New Year Incident (Chapter V)

Written By: Adri Adityo Wisnu

Sekarang sudah jam 4 pagi, dan semua—kecuali Alex—masih berkumpul di aula dan mengobrol, sampai mereka mendengar ketukan dari pintu depan dan James bergegas menuju pintu untuk membukanya. Dari balik pintu James melihat pria yang memakai jaket coklat, rambut hitam yang rapih yang tersenyum pada James. Di belakangnya banyak polisi yang berseragam biru.

“Comissioner Philip” kata nya.

“Silahkan masuk kalau begitu, dan langsung ke lantai dua. Seorang detektif menunggumu disana.” Kata James sambil mempersilahkan para petugas hokum masuk. Sebelum ke atas, Commissioner Philip bersalaman dengan orang-orang yang berada di rumah itu, dan setelah itu dia dan beberapa petugas polisi segera menuju ke tempat pembunuhan terjadi.

“Siapa kau?” Tanya Commissioner Philip saat dia sampai ke ruangan kerja dan melihat Alex sedang duduk di kursi.

“Kenalkan, aku Alex Fiskus. Aku Detektif dan teman dari korban.” Alex menjawab sambil beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju Commissioner Philip dan berjabat tangan.

“Aku belum pernah mendengar namamu?” Tanya Commissioner Philip

“Aku memang tidak begitu terkenal. Setidaknya belum.” Kata Alex, wajahnya tidak menunjukan expresi.

“Baiklah, mari bekerja sama memecahkan kasus ini kalau begitu. Jadi bagaimana penyelidikanmu?”

Lalu Alex menjelaskan waktu kematian, dan semua yang dia dan James sudah selidiki. Sementara Alex menjelaskan pada Commissioner, para polisi mulai mencari barang bukti di ruangan lain di rumah itu, beberapa juga memeriksa barang bawaan yang di bawa para tamu di aula. Seorang petugas menggambar posisi mayat di lantai dengan kapur, lalu dua orang mengangkat mayatnya untuk di bawa, dan di autopsy. Sekarang Alex bisa benar-benar melihat bahwa tidak ada bekas luka tusukan di tubuh mayat! Bebepara petugas yang menyelidiki sidik jari juga hanya menemukan sidik jari di pistol yang di pegang Mr. Bartholomew hanya sidik jari almarhum. Tidak ada sidik jari orang luar maupun para tamu yang berada di sekitar Kantor dan ruangan lain di kantor tersebut.

Alex dan Commissioner Philip sedang mengintrogasi para saksi di ruangan lain saat para petugas kepolisian sedang memeriksa salah satu benda milik Dr. Rosemary di yaitu krim muka, yang berada di aula. Saat itu James sedang memperhatikan mereka.

“Sedang apa kau disini?” Tanya petugas yang sedang memeriksa.

“Aku yang membantu detektif Alex disini.”

“Apa? Kau?” Kata petugas tersebut seraya tertawa.

“Kau bisa tanya detektif Alex saat dia selesai interogasi.”

Tiba-tiba Alex masuk ke dalam ruangan dan bilang kepada petugas “Interogasi urusan Philip. Aku akan diam disini. Dan dia memang benar rekanku, jadi jangan remehkan dia.” Kata Alex sambil berjalan menuju petugas sambil memasukan tangannya ke saku jaketnya.

“Aku yang akan memeriksa barang-barang ini.” Alex melanjutkan. Lalu petugas tersebut member hormat dan pergi. Seperti ada yang member perintah, Alex langsung membuka tutup krim muka milik Dr. Rosemary lalu mengendus cairan kuning kental tersebut. Tidak lama setelah itu, Alex merasa sangat pusing.

“Aku tidak pernah tau ada krim muka yang aromanya membuat pusing.” Kata Alex

“Apa mungkin?” Tanya James, lalu Alex memberikan krim itu kepadanya. James mengendusnya cukup lama, dan tiba-tiba dia tersentak. Wajahnya langsung pucat.

“Ada apa James!” Alex terlihat panik. Lalu James membuka mulut dan berkata “Ini bukan krim. Ini racun!” James berteriak sehingga beberapa petugas menatapnya dengan mencela.

“Apa kau yakin? Bagaimana kau bisa tau?” Gertak Alex sambil memegang pundak James.

“Aku pernah mempelajarinya di kelas, racun ini bisa membuat orang berhalusinasi sebelum menyerang jantung dan membunuhnya.” Kata James sambil gemetar.

“Kalau begitu berarti wanita itu yang melakukan! Tapi apakah kau tahu bagimana cara dia melakukannya?”

Lalu James diam sebentar seraya berpikir keras, lalu dia kembali membuka mulut. “Ya, sebelum aku menemuimu di luar, aku menguping pembicaraan Dr. Rosemary dan Mr. Bartholomew. Kalau tidak salah waktu mereka berjabat tangan, Mr. Bartholomew mengatakan ‘tangan anda berkeringat ya? Padahal udara kan dingin.’ Kira-kira begitu.”

“Berarti maksudmu, Rosemary melumuri racun itu ke tangannya dan memberikannya kepada Bartholomew dengan cara berjabat tangan, lalu mungkin racun masuk ke tubuh saat dia makan sesuatu.” Kata Alex

“Ya dia memang makan sebuah kue, saat dia mau ke ruang kerja. Lalu tidak lama terdengar suara teriakan itu. Menurutku, orang yang membawa pisau itu sebetulnya tidak ada, dan itu cukup menjelaskan kenapa lubang peluru tersebut hanya terdapat di satu titik.” Kata James. Dia bangga karena kasus sudah hamper selesai.

“Bagus! Kau memang hebat! Ikut aku, kita selesaikan semua ini.” Kata Alex bersemangat

 

Alex dan James segera menuju ke ruangan kerja tempat para tamu di interogasi dengan membawa racun tersebut. Alex masuk dengan tangan di saku jaketnya di ikuti dengan James di belakangnya.

“Hentikan interogasinya, saya ingin bicara sebentar kepada semuanya. Temanku ini, James sudah menemukan pelakunya.” Kata Alex dengan tenang

“Apa! Apa benar itu?” Kata Mr. O’Connor tidak percaya.

“betul sekali.” Kata Alex, lalu dia mengeluarkan krim muka yang ternyata adalah racun tersebut. “Ini punyamu kan Dr. Rosemary. Kalau saja tidak ada James disini, aku pasti tidak akan sadar bahwa ini sebetulnya adalah racun!” Semua orang tersentak kaget saat Alex berkata seperti itu.

“Itu racun yang berasal dari getah suatu tumbuhan, aku pernah mempelajarinya. Racun itu bisa membuat orang berhalusinasi sebelum akhirnya mati.” James menjelaskan, sementara yang lain tercengang melihatnya.

“Lalu bagaimana cara Rosemary melakukannya?” Tanya Harringtom kebingungan.

“Aku melihat Dr. dan Mr. Bartholomew sedang mengobrol, dan saat mereka berjabat tangan, Mr. Bartholomew mengatakan bahwa tangan Dr. Rosemary berkeringat, dan dokter bilang dia berkeringat karena banyak orang sehingga udara menjadi panas. Tapi menurutku itu tidak betul, toj yang lain juga tidak berkeringat. Menurutku,” James berhenti sebentar dan kembali bicara dengan suara menggertak “Yang dirasakan oleh Mr. Bartholomew di tangan Dr. Rosemary itu bukan keringat! Tapi racun yang dia lumuri ke tangannya sendiri!”

Semua orang sekali lagi tersentak kaget. “Yah aku sadar, dan memang setelah itu Mr. Bartholomew hanya mengobrol saja tidak makan maupun minum, dan sampai saat itu, di saat dia mngambil sepotong kue sebelum ke ruang kerja nya,” Kata Kim

“Tepat sekali.” James memotong pembicaraan. “Saat itu lah racun bereaksi!” Kata James. Alex yang berdiri di sampingnya tampak tersenyum puas.

“Benarkah itu?” Tanya John sambil menghadap ke Dr. Rosemary yang hanya tertunduk dan matanya tertutup.

Lalu Dr. Rosemary bertepu tangan sangat keras, lalu berkata “Sudah kuduga, kau memang pintar. Peter, seharusnya kau bangga.” Kata Dr. Rosemary dengan nada mencela dan melihat ke arah Mr. O’Connor.

“Makanya kau gelisah saat aku bilang aku hafal macam-macam racun.” Kata James meneruskan.

“ya memang itu sebetulnya. Yang aku takutkan benar-benar terjadi.” Kata Dr. Rosemary dengan nada tenang.

“Kenapa kau melakukan itu Rose? Dia kan sahabat ayahmu? Dia yang suka membantu ayahmu kan?” tanya Mr. O’Connor

“SIAPA BILANG! Kau tidak tahu yang sebenarnya!” Bentak Dr. Rosemary. “Dia yang membuat ayahku meninggal, dia yang membuat perusahaan ayahku bangkrut. Ayah jadi bunuh diri setelah itu. Ibu jadi harus bekerja untuk bertahan hidup, dan aku pun berhenti kuliah.”

“Ya ampun aku tidak menyangka.” Kata Kim sambil mendekap mulutnya karena kaget. “Ya aku memang tahu kalau perusahaan ayahmu bangkrut, tapi yang aku tahu ayahmu meninggal karna sakit.”

“Tidak, dia bunuh diri. Beberapa tahun setelah itu, aku berhasil menjadi dokter dan membuka tempat praktek ku sendiri. Pada suatu hari Bartholomew datang, dan kita bertemu lagi. Tapi yang membuat ku kesal adalah, dia sama sekali tidak merasa bersalah, ataupun menyesal kerna kematian ayahku. Dia malah kelihatan bangga karena kekayaan nya bertambah!” Air mata mulai menetes dari mata Dr. Rosemary. “Ya saat dia mengundangku kesini, aku kira ini lah saat yang tepat.”

“Aku sungguh tidak percaya ini. Sungguh.” Kata Mr. O’Connor

Lalu James dan Alex saling bertatapan dan saling tersenyum, mereka puas karena telah menyelesaikan kasus ini. Lalu Commissioner Philip bersalaman dengan mereka lalu berkata pada yang lain “Mr. dan Mrs. O’Connor, Mr. Harrington, Mrs. Kim, dan Mr. Lexington bleh keluar, sedangkan kau tetap disini.” Katanya sambil menunjuk ke Dr. Rosemary.

“Ayah. Lexington siapa?” Tanya James dengan wajah polos, lalu ada suara di belakangnya yang menjawab “Nama keluargaku.” Ternyata John, yang menjawab sambil tersenyum puas.

Dan setelah itu polisi telah menagkap Dr. Rosemary, sedangkan para orang-orang yang terlibat, akan bersiap-siap untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. James berbicara dengan Alex untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Kau hebat James.” Kata Alex sambil tersenyum

“Ya, kau juga. Bagaimana kalau aku jadi partnermu. Jadi kalau ada kasus lagi, hubungi saja aku!” Kata James, matanya yang hitam memandang Alex seperti memohon.

“Tidak sebelum kamu menyelesaikan sekolahmu, James.” Kata Mr. O’Connor yang secara tiba-tiba berdiri di belakang James tanpa dia sadari dan merangkulnya.

Dan begitulah akhirnya, mereka pun kembali ke rumah. Sedangkan para petugas polisi mengamankan rumah tersebut agar warga sipil tidak ada yang mendekat. Alex Fiskus dan Commissioner Philip pergi untuk membicarakan soal pekerjaan untuk Alex sebagai detektif yang bekerja untuk kepolisian. Sementara itu Dr. Rosemary di bawa ke penjara, dan akan di siding di waktu mendatang.

Di mobil, James dan orang tuanya sedang berbincang tentang kasus yang baru saja selesai.

“Kenapa pelakunya harus dia!” Kata James menyesal.

“Memang sulit di percaya ya.” Kata Mrs. O’Connor

“benar. Perlu aku akui James. Kau hebat sekali. Aku tidak menyangka.” Kata Mr. O’Connor yang duduk di bangku pengemudi dan mengemudikan mobilnya.

“Mungkin memang aku berbakat jadi detektif.” Kata James ambil tertawa

“Aku tidak mengizinkanmu mempunyai pekerjaan yang berhubungan dengan mayat dan criminal!” Kata Mrs. O’Connor tapi tidak tampak keseriusan pada wajahnya.

“Aku tidak peduli. Lalu, bagimana nasib rumah mewah itu?” Tanya James kepada siapapun yang mau menjawab

“Tidak tahu, mungkin di serahkan untuk Negara. Toh Mr. Bartholomew tidak punya keturunan.” Jawab Mr. O’Connor. Dan mobil mereka pun terus melesat melewati kabut ke arah tempat tinggal mereka.

Siapapun yang terlibat, akan mencoba untuk melupakan kasus ini sepanjang hidup mereka. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: