Motel 805 (Chapter IX)

Written By: Adri Adityo Wisnu

“Daritadi kita berjalan tapi tidak menemukan apa-apa.” Kata Nathan sambil memandang di tempat mereka berada sekarang. Mereka telah sadar dari pingsan, dan seperti  yang lain, saat sadar dia menemukan dirinya hanya berdua dengan George.

George menghela napas, lalu dia melihat sekeliling dan berkata “Betul, hanya ada lukisan-lukisan yang mengerikan ini.” Sekarang George dan Nathan sedang menelusuri koridor dimana banyak sekali lukisan yang terpampamg di dinding. Lukisan-lukisan tersebut sangat bagus memang; mempunyai nilai seni yang tinggi, dan kelihatan seperti foto darpada lukisan.

Nathan bergidik lalu berkata “Sepertinya mata dari orang-orang yang ada di lukisan-lukisan itu memperhatikan gerakan kita.”

“Ah, mana mungkin itu!” Kata George sambil nyengir meledek. “Lukisan kan benda mati.” Lanjutnya

“Tapi kan di tempat seperti ini biasanya lukisan pun menjadi hidup, seperti di film.”

“Ya itu kan di film. Jangan terlalu banyak berkhayal, dan jaga omonganmu.” Kata George jengkel

“iya, apa katamu saja.”

Setelah beberapa menelusuri jalan di rumah—atau mungkin sekarang lebih tepat di katakan—puri, Nathan yang sedang jalan dengan santai tiba-tiba terdiam, matanya terbelalak dan menatap kearah George. George berhenti karena bingung melihat Nathan tiba-tiba berhenti. Secara sangat tiba-tiba, Nathan meremas kepalanya lalu berteriak-teriak kesakitan. “Hey Nathan, ada apa!?” Tanya George seraya mencoba mendekatkan dirinya kepada Nathan untuk membantu. Nathan yang masih berteriak kesakitan, jatuh berlutut lalu mengatakan sesuatu yang patah-patah. “Jangan. . . . .DIAM! Aku tidak mau . . . .hentikan.” dan setelah beberapa lama akhirnya Nathan sudah lebih tenang, dan berhenti berteriak-teriak; tetapi tangannya masih meremas kepala.

“Hey, ada apa denganmu, kawan?” Tanya George penasaran. Tapi Nathan tidak menjawab, melainkan hanya menggeram seperti anjing yang marah. “Hey jangan bercanda! Itu tidak lucu!” Tukas George. Lalu George mendengar Nathan tertawa dengan pelan. Tertawanya seperti orang jahat. Lalu tangan Nathan menyentuh lantai, dan pelan-pelan mengadahkan kepalnya untuk melihat kearah George uang berdiri di depannya. George langsung kaget dan mengambil langkah mundur ke belakang saat dia melihat bahwa yang ada di hadapannya itu bukan Nathan. Tidak tau apa yang telah terjadi, tetapi sekarang Nathan telah berubah. Bagian matanya yang putih sekarang menjadi kuning dengan beberapa garis hitam, lalu pupilnya manjadi warna kemerahan. Mata itu menatap tajam kearah George dengan penuh dendam. Nathan membuka mulutnya yang sekarang dipenuhi lender, dan gigi-giginya tajam seperti gigi serigala. Nathan pun akhirnya berdiri tegak, dan mulai maju perlahan.

“Berengsek!” George sadar bahwa tidak ada gunanya berbicara. Nathan sudah kerasukan, dan dia merasa harus mencari cara untuk membebaskan Nathan. Tapi bagaimana!? Dia tidak bisa berkonsentrasi karena di saat yang sama dia juga harus menghindar dari Nathan, karena sewaktu-waktu dia akan di serang. Ternyata dugaan Craig tidak meleset, Nathan tiba-tiba meloncat kearah George, tetapi dengan gesit George memukulnya dan langsung lari. George berusaha lari secepat mungkin, dan saat melihat kebelakang, dia tercengang karena—mungkin karena kerasukan—Nathan melompat dari sisi dinding kiri ke sisi kanan, dan saat lompatan ketiga, Nathan melompat kearah George dan menjatuhkannya. George menggunakan tangannya untuk mendorong Nathan, karena Nathan mencoba untuk mengoyak wajahnya. George memukul wajah Nathan sekali, tapi Nathan tidak berkutik. Lalu George mengulang pukulan kearah muka Nathan berkali kali sampai akhirnya Nathan melepas George dan kembali terjadi kejar-kejaran. George sampai di ruangan yang berbentuk U, dan untung saja George dengan segera menutup pintu, jadi memperlambat gerakan Nathan. George langsung lari ke tikungan yang berada di ruangan itu, dan dia melihat sesuatu yang aneh. Di sisi tembok ada noda-noda bekas cipratan darah. Dengan hanya melihat saja George sudah tau bahwa ada yang tidak beres, tapi tidak ada jalan lain. Dia melihat ada pintudi ujung sana. Sedangkan dibelakangnya Nathan sudah mengamuk mencabik-cabik lalu berhasil merusak pintu dan masuk.

“Ah! Apa yang harus aku lakukan sekarang! Mungkin ada suatu jebakan. Dinding itu kelihatan aneh.” Dan sebelum George sempat selesai berpikir, Nathan sudah hamper menyerangnya dari belakang. George langsung menunduk lalu berlari melewati noda darah, dan dia mendengar suara “click” pelan. Setelah itu ada kira-kira 30 mata kecil keluar dari dinding, mengarah tepat dimana Nathan berdiri, bebepara detik kemudian mata-mata itu menembakan berpuluh-puluh paku secara berubtun dan langsung menancapkan Nathan ke dinding, setelah itu lebih banyak mata yang keluar lewat dinding dan lama kelamaan mendekat kearaj George. George yang panic langsung berlari kearah pintu. Dia harus berlari secepat mungkin, dan jika dia mengurangi kecepatan, maka tamatlah riwayatnya karena mata itu seperti mengejarnya. George mendobrak pintu menuju ke ruangan gelap lalu buru-buru menutupnya. Dia bersandar, mengambil nafas lalu bergumam. “Nathan, maaf. Aku tidak bisa menyelamatkanmu.” Setelah itu George merasa tenaga nya sudah habis, sehingga dia tidak kuat berdiri lagi. Hilanglah kesadarannya setelah beberapa detik memejamkan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: