Motel 805 (Chapter X)

Written By: Adri Adityo Wisnu

 

Thomas merasa berada di dalam kegelapan yang menyeluruh. DIa tidak bisa maju, dan tidak bisa juga mundur. Semua terasa hampa, sepi. Apakah dia sudah mati? Dia sendiri tidak tahu. Tapi kehampaannya musnah oleh suara ketukan yang amat keras dan bertubi-tubi. Thomas membuka mata dan dengan segera dia bangun, dia menerawang ke sekitar, dan ternyata sekarang dia sudah kembali ke kamar motel! Dia bisa melihat Craig, dan George; tetapi Nathan mungkin karena kedinginan sampai-sampai dia menutup seluruh tubuhnya memakai selimut. Ketukan itu dia dengar lagi, dan ternyata datangnya dari pintu kamar. Thomas dengan malas berdiri dari tempat tidur, lalu menuju pintu. Saat dia membukanya tiba-tiba Louise menerjang masuk lalu memeluknya. Louise menangis terisak, lalu mengatakan sesuatu yang terburu-buru.

“Hey, Lou. Tenangkan dirimu! Ada apa?” Kata Thomas khawatir

Louise mengatur nafasnya, menenangkan diri sebentar lalu menjawab “Akhirnya kita kembali. Ya tuhan, kau tidak tahu apa yang aku dan Nicole hadapi setelah kita terpisah. Saat itu aku kira Nicole sudah mati, tapi ternyata dia masih hidup. Sekarang dia masih shock di kamar. Dia tidak mau keluar.”

“Aku dan Craig juga menghadapi sesuatu . . .orang yang memakai tudung. Ah, aku tidak bisa mengingat dengan jelas.” Kata Thomas sambil menekan kepalanya. Lalu Thomas menyuruh Louise menunggu di depan pintu sementara dia membangunkan yang lain. Tidak lama Nicole datang ke kamar mereka, mukanya pucat pasi seperti mayat. Setelah semua sudah bangun, Thomas bergerak untuk mambangunkan Nathan. Dia memanggil Nathan beberapa kali tapi tidak ada jawaban. George sudah sangat merasa khawatir. Apakah dia benar-benar mati seperti di mimpi? Apakah itu HANYA mimpi?

“Demi tuhan, Nathan. Bangunlah! Apa kau masih mau meneruskan mimpi kita yang seram itu?!” Kata George bergerak maju lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Nathan. Tidak lama Louise tersentak, lalu Nicole yang duduk di sebelahnya berteriak dengan keras dan melengking. Tubuh Nathan berubah menjadi tulang belulang. Ya, itu mayat Nathan, dia sudah mati. Ternyata kejadian itu antara mimpi dan kenyataan.

“Ya tuhan.” Kata George tidak percaya. Louise mendekap mulut dengan tangannya lalu bergerak mundur, menjauhi mayat Nathan. Lalu George menceritakan apa yang terjadi saat dia hanya berdua dengan Nathan, lalu saat Nathan kerasukan, dan saat dia mati tertancap.

“Lebih baik kita cepat-cepat kembali ke mobil! Tempat ini terkutuk! Kita harus langsung pulang.” Kata Thomas sambil membereskan barang-barangnya. Yang lain pun dengan segera membereskan barang-barang mereka, dan George membawa barang Nathan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan . . .” Craig berhenti, dia mencari kalimat yang tepat. “Tulang ini?” Lanjutnya.

“Kita harus minta tolong Mitchell untuk menguburkannya!” Kata Thomas. Dia sekarang bisa melihat Luise dan Nicole sudah membawa tas mereka dan bersiap untuk pergi. Begitu juga dengan Thomas, Craig, dan George. Lalu saat mereka hendak turun, didengarnya langkah seseorang sedang menuju keatas.

“Ada apa ribut-ribut?” Tanya Henry Mitchell, si pemilik motel sambil memasang expresi kebingungan. Dengan sangat berat hati Thomas dan yang lain menjelaskan semua yang terjadi dari saat kamar tiba-tiba menjadi dingin, lalu tentang rumah besar yang mereka jelajahi, sampai akhirnya mereka terbangun. Thomas lalu memperlihatkan mayat Nathan. Mitchell tersentak kaget dan bergumam “Ada apa dengan tempat ini!”

“Apa biasanya para tamu yang menginap disini mengalami kejadian seperti kami?” Tanya Craig

“Tidak.” Jawab Mitchell

“Atau hanya di kamar 25 dan 26?” Tanya George

“Tidak juga.”

“Ya tuhan, apa yang akan kita katakana pada orang tua Nathan.” Kata Nicole

“Baiklah, ini tanggung jawabku. Aku akan mengubur mayat anak ini. Sebaiknya kalian cepat-cepat pergi dari sini. Tidak usah bayar.” Kata Mitchell murung. Suasana canggung pun akhirnya membawa langkah mereka sampai ke mobil, tidak ada yang bicara saat itu. Semuanya murung. Mereka sudah memasuki mobil dan Thomas menyalakan mesin mobil. “Pengalaman yang mengerikan.” Gumam Thomas sambil menancap gas, lalu mobil tersebut berjalan kearah kembali ke kota tempat mereka tinggal. Saat itu George menyadari bahwa suasana jalan beda jauh dengan saat mereka baru sampai tadi. Sekarang lebih jauh lebih hidup, tanpa adanya kabut tebal yang menghalangi pandangan.

Sementara itu, Henry Mitchell masih berdiri di depan kamar 25, sambil menatap tulang Nathan Kindman, lalu Mitchell tersenyum kecut dan berkata “Mereka berhasil selamat ya.” Lalu tiba-tiba dia menghilang, dan bersamaan dengan itu Motel 805 juga ikut menghilang. Di tempat tadi motel itu berdiri kembali menjadi padang rumput yang luas. Mungkin suatu saat, jika ada orang yang melewati daerah itu lagi, maka Motel 805 dan Henry Mitchell akan tampak lagi di mata para pelancong.

 

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: