Motel 805 (Chapter VII)

written By: Adri Adityo Wisnu

“Dimana kita? Ini bukan tempat dimana kita berada tadi.” Kata Thomas, sambil melihat kebingungan.

“Tidak tahu. Kepalaku masih pusing.” Kata Craig, sambil menekan kepalanya menggunakan telapak tangan.

Thomas dan Craig telah sadar dari pingsan, dan sekarang mereka menemukan diri mereka berada di sebuah kamar tidur yang cukup terang dan bagus, daripada ruangan-ruangan yang sudah mereka lalui di rumah itu.  Kamar yang rapih, ada tempat tidur besar yang ditutupi seprai berawrna emas, lengkap dengan bantal yang kelihatannya nyaman dan bagus, gulling dan bagus. Di sudut ruangan ada rak-rak buku dan meja kerja. Ada jendela yang ditutupi oleh korden, di situ.

“Dimana yang lain?” Tanya Craig sambil mengerutkan dahi

“Ah, iya benar! Kita hanya berdua disini!”

Lalu Craig berjalan menuju jendela, membuka korden dengan kasar, lalu mendorong jendela itu membuka keluar. Dia menjengukan kepala keluar, melihat ke bawah lalu berkata “Ada di tingkat berapa kita?” Lalu dia melihat ke langit yang merah dan mengerikan, lalu melihat ke area sekitar rumah itu, yang gersang dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Kecuali ada beberapa gagak menyeramkan yang berterbangan, dan saat salah satu dari gagak itu menyerang Craig, dia langsung menutup jendela itu.

“Gagak berengsek!” Kata Craig sambil melihat ke tangannya yang sedikit terluka.

“Ayo kita keluar dari sini. Tidak ada gunanya berlama-lama.” Kata Thomas sambil membuka pint yang ada di sebelah tempat tidur. Saat Thomas membuka pintu, dia melihat kedalam ruangan yang ternyata adalah kamar mandi, dengan bak yang terbuat dari marmer yang indah.

“Um, Thomas. Pintu keluar yang ini.” Kata Craig yang sedang membuka pintu di sudut lain, lalu Thomas menutup pintu kamar mandi dan bergegas menuju Craig. Tapi saat itu mereka merasa ada sesuatu yang bergerak di tempat tidur. Mereka melihat ada sesuatu di balik selimut itu.

“Apa itu?” Tanya Thomas

“Apapun itu, aku sungguh tidak ingin tau.” Kata Craig sambil menarik kerah Thomas.  Lalu sesuatu yang ada di balik selimut itu bergerak lebih ganas dari sebelumnya. “Oh ya ampun!” Kata Thomas terkejut lalu bergerak mundur dan langsung menutup pintu. Mereka berdua menelusuri rumah tersebut, melewati lorong-lorong, memasuki beberapa ruangan yang mengerikan, terkadang ada ruangan yang bagus dan membuat hati tenang, menemui jalan buntu, dan menuruni tangga. Tetapi mereka tidak menemukan tanda-tanda dari teman-teman mereka atau jalan keluar sekalipun. Mereka berjalan dengan penuh ketegangan melewati lorong-lorong gelap, tapi Craig memutuskan untuk memulai obrolan agar mereka tidak mereasa takut.

“Hey, Thomas.” Kata Craig

“Ya?”

“Aku memperhatikan, dari caramu melihat Louise. Kau suka padanya kan?”

“Ya tuhan, Craig. Dalam situasi seperti ini kau malah membicarakan hal seperti itu.” Jawab Thomas dengan tenang.

“Yah, aku kira kalau kita mengobrol dengan santai maka kita tidak akan merasa tegang terus-menerus.”

“Jadi kau ingin tahu apa perasaanku terhadap Louise?”

“Jika kau tidak ingin memberitahu juha tidak masalah.”

“Ok, aku memang suka padanya. Demi tuhan, Craig. Hanya dia yang bisa mendengar keluhanku jika aku sedang dalam masalah, dia bisa menenangkan pikiranku.”

“Memang gadis hebat si Louise itu.” Kata Craig sambil menepuk pundak Thomas.

“Memang ada apa? Kau tiba-tiba bertanya tentang itu.”

“Tidak. Kalau aku tahu kan, ya mungkin aku bisa membantu. Aku juga penasaran. Jadi hanya memastikan.”

“Oh. Baiklah kalau begitu. Sekarang aku merasa khawatir dengan yang lain. Dimana mereka? Apa yang mereka lakukan?”

“Tenang saja, aku yakin mereka bisa menjaga diri, dan pasti akan menemukan jalan keluar. Tapi yah, pasti tidak akan semudah itu. Bahkan sampai sekarang kita pun hanya menelusuri tempat terktuk ini tanpa menghasilkan apa-apa.” Kata Craig menyemangati.

Lalu tiba-tiba Thomas menempelkan tangan kanannya ke mulut Craig, menandakan bahwa Craig harus diam. “Apa yang kau lakukan?” Kata Craig agak jengkel sambil menyingkirkan tangan Thomas. “Kau dengar itu tidak?” Kata Thomas. Lalu Craig mendengar dengan seksama, dan iya dia mendengarnya! Suara manusia, sangat banyak, dan semua suara laki-laki. Berat dan menyeramkan. Mereka seperti sedang menggumamkan seskatu dengan keras yang tanpa irama dan berulang-ulang. Semuanya serentak menggumamkan sesuatu itu, tanpa ada yang suaranya lebih besar, kecil atau ada yang tertinggal. Semua kompak. Crag dan Thomas menyusuri lorong, sambil berkonsentrasi memperhatikan darimana suara itu datang. Thomas menempelkan telinganya ke pintu-pintu yang ada di lorong. Dan belum juga menemukan ruangan darimana suara itu berasal. Akhirnya mereka berhenti di pintu berawarna perak yang ada hiasan kepala tengkoraknya. Lalu dengan ragu-ragu Thomas membukanya, dia memutar gagang pintu dengan perlahan, lalu mengintip sedikit. Ternyata dia melihat ruangan yang serba putih dan melihat tangga di pojok, dia sadar bahwa ada tangga berarti mereka turun dan mungkin semakin dekat dengan jalan keluar.

Kepala Thomas menghadap kearah Craig yang berada di belakangnya dengan wajah penasaran lalu Thomas berkata “Ada tangga menuju kebawah, mungkin sebentar lagi kita sampai ke pintu keluar.”

“Kalau tidak salah kita tadi sudah melewati 2 tangga. Tapi kita belum juga menemukan jalan keluar kan?”

“Yah tidak ada salahnya kan berpikiran baik. Tapi tunggu,” Thomas mengerutkan dahi lalu mengintip ke ruangan putih tersebut. “Suara itu semakin jelas.” Akhirnya homas mundur sedikit dan mendorong pintu itu pelan-pelan sampai akhirnya terbuka sepenuhnya.

“Dan sekarang suara itu benar-benar jelas!” Kata Craig menyetujui.

“Ayo kita lihat. Diam disini juga tidak akan membuat kita tiba-tiba teleport ke luar.” Kata Thomas lalu pelan-pelan memasuki ruangan ya serba putih yang di sangga oleh beberapa oleh pilar-pilar besar yang berwarna gradasi, dan sudah reyak-retak, sampai Thomas berpikiran bahwa dalam waktu beberapa menit pilar itu akan hancur dan ruangan akan rubuh dan mereka tertimbun. Thomas dan Craig pelan-pelan dan dengan hati-hati mereka melihat kebawah, masih agak takut oleh suara itu, siapa tau itu monster yang menyeramkan. Dan saat itu juga mereka melihat ada 5 orang yang berpakaian serba hitam dan kepalnya ditutup oleh tudung. Mereka juga menggunakan aksesoris aneh. Mereka berjalan melingkar mengitari objek yang berdiri di atas meja yang mereka kelilingi. Objek itu berbentuk seperti lambang dari suatu perkumpulan penyembah setan, dan dari cara mereka menggumam sesuatu yang seperti mantra, menggunakan aksesoris aneh dan berjalan mengelilingi suatu objek aneh, Thomas dan Craig sudah bisa memastikan kalau mereka yang dibawah itu pastilah penyembah setan.

“Sekarang bagaimana?” Tanya Craig.

“Jumlah mereka hanya ada segitu kan? Kita bisa melawan. Kita kan hebat.”

“Ya memang kita hebat kalau melawan anak manusia. Tapi jelas mereka bukan manusia.”

“Mungkin saja mereka penghuni asli rumah berengsek ini, lalu mereka menyembah setan dan bahkan membiarkan iblis-iblis itu tinggal disini.”

“Kau terlalu banyak menonton film.” Kata Craig mengejek. “Baiklah, kita kebawah. Kau lihat pintu kayu besar yang ada disitu?” Kata Crag sambil menunjuk kearah pintu yang ada di ujung.

“Tidak terlalu jauh. Kita berlari secepat mungkin. Dan aku punya firasat buruk tentang salah satu yang memakai baju merah itu.” Kata Thomas sambil meunjuk kearah sosok yang tidak ikut mengitari lambing iblis tapi tetap menggumamkan mantra. Kepalanya botak dan ada tatonya, muka nya di sembunyikan oleh topeng yang menyeramkan. “Kau siap?” Tanya Thomas dengan berbisik.

“Tentu saja!” Craig tidak sengaja berkata begitu sambil berteriak, sehingga semua yang ada dibawah menengok ke atas lalu yang berbaju merah berteriak sesuatu sambil menunjuk kearah Thomas dan Craig. “Jangan lewat tangga, loncat saja! Tidak begitu tinggi!” kata Thomas saat melihat yang memakai baju hitam menaiki tangga. Mereka meloncat kebawah dan mendarat di lantai dengan mulus, lalu yang memakai baju merah berteriak lagi dan yang memakai baju hitam turun dari tangga mengejar Craig dan Thomas.

“OH! Beruntung sekali kita!” Kata Thomas saat sadar di belakang mereka ada dua pedang yang digantung sebagai hiasan, tapi pedang anggar itu tidak diketahui asli atau tidak. Lalu dengan segera Craig mengambil juga dan mengarahkannya pada semua yang mengepung mereka. Mereka sudah terpojok. “Baiklah, mari kita coba.” Kata Thomas lalu maju dan menusuk salah satu dari yang berbakaian hitam, lalu sosok itu berubah menjadi pasir dan menghilang. “heeeeey! Ini berhasil!” kata Thomas dengan bangga dan bersemangat.

“Hey! Kerja bagus kawan.” Kata Craig semangat. Lalu mereka berdua membunuh sisa dari sosok misterius yang mengepung mereka, dan saat semua telah lenyap dan dikira sudah berhasil, ternyata datang lagi manusia-manusia aneh yang memakai tudung dan mukanya tidak kelihatan. Mereka datang dari pintu di sebelah timur, dengan dipimpin manusia botak yang berpakaian merah. “Terlalu banyak, lagipula tujuan kita kan pintu yang ada di belakang kita ini, jadi lebih baik kita,” Kata Thomas sambil mengarahkan pedang anggarnya, lalu Craig yang ada di sebelahnya melanjutkan kalimat Thomas. “LARI!” Dan mereka berbalik lalu berlari kencang menuju pintu lain yang berada di ujung ruangan, sementara itu para manusia penyembah setan ikut mengejar. Thomas larinya begitu cepat sehingga Craig tertinggal agak jauh, tetapi untuknya yang mengejar mereka lebih lambat lagi. Saat Craig melihat kebelakang dia melihat yang berpakaian merah membawa bola berduri dari besi yang di ikatkan pada rantai. Lalu dia berusaha menahan nafas dan berlari lebih kencang. Saat itu Thomas hampir sampai ke pintu dan berteriak “Hey cepat, bodoh!” Dan sehabis itu tiba-tiba dari lantai muncul pagar berduri yang memisahkan mereka berdua, Untung saja Craig cepat-cepat menahan lajunya. Sementara itu Thomas hanya terbengong kaget. Craig melihat kebelakang dan manusia-manusia misterius itu berdiri di belakangnya, lalu tidak lama pintu yang berada di dekat Thomas terbuka dan muncul lagi lebih banyak manusia bertudung.

“Jadi, bagaimana sekarang, Thomas?” Kata Craig sambil berusaha mengambil nafas dan berpikir bagaimana cara dia selamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: