New Year Incident (Chapter IV)

written by: Adri A Wisnu

Mr. O’Connor, James, Harrington, John, dan tentu saja Alex sudah kembali ke aula tempat mereka mengadakan pesta. Mereka bisa melihat kecemasan dari wajah para wanita. “Apa yang terjadi?” Tanya si wanita Asia, Kim dengan wajah yang menuntut jawaban. Matanya memandang bergantian dari satu pria ke yang lain. Lalu dia melihat John menggelengkan kepalanya dengan sedih, dan duduk kembali karena sudah mengerti apa maksudnya.

“Aku meminta izin untuk memeriksa semua barang bawaan kalian.” Kata Alex.

“Apa! Kau mencurigai kami?” Kata Dr. Rosemary memberontak

“Kami kan disini pada saat ada suara tembakan.” Kata Mrs. O’Connor

“Dalam hal ini semua harus di curigai, walaupun kalian memang berkumpul disini saat pembunuhan terjadi. Tapi kemungkinan-kemungkinan itu ada, saya hanya ingin menemukan detil yang saya butuhkan.” Kata Alex dengan nada penuh hormat dan akhirnya mereka pun mematuhi Alex tanpa protes.

Mereka mengelilingi meja dan mengeluarkan semua barang-barang yang mereka bawa, termasuk James, akan tetapi dia hanya membawa telepon genggam, jadi Alex membiarkannya duduk.

Yang pertama Mr. O’Connor mengeluarkan semua yang dia bawa. Dia hanya membawa telepon genggam, dompet, sapu tangan, kotak rokok, dan korek. Mrs. O’Connor membawa telepon genggam, dompet, bedak, dan lipstick di tasnya. Harrington hanya bawa dompet dan telepon genggam. John hanya membawa dompet dan kartu nama, dia bekerja sebagai pengacara. Kim membawa Sapu tangan, telepon genggam, dan sebuah kaca berbentuk lingkaran. Dr. Rosemary membawa telepon genggam, kartu nama , rokok, korek, lipstick, krim pelembab muka. Setelah melihat semua barang-barang tersebut tidak mungkin di pakai membunuh, wajah Alex mengkerut, dia berpikir keras.

“Baiklah, tetap simpan semua barang kalian di situ kecuali telepon genggam, kalian boleh mengambilnya lagi.” Perintah Alex. “Hubungi polisi.” Dia menambahkan.

Lalu Alex berjalan ke arah James yang sedang duduk di dekat perapian, lalu menyuruh mengikutinya kembali ke atas dimana Mr. Bartholomew terbunuh. Sesampainya mereka di ruangan kerja, Alex langsung menutup pintu rapat-rapat, berjalan ke arah mayat Mr. Bartholomew lalu berjongkok, di ikuti James di sebelahnya.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya James

“Aneh. Aku sungguh mendengarnya berteriak ‘untuk apa pisau itu’ tapi kalau dilihat, tidak ada bekas tusukan.” Alex menjelaskan

“Darimana kau tahu? Posisinya kan seperti ini?” Tanya James penasaran

“Kalau benar dia mati karena di tusuk pisau, darah yang keluar—selain lewat mulut juga pasti ada di sekitar tubuhnya, tapi ini darah yang keluar hanya dari mulut. Dan expressi wajanya, sepertinya dia merasa siksaan sebelum mati.” Alex memperjelas

“Mengerikan. Siapa yang tega melakukan ini?!”

“Itu yang akan kita cari tahu, kawan.” Kata Alex sambil berdiri.

Dia berjalan menuju meja kerja yang berada di ruangan tersebut, memakai sarung tangan dan mulai memeriksa. Membuka laci-laci, memeriksa dokumen-dokumen yang tergeletak di atas meja, dan setelah itu dia berjalan kea rah jendela dan membukanya. Kepalanya keluar dan memperhatikan sekitar untuk berbagai kemungkinan. Dia melihat ke bawah lalu bergumam “Sepertinya tidak mungkin.”

Setelah memeriksa kedua jendela, Alex membuat kesimpulan bahwa pembunuhnya tidak masuk dan keluar lewat jendela karena antar lantai sangat tinggi.

“Yang aku bingung, kenapa lubang peluru hanya terpusat di suatu titik?” Tanya James saat dia sedang memperhatikan lubang peluru yang berada di dinding.

“Memang aneh. Itu memberikan asumsi bahwa si pembunuh tidak menghindar saat Mr. Bartholomew menembakan senjatanya. DAN mengapa tembakannya tidak ada yang kena sasaran padahal pembunuhnya diam di tempat?” Alex mengerutkan wajahnya lagi, dia berpikir keras.

“Padahal dia kan pembuu yang hebat.” Kata James. “Kau tidak memeriksa ruangan yang lain?” Tanya James

“Itu urusan polisi. Aku akan menemukan sekecil apapun detil yang ada disini sebelum polisi datang, kau kembali ke aula dan pastikan tidak ada yang menyentuh barang-barang mereka yang berada di meja. Polisi mungkin butuh untuk penyelidikan.” Kata Alex. Lalu James mengangguk dan kembali ke aula.

 

James yang sedang minum sambil duduk sendirian dan berpikir tentang kasus ini, tiba-tiba terganggu oleh seorang wanita yang duduk di sebelahnya, yang tidak lain adalah Dr. Rosemary. Wajah James langsung menjadi merah, dan dia terkadang berharap Dr. Rosemary se-umuran dengannya.

“Bagaimana penyelidikanmu detektif remaja?” Dr. Rosemary bertanya dengan nada bercanda.

“Yah, Begitu saja.” Jawab James dengan malu-malu.

“Katakan James. Apa kau tertarik pada ilmu kedokteran?” Tanya Dr. Rosemary

“Yah, lumayan. Aku belajar banyak tentang ilmu alam dan juga ilmu kedokteran di sekolah.” Jawab James.

“Apa saja yang kau ketahui?”

“Aku tahu beberapa jenis racun misalnya. Aku hafal jenis racun yang dimiliki oleh tumbuhan dan hewan, bahkan aku hafal baunya, karena aku pernah praktek tentang racun. Aku juga pernah diberi contoh racun yang membuat orang ber halusinasi sebelum racun itu menyerang jantung dan membunuhnya.” Jawab James dengan bangga. Mendengar itu Dr. Rosemary langsung kelihatan sangat cemas, wajanya tiba-tiba menjadi pucat. Melihat expresi Dr. Rosemary James langsung bertanya “Kau tiba-tiba kelihatan tegang. Ada apa?”

“Tidak,” Dr. Rosemary menarik nafas panjang dan membuangnya. “Aku anya takut kau menyaingi kecerdasanku saat kau dewasa nanti. Kau hebat.” Kata Dr. Rosemary lalu dia tertawa. Tapi James masih melihat kecemasan di wajahnya.

“Baiklah kalau begitu, aku akan ke toilet sebentar.” Kata Dr. Rosemary sambil beranjak dari tempat duduknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: