Motel 805 (Chapter VI)

Written By: Adri Adityo Wisnu

Nicole dan Louise tersentak tidak lama setelah melihat wanita tua pendek itu berdiri di depannya, dan saat itu tiba-tiba 4 hantu anak kecil yang baru saja mereka temui, berlari mengelilingi mereka membentuk lingkaran besar sambil tertawa menyeramkan. Tidak ada jalan keluar bagi Nicole dan Louise, tidak maju dan juga tidak mundur. Hantu wanita tua itu mengangkat kepalanya perlahan lalu membuka matanya yang hitam. Hitam , tidak ada warna lain. Mukanya pucat, dengan mata hitam yang menyeramkan, dan juga bibirnya yang juga hitamn sampai lidah dan giginya. Louise dan Nicole bisa melihat kengerian dari mahluk itu saat menyeringai.

“Di depan kita ada pintu, tidak terlalu jauh, kita bisa dengan cepat berlari melewati mereka.” Kata Nicole

“Tapi hantu anal-anak ini terus berlari mengelilingi kita, cepat sekali mereka. Aku tidak bisa menemukan celah.” Louise membalas bergumam

“anak-anak ini kelihatan nya seperti udara saja, mungkin kita bisa berlari menembus mereka!” Kata Nicole dengan nada panic karena hantu wanita tua itu sudah mulai berjalan mendekat sambil menggoyangkan kepalanya dengan liat ke segala arah.

Louise memandang berkeliling, memandang hantu anak-anak yang berlari mengitari mereka sambil bernyanyi-nyayi dan tertawa kecil yang menyeramkan, lalu dia memandang wanita tua yang berjalan kearah mereka, dan tiba-tiba saja menghilang.

“Dia lenyap.” Kata Nicole kebingungan

“Ayo lari!” Louise menarik tangan Nicole lalu berlari melewati hantu anak kecil dan memasuki pintu. Sementara itu, 4 hantu anak kecil yang tadi berterbangan berpencar menembus dinding, mengejar Louise dan Nicole. Nicole dan Louise menyusuri beberapa ruangan dari rumah tersebut, saat berlari tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Nicole terjatuh. Louise menoleh kebelakang saat Nicole berteriak. Louise melihat ada sepasang tangan putih yang muncul dari lantai yang mengenggam kaki Nicole, dan saat Louise hendak berlari menghampiri tina-tina, seperti ada yang menendangnya, Louise terpental menabrak dinding. Pandangan Louise kabur karena punggung dan kepala belakangnya terbentur keras, dan setelah pandangannya jernih lagi, dia melihat Nicole yang berteriak-teriak minta tolong. Setengah dari tubuhnya sudah tenggelam ke lantai, dan di belakangnya ada wanita tua pendek yang siap menusuk Nicole dari belakang. Mata hitamnya lalu menoleh kearah Louise yang sekali lagi akan mendekat untuk menolong Nicole. Louise sekali lagi berlari menuju Nicole yang sekarang banyak tangan panjang berwarna putih menariknya ke bawah, menembus lantai. Dan sekali lagi pula dia terpental, tapi setelah itu dia langsung berdiri lagi dan dia melihat Nicole sudah lenyap. Louise jatuh berlutut di lantai, lalu menangis menyesal dan terus memanggil nama Nicole. Dia berhenti saat mendengar suara kikik kecil dari sebelah kirinya. Saat menoleh, Louise melihat hantu wanita tua sedang berdiri di sebelahnya, tepat disebelahnya. Tanpa pikir panjang Louise langsung tersentak dan lari lagi menghindari para hantu dan mencari jalan keluar. Dia melewati beberapa ruangan, berbelok, Dan melewati beberapa koridor gelap. Sampai akhirnya dia menemukan pintu ganda yang besar, sementara itu hantu anak-anak terkadang muncul dari balik tembok. Dia berlari kencang dan mendobrak membuka pintu itu, lalu cepat-cepat menutupnya. Sekarang nafasnya tersengal, dia bersandar dan melihat sekeliling ruangan itu. Ruangan bundar itu adalah perpustakaan. Sangat luas, dengan banyak sekali rak buku yang di posisikan seperti berbaris, dan buku buku yang tertata juga sangat rapih, tapi berdebu. Ada banyak sekali obor yang di sangga di tembok sekitar perpustakaan itu, tapi sayangnya yang menyala hanya 3 dari 16 obor, yang membuat perpustakaan itu gelap, tapi masih ada sedikit cahaya untuk melihat. Louise melihat ke sisi kiri, ada 2 obor yang sudah menyala, lalu di sisi kanan nada 1. Louise berteriak keras saat merasa ada yang menusuk kakinya, dia terus berteriak kesakitan, dabn saat melihat kebawah ada pisau yang menancap di kakinya, dan hantu wanita tua itu yang telah menusuknya. Wanita tua pendek itu menghilang lagi. Luoise langsung jatuh terpuruk lalu memegangi kakinya sambil menahan sakit. Darah yang keluar dari kakinya cukup banyak, sampai Louise merasa agak pusing. Lalu pintu ganda yang tertutup di belakangnya itu berbunyi keras seperti ada sesuatu yang amat sangat besar menabraknya. Louise langsung berjalan terpincang-pincang menjauhi pintu itu, lalu muncul 4 anak kecil dan wanita tua menembus dari balik pintu. Dengan berusaha sekuat tenaga, Louise berjalan mundur, sementara para hantu yang berada di depannya berjalan perlahan kearahnya sambil memasang senyum mengerikan, mereka juga menggumamkan sesuatu yang didengar oleh Louise seperti desahan angin. Tidak lama kemudain, punggung Louise menabrak rak buku, dan dia sadar sudah tidak ada jalan keluar lagi, dia pasrah menerima apa yang dilakukan para hantu itu terhadapnya. Tapi hantu-hantu itu tidak mendekati nya, mereka hanya terdiam di tempat mereka dan melihat kearah Louise. Louise melihat ke atas, dan dia sadar bahwa hantu-hantu takut untuk mendekatinya, mereka takut cahaya, mereka tidak tahan oleh cahaya yang di hasilkan dari obor yang menyala, yang berada di sebelah rak buku tempat Louise bersandar. Lalu hantu-hantu itu menghilang lagi. Sekarang Louise sungguh mengetahui apa yang harus dia lakukan. Dia melihat besi panjang yang betuknya seperti linggis, dan ujungnya ada sesuatu seperti permen karet berwarna abu yang melekat.  “Aku harus tahan rasa sakit ini” Pikirnya. Lalu dia berdiri dengan perlahan dan tentunya sambil menahan rasa sakit. Dengan sekuat tenaga Louise berlari terpincang kearah besi itu lalu cepat-cepat kembali ke tempatnya di bawah cahaya. Dia menyentuh ujung yang mirip permen karet yang menempel itu, lalu mengendus nya. “Minyak.” Katanya sambil tersenyum. Dia berdiri lagi, lalu menyentuhkan ujung dari besi itu ke api dari obor yang ada di dekatnya, dan berhasil. Ujung dari besi itu mengeluarkan api! Sekarang yang dia harus lakukan adalah menyalakan semua obor yang ada di ruangan, dan harus cepat. Dia hanya harus berlari mengelilingi ruangan berbentuk bundar itu. Dia memegangi paha nya, lalu berlari pincang sambil agak membungkuk. Dia sampai di obor pertama lalu menyalakannya, saat menuju obor kedua dia melihat para hantu berterbangan di sekitarnya, berusaha untuk memangsanya saat dia sedang berada di bagian yang gelap. Louise berhasil menyalakan obor kedua, lalu dia berlari ke obor ketiga dan menyalakannya tanpa masalah yang berarti. Dia istirahat sebentar, berusaha mengambil nafas, kakinya semakin sakit. Dia melanjtukan ke obor ke empat, saat dia sedang berlari, hantu anak kecil muncul tepat di depan mukanya, Louise yang kaget otomatis mengayunkan besinya kearah anak kecil itu dan akhirnya menghilang lagi. Selanjutnya, Louise berlari menuju obor-obor berikutnya sambil mengayunkan besi yang di pegangnya, dan mengarahkannya ke hantu yang berada di dekatnya. Akhirnya sampai lah dia ke obor yang ke lima belas. “Satu lagi.” Kata Louise. Sekarang ruangan sudah sangat terang dan hantu-hantu hanya berterbangan di sekitar obor terakhir, seakan mereka menjaga agar obor itu tidak di nyalakan. Louise berlari melanjutkan usahanya, dan tiba-tiba ada sepasang tangan putih yang muncul dari bawah, mengenggam kakinya, sama seperti Nicole. Awalnya Louise hanya memberontak berusaha melepaskan diri saking paninya, lalu dia dapat ide, dia membalikan badan dan melihat tangan yang menggengam kakinya, dan kepala anak kecil yang menatap nya. Tanpa berpikir lagi, Louise mengarahkan besinya tepat kearah kepala anak kecil itu, lalu hantu anak kecil itu berteriak kesakitan dan melepaskan genggamannya. Saat Luise sempat berpikir dia sudah aman, dia salah besar. Tangan yang bermunculan sekarang lebih banyak, mengurungnya di tempat. Dan saat itu di depannya muncul wanita tua pendek yang akan membunuhnya dengan pisau. Louise melihat obor terakhir tidak jauh adri tempatnya sekarang. Dia melihat si wanita tua berjalan mendekatinya, sementara dia tidak bisa kabur karena tangan-tangan yang menghimpitnya.

“Perjuanganku sia-sia. Ya . .kalau seandainya ini tidak berhasil, maka matilah aku.” Louise berkata kepada diri sendiri, dan wanita tua sudah semakin dekat dengannya. Lalu Louise melihat kearah obor terakhir yang berada di dekatnya, berkonsentrasi penuh lalu melemparkan besi yang dia genggam kearah obor itu. Besi itu melayang ke udara lalu menukik dan masuk tepat mengenai obor, lalu api pun menyala. Louise tersenyum puas. Sekarang perpustakaan menjadi sangat terang, dia melihat tangan-tangan putih yang menghimpitnya sudah lenyam, dan hantu wanita tua itu berteriak histeris sebelum akhirnya terbakar. Louise lalu duduk bersandar, kakinya terasa sakit lagi, dan kepalanya sangat pusing. Tidak lama kemudain terdengar suara dengung yang akhirnya membuat nya pingsan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: