Motel 805 (Chapter V)

Louise dan Nicole akhirnya tersadar dari pingsan yang mereka alami, mereka membuka mata dengan pelan,dan cahaya langsung menusuk mata mereka. Louise berusaha mencocokan pandangannya dengan cahaya, dan setelah itu dengan perlahan dia berdiri. Saat sadar, dia tersentak, karena dia dan Nicole berada di ruangan lain, bukan di ruangan persegi yang tadi mereka lewati. Mereka sekarang berada di ruangan yang berantakan, banyak sarang laba-laba di langit-langit dan dinding, dan di tengah ruangan itu ada lampu gantung yang sudah terjatuh ke lantai dan hancur. Louise membantu Nicole untuk bangun, dia masih menggenggam kepalanya yang masih terasa pusing.

“Ya ampun dimana kita?” Tanya Nicole sambil memandang berkeliling

“Aku tidak tahu. Seingatku tadi kita bukan disini.” Kata Louise

“Aku tahu itu. Lalu dimana yang lain!” Tanya Nicole, sekarang dengan panik karena teman-temannya tidak ada, di situ hanya ada Nicole dan Louise saja. “Dimana mereka!”

“Tenang Nicole. Ayo kita cari mereka.” Kata Louise yang sekarang jauh lebih tenang di bandingkan saat dia baru melihat sosok wanita tua pendek.

“Bagaimana kau bisa tenang seperti itu? Kita terpisah dari yang lain, dan kita tidak tahu ada dimana sekarang, dan kita juga tidak tahu bagaimana keadaan teman-teman kita.”

“Mereka—apapun—yang tinggal di tempat terkutuk ini, hanya ingin kita panic dengan cara memisahkan kita dari yang lain. Dan kita beruntung kan masih bersama?”

“Baiklah kalau kau bilang begitu. Ayo kita cari yang lain.” Kata Nicole yang sekarang juga sudah tenang.

Akhirnya mereka berjalan dengan pelan, tenang dan hati-hati melewati lampu gantung besar yang sudah terjatuh itu dan membuka pintu yang ada di ujung ruangan. DI ruangan berikutnya yang merupakan koridor yang terdapat banyak lampu gantung di langit-langit yang berayun-ayun dengan sangat kencang membuat keadaan tambah menegangkan. “Ayo!” Kata Louise sambil menarik tangan Nicole laru mereka berdua berlari melewati koridor yang dipenuhi lampu gantung yang berayun kencang, dan lilin-lilin yang menempel di dinding membuat ruangan itu menjadi terang. Tiba-tiba lilin-lilin tersebut—yang tadinya menyala dengan api yang kecil dan tenang—berkobar dan membentuk seperti cemeti yang mengayun-ayun ke segala arah. Nicole dan Louise menunduk untuk menghindari pecutan api yang mengeluarkan suara berisik itu. Setelah beberapa lama, cemeti-cemeti itu lepas dari tempat lilin yang menempel di dinding, lalu melayang membentuk dua bola api yang besar di udara. Louise dan Nicole kembali berdiri tegak dan kaget melihat 2 bola api besar yang berada di belakang mereka. Tiba-tiba sepasang mata muncul dari kedua bola api itu, mata yang kelihatan seperti ular. Pupil nya yang sempit berwarna hitam, dan sekitarnya berwarna kuning. Lalu setelah mata muncul; muncul lagi hidung dan mulut, dan akhirnya membentuk wajah manusia yang sangat besar. Seperti ada yang menahan kaki mereka, Louise dan Nicole hanya berdiri saja, dan menatap kaget dua wajah api tersebut. Keringat bercucuran dari kening mereka. Mahluk api tersebut mengeluarkan suara raungan yang memekakan telinga, lalu saat mahluk tersebut membuka mulutnya, keluarlah lidah api yang panjang dan seperti cemeti. Louise, dan Nicole akhirnya dengan segera membalik kebelakang dan mulai berlari, dua mahluk api itu pun mengejarnya sambil mengayunkan lidahnya yang seperti cemeti. Nicole dan Louise berbelok ke kiri dan mahluk api tersebut menabrak dinding saat berbelok, membuat guncangan yang sangat keras. Sekarang mereka harus berlari lagi menuju pintu ang berada di ujung jauh dari tempat mereka berdiri. Saat berlari, mereka melewati beranda yang disangga oleh 8 pilar besar di sebelah kanan mereka, mereka bisa melihat langit yang merah dan dihiasi oleh awan hitam. Nicole juga dapat melihat ke bawah, dan dia bisa menebak bahwa mereka berada di lantai paling atas.

“Lurus atau belok?” Kata Louise saat mereka melihat ada jalan lain yang berbelok ke kiri, sambil berusaha menarik nafas, karena mereka sudah mulai lelah berlari, sementara mahluk api itu masih mengejar dan meraung.

“Belok! Itu bisa memperlambat mereka!” Kata Nicole dengan semangat, sambil melihat ke belakang.

Lalu mereka berbelok dan mahluk api tersebut kembali membentur tembok seperti tadi. Di depan mereka ada pintu yang setengah terbuka, mereka mempercepat lari mereka, dan mahluk api yang ada di belakang mereka juga menambah kecepatan dan mereka sekarang terbang rendah. Para mahluk itu berencana ingin menabrak Louise dan Nicole.

“Mereka akan menabrak kita!” Kata Louise

“sudah sedikit lagi, bertahan!” Kata Nicole menyemangati. Mereka sudah semakin dekat ke pintu tersebut, dan mahluk api itu juga sudah tepat di belakang mereka dan membuka mulut. Nicole menyadari kalau Louise semakin memperlambat larinya karena sudah tidak kuat, saat sudah sampai pintu, Nicole masuk ke ruangan dan membuka pintu lebar-lebar lalu berteriak-teriak menyemangati Louise.

“Ayo sedikit lagi! Percepat larimu!” Kata Nicole sambil bersiap-siap menutup pintu saat Louise sudah masuk ke ruangan. Sementara itu Louise menahan nafas dan berlari dengan lebih cepat. Mahluk api itu tepat berada di belakangnya. Saat sudah mendekati pintu yang di buka lebar oleh Nicole, Louise langsung lompat memeasuki ruangan, bersamaan dengan itu, Nicole membanting menutup pintu tepat waktu sebelum kepala api itu memasuki ruangan. Mereka bisa merasakan guncangan yang hebat, lalu dari balik pintu yang baru saja di tutup itu keluar asap hitam dan setelah itu mereka aman. Kepala api yang mengerikan itu sudah lenyap. Louise duduk bersabdar di pintu, menutup matanya, dan nafasnya tersengal, dan Nicole juga duduk di sebelahnya sambil menghadap ke atas dan mencoba mengambil nafas.

“Apa yang tadi itu?” Tanya Nicole, suaranya gemetar.

“Apapun itu. Sudah lenyap sekarang.” Jawab Louise yang memijit kakinya yang terasa pegal.

“Rumah ini ternyata besar sekali, padahal kalau kita lihat dari tempat kita pertama muncul, kan tidak terlalu besar.”

“Iya. Dan sekarang kita terpisah. Kita tidak tahu dimana yang lain. Bahkan kita tidak tahu dimana kita! Ruangan ini,” Kata Louise yang sekarang matanya melihat ke sekitar ruangan. “Seram sekali, banyak boneka-boneka menyeramkan.”

Ruangan yang dimana mereka berada sekarang adalah ruangan kecil yang berwarna pink dan ungu, dengan banyak sekali boneka yang menyeramkan. Di sudut sebelah kiri ruangan ada tempat tidur yang sepertinya dimiliki oleh seorang anak kecil, karena ada pagar penjaganya. Louise melihat ke arah kanan, ada banyak boneka yang bergelantungan, di rak banyak juga boneka yang duduk disitu, beberapa ada yang matanya lepas. Lalu ada boneka yang sedang duduk di kursi goyang, dan kursi itu benar-benar bergoyang! Padahal hanya boneka yang duduk disitu, dah tentu saja boneka itu tidak mungkin menggoyangkan kursi. Boneka itu seperti mayat. Warnanya hijau, seperti mayat yang sudah membusuk, lalu raut wajahnya juga seperti tengkorak, atau lebih tepatnya adalah anak kecil yang kekurangan gizi. Boneka yang duduk di kursi goyang itu memakai gaun. Louise dan Nicole merasa boneka yang duduk di kursi yang bergoyang itu mengawasi mereka. Mereka bisa melihat, mata kanan dari boneka—yang mata kirinya tidak ada—Itu menatap tepat ke arah mereka.

“Nicole, sebaiknya kita tidak berlama-lama berada di tempat ini.” Kata Louise

“aku merasakan sesuatu yang tidak enak di ruangan ini. Atmosfir nya sungguh tidak enak.” Kata Nicole sambil berdiri, diikuti oleh Louise. Dan saat mereka berbalik untuk membuka pintu yang tadi mereka lewati, tiba-tiba mereka mendengar alunan music. Alunan music yang biasa berasal dari mainan anak bayi. Saat itulah perasaan tidak enak mereka semakin menjadi. Kursi yang di duduki boneka tadi bergoyang lebih kencang, ke depan dan kebelakang, seperti tertiup angin teteapi di ruangan itu bahkan ventilasi pun tidak ada. Louise membuka pintu dengan hati-hati, dia membuka sedikit lalu mengintip keluar, setelah dia yakin keadaan aman, baru da membuka pintu dengan lebar. Dia keluar diikuti leh Nicole di belakangnya, dan saat Nicole akan menutup pintu, dia melihat kearah boneka yang duduk itu sekali lagi, dan dia melihat boneka itu sekarang menatap kearah nya dan tersenyum jahat. Nicole langsung tersentak dan buru-buru menutup pintu. Mereka berjalan lurus sampai ke beranda yang disangga oleh pilar-pilar besar, lalu berbelok ke kiri, dan melanjutkan perjalanan sampai ke ujung. Udara sangat pengap disitu, bahkan mereka mengira sama sekali tidak ada oksigen disitu, padahal mereka berada di tempat terbuka. Tiba-tiba, sebelum mereka sampai ke pintu yang berada di ujung, Louise menoleh kebelakang.

“Ada apa?”Tanya Nicole yang juga menoleh.

“Aku merasa ada yang mengikuti kita.”

“Di tempat seperti ini perasaan seperti itu memang sering terjadi kan? Ayo.” Kata Nicole sambil berusaha tidak memikirkan soal mahluk-mahluk menyeramkan yang tinggal di rumah itu.

“Tidak! Tunggu sebentar.” Kata Louise, tangannya memberikan aba-aba kepada Nicole untuk diam.

“Louise!” Nicole berteriak lalu mengenggam tangan Louise dan menariknya dengan paksa, tapi Louise seperti patung, sama sekali tidak bergerak, Matanya tetap teruju ke depan, dan menunjukan keberanian. Lalu Nicole yang tadinya ribut juga sekarang diam, dan berkonsentrasi. Tidak lama kemudain terdengar suara bisikan, bisikan anak kecil. Lalu terdengar suara-suara anak kecil yang sedang bersenda gurau, ada yang tertawa, ada yang berkikik. Dari belokan, mereka bisa melihat beberapa sosoj anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Anak-anak kecil itu memakai pakaian zaman pertengahan. Mereka semua tidak tampang jelas, putih seperti uap yang berterbangan, bahkan tembus pandang. Saat mereka berlari, mereka seperti melayang, tidak ada suara tapak kaki. Semua ada 4 anak kecil. Saat anak kecil itu sedang saling mengejar, lalu mereka melihat Louise dan Nicole yang berdiri ketakutan. Mereka menatap Louise dan Nicole dengan mata mereka yang putih dan tanpa expresi, lalu mereka mengumamkan sesuatu yang tidak bisa di dengar. Louise dan Nicole akhirnya mengambil keputusan untuk lari menghindari para anak-anak kecil hantu tersebut, dan saat menoleh kebelakang, mereka melihatnya lagi; Seorang wanita tua pendek dan berpakaian anak kecil, bersepatu sekolah, dan membawa pisau besar dan tajam yang ada noda darah di ujungnya. Wanita tua itu menunduk sehingga Nicole dan Louise tidak bisa melihat wajahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: