para perempuan. Mahluk itu melihat ke arah George dengan tatapan sadis, dengan matanya yang berwarna merah, lalu mengerang dan berjalan pelan bagaikan zombie kearah George yang sekarang sudah berada di pintu.

“Ayo cepat kalian lari kesini!” Kata George

Lalu Thomas, menepuk bahu Nathan , dan Craig dan mereka berlari melewati mahluk itu yang sepertinya kebingungan, karena walaupun Thomas , Nathan , dan Craig berlari melewatinya, dia sama sekali tidak mengayunkan pisau seperti tadi. Lalu tiba-tiba Nathan terjatuh dan merana kesakitan, dia menggengam kakinya sambil menahan sakit, dan saat Nathan berteriak itulah si mahluk mulai berjalan lagi sambil mengangkat pisaunya. Thomas, dan Craig yang sudah sampai di pintu baru sadar kalau Nathan tertinggal, saking paniknya mereka.

“Ya ampun. Dia jatuh!” Kata Craig dengan wajah khawatir. Sementara itu mahluk mengerikan itu sudah dekat dengan Nathan yang tidak bisa berdiri, dan mulai berteriak seperti tadi dan mengayunkan pisau. Nathan berusaha menghindari pisau itu dengan cara bergerak menyeret mundur dengan bantuan tangannya. Dia berhasil sampai ke dekat pintu, tapi mahluk itu berjalan lebih cepat. Craig langsung maju, mengambil kandang yang tergeletak di situ dan segera melemparnya. Mahluk itu segera menepis lemparan pertama dengan tangan kanannya, lalu Craig segera melemparkan kandang kedua yang tepat mengenai kepala mahluk tersebut dan membuatnya jatuh ke lantai. Lalu setelah mahluk itu tekapar di lantai, Craig yang sepertinya belum puas, mengambil satu kandang besi lagi, sedangkan di belakangnya, Thomas membantu Nathan berdiri lalu berjalan sambil memopang Nathan menuju pintu. Craig berjalan perlahan,mendekat ke mahluk yang terkapar, sampai kakinya menyentuh pinggang mahluk itu dan Craig bisa melihat mahluk itu tidak bergerak tapi matanya yang merah masih terbuka lebar. Craig mengangkat kandang itu ke atas kepalanya dengan penuh tenaga, lalu dengan sedikit menggumam “Selamat tinggal, jelek.” Dia membantik kandang tersebut sekuat tenaga tepat kearah kepala mahluk itu. Dan Craig langsung berlari menuju pintu bersama teman-temannya dan menutup pintu. Ruangan berikutnya hanyalah ruangan sempit dengan tangga spiral yang menuju ke atas. Ada banyak obor yang menancap di sisi kiri dan kanan dinding yang menghimpit tangga tersebut. Tanpa berpikir lagi, mereka menaiki tangga.

“Lepaskan, aku sudah tidak apa-apa.” Kata Nathan, lalu Thomas melepasnya dan Nathan kembali berdiri dengan kedua kakinya.

“kandang tadi kelihatannya berat. Tapi kau hebat sekali Craig, bisa mengangkat dan melemparnya.” Kata Nicole memuji

“Sebetulnya aku panic dan tidak sadar waktu itu. Kau tidak melihat expresi ku waktu mengangkat sih! Dan sekarang lenganku sakit.” Kata Craig sambil tertawa kecil, dibalas dengan senyuman dari Nicole.

“Lalu apa yang kita lakukan sekarang?” Kata Louise yang sudah kembali bicara setelah lama diam saja.

“OH Louise. Kau akhirnya mengatakan sesuatu.” Kata Nicole

“Aku yakin mahluk jelek yang tadi itu hanya permulaan. Mungkin di atas, ada sesuatu yang lebih menantang. Yang pasti kita harus cari jalan keluar.” Kata Craig.

“Iya betul, dan harus cepat ya!” Kata Nathan.

“Hey Nathan, kenapa hidungmu berdarah?” Tanya Thomas sambil menunjuk ke hidung Nathan yang mimisan

“Kau tidak lihat sih saat dia jatuh. Mukanya membentur lantai duluan.” Kata George dengan nada bercanda, lalu mereka tertawa dengan pelan.

“Ah, kalau yang dibawah saja sudah mengerikan. Bagaimana yang di ATAS!” Kata Nathan

“Selama kita kompak dan bersatu kita pasti menang.” Kata George seakan dia tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi

“Kau bisa mengatakan itu kalau yang kita hadapi adalah manusia! Tapi mereka, kalau di lihat dari tampang mahluk tadi kan jelas bukan manusia!” Kata Nathan

“Mungkin mereka manusia. Tapi mereka kanibal, atau mereka manusia gila, atau sejenisnya.” Kata George lagi.

“Mereka?” Tanya Thomas.

“Ya, kau pikir saja. Rumah ini besar. Dan yang tadi kita hadapi itu adalah salah satu dari penghuni rumah ini. Itu berarti masih ada lagi beberapa di atas kan?”

“Ya memang benar sih.”

“Maka dari itu. Kita harus hati-hati tentunya.” Kata George seakan dia adalah seorang pemimpin.

Mereka akhirnya tiba di ujung tangga spiral, dan menemukan pintu yg lain. Mereka yakin bahwa pintu itu menuju ke dapur atau sejenisnya, karena biasanya pintu menuju basement kan berada di dapur. Dengan hati-hati, Thomas yang selalu berada di depan, membuka pintu. Dan dugaan mereka benar, mereka tiba di sebuah dapur. Tetapi walaupun mereka ada di zaman modern, dapur di rumah itu sangat kuno, seperti zaman pertengahan. Mereka melihat sepertinya ada yang sedang memeasak sesuatu, karena kompor—yang masih memakai kayu bakar—menyala, dan ada panic di atasnya. Thomas mendekati panic tersebut tapi dia tidak bisa memastikan apa yang sedang dimasak, yang pasti adalah dia tidak akan mau mencicipinya walaupun yang di panic itu adalah makanan satu-satu nya di dunia. Lalu Thomas member aba-aba agar yang lain mengikutinya, dan mereka menelusuri dapur sampai menemukan pintu yang terbuka lebar. Dan saat itu terlihat lagi oleh Louise, seorang wanita tua pendek yang membawa pisau berjalan melewati pintu tersebut dengan cepat.

 

Mereka tiba di suatu ruangan persegi yang sangat luas dan cahayanya redup, yang bisa mereka lihat di ruangan itu hanyalah obor-obor yang menyala, dan tidak ada apa-apa lagi selain itu. Lantai yang ada di ruangan itu di tutupi karpet hitam. Di sebelah kiri dan kanan pada ruangan itu terdapat patung besar yang sangat mengerikan dan tertutup debu.

“Ya tuhan, ruangan apa ini?” Tanya Craig sambil memandang berkeliling

“Mungkin bekas ruang makan, atau tempat pesta. Kan letaknya dekat dapur.” Nathan menjawab dengan asal.

“Mungkin. Tapia pa iya di ruangan makan ada patung menyeramkan seperti itu?”

“Itu tidak penting. Kita harus cepat cari jalan keluar.” Kata Thmas dan saat mereka akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada suara melengking yang membuat telinga mereka berdengung dan kepala mereka sakit seperti ditusuk; dan tidak lama setelah itu mereka langsung jatuh pingsan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: